Referensi
Atlas Obscura. Diakses pada Juli 2026. Why Did the Tasmanian Tiger Disappear From Mainland Australia 3,000 Years Ago?
Live Science. Diakses pada Juli 2026. Humans Alone Wiped Out Tasmanian Tiger, Study Says
National Geographic. Diakses pada Juli 2026. The Controversial Quest to Bring Back the Tasmanian Tiger
SBS News. Diakses pada Juli 2026. Mystery Tasmanian Tiger Extinction Likely Caused by Climate Change
The Conversation. Diakses pada Juli 2026. Why did the Tasmanian Tiger Go Extinct? White, L. C., Mitchell, K. J., Austin, J. J., et al. (2017). Ancient mitochondrial genomes reveal the demographic history and phylogeography of the extinct, enigmatic thylacine (Thylacinus cynocephalus). Journal of Biogeography, 45(1), 1–13.
World Atlas. Diakses pada Juli 2026. What Factors Are Blamed For The Extinction Of The Tasmanian Tiger?
Kenapa Harimau Tasmania Bisa Punah? Ternyata Ini Penyebabnya

- Harimau Tasmania adalah marsupial yang punah dalam dua tahap: menghilang dari Australia daratan sekitar 3.600–3.200 tahun lalu, lalu individu terakhir, Benjamin, mati di Hobart Zoo pada 1936.
- Di Australia daratan, perubahan iklim dan kekeringan panjang diduga menurunkan mangsa thylacine; dingo juga menjadi pesaing, tetapi bukan satu-satunya faktor.
- Di Tasmania, perburuan berhadiah, pembukaan lahan, penyakit, serta keragaman genetik rendah menekan populasi yang sudah rentan hingga akhirnya punah.
Harimau Tasmania atau thylacine (Thylacinus cynocephalus) merupakan salah satu hewan punah yang paling terkenal di dunia. Tubuhnya memang sekilas menyerupai anjing dengan belang seperti harimau, tetapi hewan ini sebenarnya adalah marsupial, kelompok mamalia berkantung yang juga mencakup kanguru dan koala.
Lantas, kenapa harimau Tasmania bisa punah? Jawabannya ternyata tidak sesederhana karena diburu manusia. Kepunahan hewan ini merupakan hasil dari beberapa faktor, mulai dari perburuan besar-besaran, hilangnya habitat, penyakit, perubahan iklim, hingga kemungkinan rendahnya keragaman genetik.
1. Harimau Tasmania punah dalam dua tahap
Kisah kepunahan thylacine sebenarnya terjadi dalam dua periode berbeda. Populasinya di daratan Australia dan Papua Nugini menghilang ribuan tahun lebih awal. Para ilmuwan memperkirakan thylacine di daratan Australia punah sekitar 3.600–3.200 tahun lalu.
Sementara itu, populasi terakhirnya bertahan di Tasmania hingga abad ke-20. Individu terakhir yang diketahui, seekor thylacine bernama Benjamin, mati di Hobart Zoo pada 1936. Menariknya, penyebab kepunahan di daratan Australia dan Tasmania tidak sepenuhnya sama.
2. Di daratan Australia, perubahan iklim diduga berperan besar
Selama bertahun-tahun, kemunculan dingo dan aktivitas manusia dianggap sebagai penyebab utama hilangnya thylacine dari daratan Australia. Dingo diketahui tiba di Australia sekitar 4.000–5.000 tahun lalu dan kemungkinan menjadi pesaing bagi thylacine dalam mendapatkan makanan.
Namun, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa perubahan iklim mungkin memiliki pengaruh yang lebih besar daripada yang sebelumnya diperkirakan. Analisis terhadap DNA purba dari puluhan spesimen thylacine menunjukkan adanya hubungan antara penurunan populasinya dan perubahan pola iklim. Fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) diduga menyebabkan periode kekeringan panjang di sejumlah wilayah Australia. (Journal of Biogeography, 2017)
Kekeringan membuat sumber makanan semakin sulit diperoleh. Ketika populasi mangsa menurun, predator seperti thylacine ikut terkena dampaknya. Kondisi ini kemungkinan memperlemah populasi hingga akhirnya menghilang dari daratan Australia. Dingo mungkin tetap menjadi salah satu faktor persaingan, tetapi bukan satu-satunya penyebab.
3. Di Tasmania, perburuan manusia menjadi ancaman terbesar

Berbeda dengan daratan Australia, thylacine masih bertahan di Tasmania. Di sana, dingo tidak ditemukan sehingga thylacine tidak menghadapi persaingan dari predator tersebut. Namun, keadaan berubah setelah kedatangan pemukim Eropa.
Ketika peternakan domba berkembang di Tasmania, para peternak menganggap thylacine sebagai ancaman karena dituduh memangsa ternak. Akibatnya, perburuan terhadap hewan ini semakin gencar.
Pada 1830, Van Diemen's Land Company mulai memberikan hadiah atau bounty bagi orang yang membunuh thylacine. Pemerintah Tasmania kemudian memperkenalkan sistem bounty resmi pada 1888.
Selama puluhan tahun, ribuan thylacine dibunuh. Setidaknya 3.500 ekor diperkirakan mati akibat perburuan berhadiah dan pembantaian oleh peternak antara 1830-an hingga 1920-an. Tekanan tersebut, ditambah pembukaan lahan untuk pertanian dan perubahan habitat, membuat populasi thylacine terus menyusut.
4. Penyakit mungkin mempercepat kepunahannya
Perburuan bukan satu-satunya masalah yang dihadapi thylacine. Pada sekitar 1920-an, muncul laporan mengenai penyakit yang menyebar di antara populasi thylacine. Penyakit tersebut diduga menyerupai distemper dan menyebabkan kematian pada sejumlah hewan yang ditangkap maupun terjebak.
Para ilmuwan masih memperdebatkan seberapa besar pengaruh penyakit tersebut terhadap kepunahan. Bisa jadi penyakit bukan penyebab utama, tetapi muncul ketika populasi sudah sangat kecil dan rentan. Dengan kata lain, penyakit mungkin menjadi pukulan tambahan bagi populasi yang sebelumnya sudah tertekan akibat perburuan dan kehilangan habitat.
5. Apakah thylacine memang sudah rentan sejak dahulu
Ada pula petunjuk bahwa thylacine mungkin memiliki masalah yang jauh lebih tua. Bukti genetik menunjukkan bahwa populasi hewan ini telah mengalami penurunan selama puluhan ribu tahun. Akibatnya, keragaman genetik thylacine menjadi relatif rendah.
Keragaman genetik yang rendah dapat membuat suatu spesies lebih sulit beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan lebih rentan menghadapi penyakit atau tekanan baru. Artinya, ketika manusia mulai memburu thylacine secara besar-besaran, hewan ini mungkin sudah tidak berada dalam kondisi populasi yang benar-benar kuat.
Pada akhirnya, kepunahan thylacine menunjukkan bahwa sebuah spesies tidak harus menghadapi satu ancaman besar untuk menghilang. Beberapa tekanan yang terjadi bersamaan dapat perlahan melemahkan populasi hingga akhirnya tidak mampu bertahan. Meski tidak ada lagi thylacine yang tersisa di alam liar, kisahnya terus menarik perhatian karena menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang bagaimana aktivitas manusia dapat mengubah nasib sebuah spesies.





















