Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Stasiun Kereta Api Dunedin, Landmark Populer di Selandia Baru
Stasiun Kereta Api Dunedin di Dunedin, Selandia Baru. (commons.wikimedia.org/Bernard Spragg. NZ)
  • Stasiun Kereta Api Dunedin dibuka tahun 1906 dengan gaya Flemish Renaissance karya arsitek George Troup, yang dijuluki 'The Gingerbread House' karena desainnya mirip rumah kue jahe.
  • George Troup mendapat gelar kehormatan Knight Bachelor dan CMG atas kontribusinya di bidang arsitektur serta kiprahnya sebagai Wali Kota Wellington pada akhir 1920-an.
  • Bangunan ini memadukan batu basal hitam, kapur putih, granit merah muda, dan mosaik mewah di interiornya; kini difungsikan untuk galeri seni, museum olahraga, dan acara publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pulau Selatan di Selandia Baru memang selalu memukau, salah satunya lewat kota Dunedin. Kalau kamu main ke sini, ada satu tempat yang wajib banget dikunjungi, yakni Stasiun Kereta Api Dunedin. Bukan cuma tempat transit biasa, stasiun ini diklaim sebagai salah satu bangunan yang paling banyak difoto. Bentuknya yang mirip istana ternyata menyimpan banyak cerita sejarah dan arsitektur yang seru buat diulik.

Penasaran apa saja keunikan di balik kemegahannya? Yuk, langsung intip faktanya di bawah ini!

1. Arsitekturnya dijuluki rumah kue jahe

Stasiun Kereta Api Dunedin di Dunedin, Selandia Baru. (commons.wikimedia.org/Antilived)

Stasiun Kereta Api Dunedin resmi dibuka untuk umum pada tanggal 21 Oktober 1906. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek bernama George Troup dengan mengusung gaya Flemish Renaissance. Berkat desainnya yang luar biasa, karya ini langsung menjadi rancangan George Troup yang paling terkenal di dunia.

Karena detail arsitekturnya sangat rumit dan unik, stasiun ini sering dijuluki sebagai The Gingerbread House alias Rumah Kue Jahe. Bentuk bangunannya yang megah memang sekilas terlihat mirip dengan rumah kue. Gara-gara keunikan tersebut, sang arsitek bahkan sampai ikut mendapatkan julukan akrab "George Kue Jahe".

2. Sang arsitek mendapat gelar “ksatria" karena desainnya

Sir George Alexander Troup. (commons.wikimedia.org/Stanley Polkinghorne Andrew)

George Troup dianugerahi gelar Knight Bachelor atas kontribusinya yang luar biasa pada tahun 1937. Sebelum itu, ia juga sempat menerima penghargaan Companion of the Order of St Michael and St George (CMG) dari pemerintah pada tahun 1931. Berbagai apresiasi ini diberikan sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian panjangnya bagi publik Selandia Baru.

Perjalanan kariernya memang sangat mengagumkan, mulai dari menjadi arsitek sekaligus insinyur perkeretaapian nasional hingga membangun infrastruktur sipil. Selain ahli di bidang arsitektur, ia ternyata juga aktif berkecimpung di dunia pemerintahan setempat. Buktinya, ia sempat terpilih dan sukses menjalankan tugasnya sebagai Wali Kota Wellington sejak tahun 1927.

3. Eksterior stasiun berasal dari kombinasi material lokal yang kontras

Eksterior Stasiun Kereta Api Dunedin. (commons.wikimedia.org/Bernard Spragg. NZ)

Kemegahan luar Stasiun Kereta Api Dunedin berasal dari kombinasi bahan bangunan lokal yang warnanya saling kontras. Dinding utamanya dibuat dari batu basal hitam asal Kokonga, lalu dipadukan dengan batu kapur putih Oamaru yang terang di bagian tepinya. Kombinasi unik tersebut menghasilkan pola gelap-terang yang khas dan sangat menarik perhatian.

Di bagian depan, terdapat deretan pilar penyangga cantik yang terbuat dari bahan granit berwarna merah muda. Bagian atapnya sendiri dilapisi oleh genteng terakota asal Marseille Prancis dan dihiasi dengan kubah tembaga yang elegan. Selain itu, ada juga sebuah menara jam setinggi 37 meter di ujung selatan yang bisa terlihat jelas dari pusat kota.

4. Interiornya jauh lebih mewah

Interior Stasiun Kereta Api Dunedin. (commons.wikimedia.org/Pseudopanax)

Jika bagian luarnya saja sudah megah, area dalam Stasiun Kereta Api Dunedin ternyata jauh lebih mewah dan menawan. Lantai aula utama dilapisi oleh hampir 750.000 ubin mosaik Minton yang sempat diperbarui total pada tahun 1965 dengan replika yang sama persis. Uniknya, hamparan ubin tersebut dipasang satu per satu menggunakan tangan hingga membentuk gambar lokomotif kereta yang sangat cantik.

Kemewahan ini makin lengkap dengan adanya hiasan keramik porselen Royal Doulton yang melingkari area balkon di atasnya. Dari balkon tersebut, kamu bisa melihat pemandangan seluruh motif indah yang ada di lantai bawah dengan sangat jelas. Selain aula yang megah, stasiun ini juga punya peron utama sepanjang 480 meter yang sempat dinobatkan sebagai yang terbesar di masanya.

5. Sempat menjadi stasiun tersibuk di selandia baru

Lokomotif kelas DJ3107 di Stasiun Kereta Api Dunedin. (commons.wikimedia.org/nzsteam)

Pada awal abad ke-20, Stasiun Kereta Api Dunedin pernah mencatatkan sejarah sebagai pusat transportasi paling sibuk di Selandia Baru. Setiap harinya ada sekitar 100 kereta yang lalu lalang membawa ribuan penumpang serta berbagai barang berharga. Meski rute kereta jarak jauh sekarang sudah berkurang, bangunan bersejarah ini sama sekali tidak ditelantarkan begitu saja.

Saat ini, stasiun ini dialihfungsikan secara kreatif menjadi rumah bagi galeri seni Otago Art Society dan New Zealand Sports Hall of Fame. Selain masih melayani kereta wisata, lantai atas dan area peronnya aktif digunakan untuk berbagai kegiatan seru masyarakat setempat. Bahkan setiap bulan Maret, peron utamanya disulap menjadi tempat peragaan busana yang diklaim sebagai catwalk terpanjang di dunia.

Itulah berbagai keunikan di balik kemegahan Stasiun Kereta Api Dunedin. Selain punya nilai sejarah yang luar biasa sebagai saksi bisu masa kejayaan transportasi masa lalu, keindahan arsitekturnya yang mirip istana dongeng juga sukses bikin siapa saja terpukau. Nah, kalau kamu berkesempatan main ke Selandia Baru, pastikan jangan sampai melewatkan mahakarya bersejarah yang super cantik ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article