Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Taman Sari, Istana Air yang Terlupakan, Kini Memesona Kembali

5 Fakta Taman Sari, Istana Air yang Terlupakan, Kini Memesona Kembali
Taman Sari (Collectie Wereldmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Taman Sari dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai taman istana megah dengan arsitektur perpaduan Jawa dan Eropa, lengkap dengan kolam, kanal air, serta danau buatan yang menenangkan.
  • Selain tempat rekreasi kerajaan, Taman Sari juga berfungsi sebagai benteng pertahanan strategis dengan tembok tebal, lorong bawah tanah rahasia, dan menara pengintaian Pulo Kenanga untuk memantau musuh.
  • Kompleks ini sempat rusak akibat gempa besar tahun 1867 dan 2006, namun terus direvitalisasi hingga kini menjadi destinasi wisata sejarah yang memancarkan keindahan budaya Yogyakarta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Yogyakarta, sebuah kota yang selalu menawarkan pesona tak berujung, menyimpan banyak cerita di setiap sudutnya. Salah satu permata sejarah yang masih berdiri kokoh dan memikat hati adalah Taman Sari. Bangunan megah ini dulunya merupakan taman istana sekaligus pesanggrahan megah milik Keraton Yogyakarta, sebuah kompleks yang dibangun dengan penuh perencanaan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Dulunya menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan, Taman Sari kini menjelma menjadi destinasi wisata favorit. Kompleks seluas lebih dari 10 hektar ini dulunya dipenuhi 57 bangunan indah yang berfungsi sebagai tempat rekreasi, ibadah, bahkan benteng pertahanan bagi Sultan dan keluarganya. Meskipun telah melewati berbagai peristiwa dan kerusakan, keindahan arsitektur perpaduan budaya Jawa dan Eropa masih sangat terasa, mengundang setiap pengunjung untuk menyelami jejak masa lalu yang menakjubkan.

1. Istana air dengan arsitektur perpaduan dua budaya

Taman Sari
Taman Sari (Nanterjen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Taman Sari seringkali dijuluki sebagai Water Kasteel atau istana air. Julukan ini sangat sesuai, mengingat kompleks ini dihiasi oleh kolam-kolam pemandian, kanal air, serta danau buatan yang luas, dikenal dengan nama segaran. Air menjadi elemen utama yang mendominasi desain taman, menciptakan suasana sejuk dan menenangkan bagi keluarga kerajaan.

Desainnya yang memukau merupakan hasil buah pikir Sri Sultan Hamengku Buwono I. Beliau mempercayakan gambar teknisnya kepada seorang arsitek Portugis yang dijuluki Demang Tegis. Sentuhan arsitektur Eropa terlihat jelas, namun dengan tetap mempertahankan simbol-simbol Jawa yang kuat, menciptakan harmoni budaya yang unik dan tak tertandingi. Konsep perpaduan ini menjadikan Taman Sari sebuah karya arsitektur monumental pada zamannya.

2. Bukan sekadar taman, melainkan benteng pertahanan strategis

Taman Sari
Taman Sari (Crisco 1492, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Di balik keindahannya sebagai tempat bersantai, Taman Sari ternyata memiliki fungsi ganda yang krusial. Sri Sultan Hamengku Buwono I, seorang ahli strategi perang, merancang kompleks ini sebagai benteng pertahanan yang tangguh. Tembok keliling yang tebal dan tinggi, gerbang dengan pos penjagaan, serta bastion atau tulak bala untuk persenjataan menjadi bukti fungsi pertahanan ini.

Selain itu, terdapat sejumlah lorong bawah tanah yang berfungsi sebagai jalur rahasia. Lorong-lorong ini memungkinkan Sultan dan keluarganya untuk bergerak secara tersembunyi, bahkan ada yang konon dapat dialiri air untuk menghalau musuh yang mengejar. Posisi bangunan Pulo Kenanga yang tinggi juga diduga difungsikan sebagai tempat pengintaian strategis untuk memantau kedatangan musuh.

3. Masjid bawah tanah dengan akustik mengagumkan

potret tangga Masjid Sumur Gumuling
potret tangga Masjid Sumur Gumuling (Herusutimbul, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Salah satu bangunan paling ikonik dan penuh misteri di Taman Sari adalah Sumur Gumuling. Bangunan berbentuk melingkar ini dahulu berfungsi sebagai masjid bawah tanah. Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati lorong-lorong serupa labirin yang semakin menambah kesan sakral dan tersembunyi.

Sumur Gumuling memiliki dua lantai; lantai pertama sebagai mihrab dan lantai kedua sebagai tempat wudu. Desainnya yang unik menciptakan akustik alami yang luar biasa, membuat suara khotbah menggema seperti menggunakan pengeras suara tradisional. Konon, desain kedap suara ini sengaja dibuat untuk mendukung kekhidmatan ibadah dan mengelabui penjajah Belanda pada masa itu.

4. Menyimpan mitos lorong gaib ke Pantai Selatan

Taman Sari
Taman Sari (Collectie Wereldmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Seperti halnya banyak bangunan kuno di Jawa, Taman Sari juga diselimuti berbagai mitos yang menarik. Salah satu yang paling populer adalah kepercayaan akan adanya lorong bawah tanah yang konon bisa menembus hingga ke Pantai Selatan. Terowongan ini, seperti Urung-Urung Timur dan Urung-Urung Gumuling, memicu imajinasi masyarakat tentang hubungan mistis antara keraton dan laut selatan.

Mitos lain yang tak kalah melegenda menyebutkan bahwa Sumur Gumuling adalah lokasi pertemuan rahasia antara Sultan Yogyakarta dengan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul. Meskipun kebenarannya masih menjadi misteri, mitos-mitos ini menambah daya tarik spiritual dan magis bagi wisatawan yang berkunjung ke Taman Sari. Bahkan, konon Sri Sultan Hamengku Buwono I sengaja membangun keraton dalam satu sumbu lurus imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton, dan Pantai Parangtritis demi sinergi alam.

5. Saksinya gempa bumi dahsyat

Taman Sari
Taman Sari (Anonymous, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Seiring berjalannya waktu, Taman Sari tidak luput dari gempuran alam. Pada tahun 1867, sebuah gempa bumi besar melanda Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, menyebabkan kerusakan parah pada bangunan-bangunan di kompleks ini. Banyak bagian Taman Sari yang runtuh dan terbengkalai, bahkan sebagian area di antara reruntuhan sempat dijadikan hunian oleh warga sekitar.

Upaya renovasi serius baru dimulai pada tahun 1977 untuk mengembalikan kejayaannya. Namun, cobaan datang kembali pada tahun 2006 ketika gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR sekali lagi meluluhlantakkan sebagian Taman Sari. Meskipun demikian, proses renovasi dan revitalisasi terus dilakukan secara berkelanjutan, dengan harapan situs bersejarah ini dapat terus terjaga dan menceritakan kisahnya kepada generasi mendatang.

Kini, meskipun terhimpit oleh permukiman padat penduduk, Taman Sari tetap memancarkan keagungannya. Kompleks ini menjadi pengingat akan kekayaan sejarah, arsitektur, dan filosofi kehidupan yang diwariskan oleh Kesultanan Yogyakarta, mengajak kita untuk menghargai dan melestarikan warisan budaya yang tak ternilai ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More