5 Fakta Unik Alpine Swift, Burung yang Tidur Sambil Terbang

- Bisa Tidur Sambil Terbang
- Alpine Swift menerapkan tidur setengah otak untuk beristirahat di udara.
- Saat bermigrasi, mereka bisa tidur sambil terbang dengan cukup.
- Hampir Tak Pernah Menyentuh Tanah
- Alpine Swift dapat terbang selama enam bulan berturut-turut tanpa mendarat.
- Mereka melakukan aktivitas sehari-hari di udara, termasuk makan, minum, dan kawin.
- Sayap Panjang untuk Efisiensi Ekstrem
- Rentang sayap
Di dunia burung, ada satu spesies yang hidupnya hampir tak pernah lepas dari langit. Namanya Alpine Swift (Tachymarptis melba), burung migran yang dikenal ekstrem karena mampu terbang tanpa henti selama berbulan-bulan. Saat burung lain harus berhenti untuk beristirahat, Alpine Swift justru makan, minum, bahkan tidur sambil terbang. Gaya hidupnya yang nyaris mustahil ini membuat Alpine Swift menjadi salah satu burung paling menakjubkan di dunia. Berikut deretan fakta unik Alpine Swift yang akan membuatmu memandang langit dengan cara berbeda.
1. Bisa Tidur Sambil Terbang

Alpine Swift dikenal karena kemampuan ekstremnya berupa tidur di udara. Karena burung ini bersifat diurnal, pada saat malam hari, mereka akan naik ke ketinggian tertentu dan melayang sambil beristirahat. Ternyata hal ini ada fakta ilmiahnya juga lho, yang di mana ternyata burung ini menerapkan tidur setengah otak atau disebut juga dengan istilah tidur unihemisferik. Tidur unihemisferik merupakan metode tidur yang di mana satu sisi otaknya tertidur sementara yang lainnya tetap aktif untuk menjaga arah dan keseimbangan. Dengan menerapkan tidur seperti ini, burung migrasi yang sedang melakukan perjalanan panjang dapat beristirahat dengan cukup. Namun memang, burung yang bermigrasi, waktu tidur mereka menjadi lebih sedikit.
2. Hampir Tak Pernah Menyentuh Tanah

Selama masa migrasi, Alpine Swift bisa berbulan-bulan tidak mendarat sama sekali. Bahkan burung ini dapat terbang selama enam bulan berturut-turut. Dikutip dari National Geographic Indonesia, burung Alpine Swift telah didokumentasikan terbang selama 200 hari tanpa berhenti. Maka dari itu, mereka akan melakukan aktivitas sehari-hari di udara, seperti makan, minum, tidur, dan bahkan kawin. Pasti dari kita akan bertanya-tanya bagaimana cara melakukan semua itu di udara?
Makanannya mencakup serangga dan laba-laba. Cara makannya pun terbilang unik, mereka akan menangkap mangsa di udara saat terbang. Apalagi mereka diberkati dengan paruh yang besar yang mampu melakukan manuver menukik cepat untuk memangsa serangga. Mereka juga sangat oportunistik, yang artinya mereka akan memangsa serangga apa pun yang ada di hadapannya. Selain makan, mereka juga akan minum sambil terbang dengan cara menangkap tetesan air hujan atau terbang rendah di atas permukaan air.
Selain itu, mereka juga akan melakukan perkawinan di udara. Ketika musim kawin tiba, burung ini akan melakukan 'pertunjukan udara'. Pertunjukan ini terjadi jika pasangan burung telah terbentuk. Pertunjukan udara bisa terjadi sangat lama, bahkan lebih dari lima menit. Dikutip dari Avibirds, saat pertunjukan udara, mereka dapat terbang hingga 150 meter di atas permukaan tanah, tetapi mereka jarang berkelahi selama 'pertunjukan udara' mereka. FYI, burung ini juga akan membentuk pasangan yang berlaku seumur hidup (monogami), bahkan diketahui bahwa pasangannya berlaku hingga lebih dari 10 tahun. Setelah musim kawin berlalu, mereka akan bertelur dan membangun sarang untuk menyimpan telur. Mereka akan membangun sarang di lubang tebing atau gua yang sesuai.
3. Sayap Panjang untuk Efisiensi Ekstrem

Memiliki ukuran yang lebih besar di antara burung jenis swift lainnya, tetapi tetap ramping dan aerodinamis. Tubuhnya yang berwarna abu-abu kecokelatan gelap dan putih di bawahnya, memiliki ukuran tubuh sekitar 20 hingga 23 cm, dengan lebar sayap sekitar 54 hingga 60 cm. Rentang sayapnya yang cukup panjang dan ramping ini dirancang untuk dapat melayang dalam waktu yang lama dengan konsumsi energi yang sedikit.
Sayapnya ini berbentuk seperti sabit, bentuk sayapnya ini dapat membuatnya sangat efisien dalam menghadapi angin dan arus udara. Selain sayapnya yang di desain untuk efisiensi ekstrem, kakinya pun memiliki fungsi yang tidak kalah penting. Walau mempunyai kaki yang pendek, tetapi mereka merupakan pendaki yang andal. Mereka mampu memanjat dinding tebing hingga ketinggian ideal untuk bisa meluncur dan terbang.
4. Hidup di Ketinggian yang Curam

Burung ini tidak memilih cabang pohon sebagai tempat berkembang biak dan beristirahat. Burung ini justru tinggal di daerah pegunungan yang tinggi, daerah berbatu di tebing laut, hingga di antara bangunan-bangunan di perkotaan. Pilihan ekstrem ini bukan tanpa alasan, tempat-tempat tersebut sangat sulit untuk dijangkau para predator dan berada dekat dengan jalur terbang mereka. Mereka hanya akan hinggap sebentar pada saat musim berbiak tiba untuk bertelur dan merawat anak-anaknya. Setelah itu, mereka akan kembali mengelana di udara.
5. Migrasi Lintas Benua

Burung ini bermigrasi dari benua Eropa selatan, Asia, hingga Afrika di setiap tahunnya. Yang lebih tepatnya mendiami Maroko utara, Eropa selatan, Anatolia, dan Iran barat laut. Di Eropa, burung ini terdapat di Italia, Balkan, Portugal, Bulgaria, Yunani, Semenanjung Iberia, Prancis, Swiss, hingga Jerman. Jika musim dingin telah tiba, burung-burung ini akan bermigrasi ke Afrika sub-Sahara dan sebagian Asia selatan. Mereka kadang-kadang mengunjungi Inggris pada musim semi dan musim gugur. Uniknya, sebagian besar perjalanan migrasi tersebut dilakukan tanpa berhenti selama berbulan-bulan, menjadikannya simbol ketahanan dan adaptasi luar biasa di dunia burung.
Alpine Swift membuktikan bahwa kemampuan adaptasi di alam bisa melampaui batas yang kita bayangkan. Dari tidur di udara hingga hidup berbulan-bulan tanpa mendarat, burung ini adalah contoh nyata betapa luar biasanya strategi bertahan hidup makhluk hidup. Meski jarang disadari keberadaannya, Alpine Swift mengingatkan kita bahwa langit bukan sekadar ruang kosong, melainkan rumah bagi kehidupan yang penuh keajaiban.


















