Nancy Wake, Pejuang Perlawanan Paling Diburu selama Perang Dunia II

Kira-kira siapa pejuang di era Perang Dunia II? Pasti yang kamu bayangkan adalah seorang laki-laki pemberani yang melawan penjajahan Nazi Jerman, kan. Rupanya, salah satu pejuang perlawanan yang paling dikenal sepanjang Perang Dunia II adalah seorang perempuan bernama Nancy Wake.
Nancy Wake merupakan seorang perempuan asal Australia yang pergi dari rumahnya untuk bekerja sebagai jurnalis. Nancy kemudian bergabung dengan Gerakan Perlawanan Prancis untuk menentang Nazi yang sangat gigih selama Perang Dunia II. Nancy mengatakan bahwa dia tidak takut untuk memperjuangkan apa yang menurutnya benar, meskipun tentu saja banyak rintangan berat yang dihadapinya.
Ada kisah-kisah unik dan menarik terkait aksi yang dilakukan Nancy Wake selama perang. Namun, ada juga sisi gelap dalam perlawanannya itu. Seperti yang dia katakan kepada seniman Mick Joffe saat diwawancarai, "Sebelum perang, aku tidak mengenal kekerasan sama sekali. Tapi di tahun-tahun berikutnya, aku menyaksikan perubahan besar. Musuh membuatku tangguh. Aku pun tidak kasihan kepada mereka dan tidak mengharapkan belas kasihan." Perkataan itu ternyata menjadi salah satu mimpi buruk bagi Nazi selama perang. Bagaimana kisahnya?
1. Nancy Wake punya masa kecil yang kelam, ditinggal ayah kandungnya hingga ia melarikan diri dari rumah

Nancy Wake lahir di Wellington, Selandia Baru, pada 30 Agustus 1912. Saat berusia 4 tahun, Nancy pindah ke Australia bersama keluarganya (beberapa sumber menyebutkan di usia 2 tahun). Tidak lama kemudian, ayahnya yang bernama Charles, meninggalkan keluarga mereka. Hal ini membuat ibu Nancy Wake yang bernama Ella, harus menjadi tulang punggung dan membesarkan enam anaknya sendirian. Nancy sendiri adalah anak yang paling bontot.
Lebih parahnya lagi, Charles menjual rumah keluarga atau tempat tinggal mereka satu-satunya tanpa ngasih tahu keluarganya. Alhasil, Ella dan anak-anaknya sulit mencari tempat tinggal di negara asing, yang notabennya orang pendatang. Seperti yang Nancy Wake ceritakan kepada The Telegraph dengan blak-blakan, "Aku sangat menyayangi ayahku. Dia sangat tampan. Tapi dia bajingan."
Keluarganya pun tak lagi harmonis semenjak ayahnya pergi. Ibu dan kakak-kakaknya yang lain sering berseteru. Nancy Wake pun terpaksa melarikan diri di usia 16 tahun. Selama dua tahun kepergiannya dari rumah, ia tinggal dan bekerja dengan nama samaran di Sydney. Meskipun begitu, Nancy kembali ke keluarganya ketika ia dewasa.
Namun, segalanya kembali berantakan ketika bibinya yang tinggal di Selandia Baru meninggal dunia. Bibinya meninggalkan warisan yang diterima Nancy Wake dan dipergunakannya untuk pergi ke luar negeri. Awalnya ia pergi ke Amerika Serikat, tapi ia kemudian ke London dan belajar jurnalistik. Profesi ini membawanya ke Paris pada tahun 1930-an, tepat ketika Nazi mulai berkuasa.
2. Karier Nancy Wake sebagai jurnalis membawanya ke Eropa

Nancy Wake mengaku sangat suka dengan malam yang ramai di Paris, terutama saat ia sedang nyantai. Namun, untuk sampai ke Paris, ia terpaksa bohong, nih. Yap, Nancy awalnya bercerita kepada seorang eksekutif surat kabar Hearst (Hearst Corporation) bahwa ia mengetahui tentang bahasa Mesir kuno. Nah, kebetulan, eksekutif tersebut punya minat khusus pada hal itu.
Namun, Nancy Wake hanya menulis omong kosong di selembar kertas untuk menunjukkan pengetahuannya tentang hieroglif. Eksekutif Hearst itu tertipu. Meskipun begitu, Nancy Wake sempat bekerja di surat kabar tersebut.
Di satu sisi, dalam perjalanan ke Wina, Austria, Nancy Wake melihat Gestapo mengumpulkan orang-orang Yahudi dan dipukuli di depan umum. Dalam beberapa wawancaranya, Nancy mengingatnya sebagai momen penting ketika ia akhirnya menentang rezim Nazi yang mengambil alih Eropa. "Kebencianku terhadap Nazi sangat, sangat dalam," katanya sebagaimana yang dikutip The Washington Post.
Saat Prancis masih berada di bawah kekuasaannya sendiri, Nancy Wake mewawancarai para pengungsi yang melarikan diri dari rezim Nazi yang berkuasa di Jerman dan Austria. Hal ini pun semakin memperkuat tekadnya untuk menetang Nazi. Pada saat yang sama, ia mulai beradaptasi dengan kehidupan Eropa, terutama setelah menikah dengan pengusaha kaya bernama Henri Fiocca pada tahun 1936. Pasangan tersebut tinggal di kota Marseille di Prancis selatan. Namun, pada tahun 1940, Nazi dan sekutu Italia menginvasi Prancis, merebut Paris pada bulan Juni dan memaksa pemerintah Prancis untuk menyerah.
3. Dengan kedatangan Nazi ke Eropa, Nancy Wake bekerja sama dengan Gerakan Perlawanan Prancis

Dengan dikuasainya lebih dari separuh wilayah Prancis oleh Nazi dan berdirinya pemerintahan boneka Vichy di wilayah yang tersisa, Nancy Wake terpaksa berada di wilayah musuh. Namun, hal itu justru semakin memotivasinya, dan ia mulai bekerja dengan jaringan perlawanan setempat sebagai kurir. Kemudian ia mengawal banyak orang melewati wilayah yang dikuasai Nazi menuju tempat yang relatif aman di Spanyol. Orang-orang ini adalah para pengungsi serta tentara Sekutu yang terdampar. Namun, membawa mereka ke tempat aman bukanlah perjalanan sederhana.
Nancy Wake dan rekan-rekannya harus berjalan kaki melewati wilayah musuh. Hal ini tentu saja dibutuhkan tenaga yang prima. Apalagi ditambah serangan dari pasukan Nazi atau Vichy. Setelah mereka berada di Spanyol, pejabat Inggris mengirim mobil dari Barcelona untuk menjemput mereka semua.
Sepanjang perjalanan, Nancy Wake mengandalkan gender dan status sosialnya untuk lolos dari situasi berbahaya. "Seorang perempuan bisa keluar dari banyak masalah yang tidak bisa diatasi oleh seorang laki-laki," kenangnya seperti yang dikutip The New York Times. Dia mengubah seksisme itu menjadi keuntungannya, bahkan menggunakan penampilannya untuk memikat petugas di pos pemeriksaan saat mengantarkan dokumen-dokumen penting.
4. Nancy Wake diburu setelah ketahuan membantu Gerakan Perlawanan Prancis

Pada suatu titik, Gestapo menyadari bahwa ada seorang anggota perlawanan yang sedang menyamar. Namun, mereka tidak yakin betul siapa orang itu. Meskipun demikian, mereka sadar kalau orang tersebut punya kemampuan luar biasa untuk lolos dari situasi sulit. Mungkin saja seorang perempuan, tebak Gestapo
Gestapo akhirnya memberi julukan agen yang masih belum teridentifikasi itu sebagai The White Mouse. Situasi semakin tegang ketika Gestapo menjanjikan hadiah 5 juta franc untuk menangkap perempuan misterius itu. Nah, hadiah itu sendiri setara dengan 157 juta dolar AS atau Rp2,6 triliun.
Nancy Wake akhirnya mendapat informasi dari seorang pemilik kafe yang ramah. Pemilik kafe ini bilang kalau Nancy sedang diburu. Meskipun enggan meninggalkan suaminya, Nancy tahu kalau situasinya sudah sangat genting.
Namun, pelariannya melewati Pyrenees bukanlah perjalanan yang mudah. Perjalanan Nancy Wake beberapa kali terhalang oleh cuaca buruk. Ia pun sempat ditahan oleh otoritas Vichy.
Mereka menginterogasi Nancy Wake selama berjam-jam. Seperti yang Nancy tulis dalam memoarnya yang berjudul The White Mouse, ia akhirnya diselamatkan oleh seorang rekan pejuang perlawanan yang mengaku sebagai kekasihnya. Bahkan setelah itu, Nancy masih harus berjuang untuk menyeberangi perbatasan yang dijaga ketat, berjalan di malam hari, menghadapi infeksi penyakit kulit dan badai salju yang menghambat perjalanannya menuju tempat aman. Di satu sisi, otoritas Spanyol menahan kelompok Nancy Wake lagi. Namun, Nancy mengaku sebagai warga Amerika, sampai akhirnya pasukan Inggris menjemputnya.
5. Nancy Wake bergabung dengan unit khusus Inggris

Setelah melarikan diri dari Prancis pada tahun 1943, Nancy Wake meninggalkan Spanyol dan akhirnya tiba di Inggris. Namun, ia tidak berniat untuk tinggal di sana selama perang berlangsung. Nancy Wake justru bergabung dengan Special Operations Executive (S.O.E.), sebuah organisasi sabotase dan spionase yang didirikan pada tahun 1940.
Awalnya, Nancy Wake ingin bergabung dengan kelompok perlawanan Prancis Merdeka yang dipimpin oleh Charles de Gaulle. Namun, ia ditolak. Nancy pun kesulitan bergabung ke S.O.E., setidaknya sampai dia berbicara langsung dengan pemimpin divisi organisasi Prancis tersebut. Dokumen dari masa itu menunjukkan bahwa para pejabat S.O.E. akhirnya percaya bahwa Nancy cocok untuk menjadi agen rahasia. Yap, ini berkat tekad, humor, dan karismanya.
Namun, Nancy Wake tidak mau mengandalkan pesonanya saja. Selama pelatihan S.O.E., ia juga menunjukkan keterampilan menembaknya dan kemauannya untuk bertempur jarak dekat. Nah, pelatihan tersebut mengharuskannya untuk meninju meja. Pelatihan ini berguna ketika menghadapi tentara Jerman.
Kesempatan itu datang ketika Nancy Wake menjadi bagian dari tim S.O.E. yang terjun payung ke Prancis saat negara itu dikuasai Nazi pada April 1944. Misi mereka adalah untuk memperkuat Gerakan Perlawanan dan menghambat Nazi menjelang invasi D-Day yang direncanakan pada bulan Juni.
6. Nancy Wake mengaku pernah membunuh musuh

Saat bekerja sebagai anggota kelompok Perlawanan Prancis yang dikenal sebagai Maquis, Nancy Wake benar-benar berjuang di tengah perang brutal yang sedang berlangsung. Apalagi ia menjadi kelompok pejuang yang harus merahasiakan identitasnya. Jadi bukan rahasia lagi jika nyawa adalah taruhannya.
Nancy Wake mengakui bahwa dia tidak setuju dengan pembunuhan. Namun, dia harus melakukan segala cara untuk bertahan hidup. Nancy mengaku pernah melumpuhkan seorang penjaga Jerman di sebuah pabrik senjata, menggunakan tangan kosong untuk melawan musuh, keterampilan yang dia pelajari dalam pelatihan S.O.E. Seperti yang dia katakan kepada The Australian, "Ini adalah satu-satunya keterampilan yang aku gunakan untuk memukul orang, dan itu membuat orang tersebut terbunuh. Aku benar-benar terkejut."
Dalam insiden ini, Nancy Wake mengaku telah menangkap tiga perempuan Prancis yang diyakini sebagai mata-mata Nazi. Setelah menginterogasi mereka, Nancy membebaskan dua orang dan membiarkan satu perempuan lagi dieksekusi karena dianggap sebagai pengkhianat. "Aku bukanlah orang yang baik," kata Nancy Wake tentang pengalaman tersebut. "Namun, dia meninggal dengan mudah. Dia tidak menderita. Aku tahu kematiannya jauh lebih baik daripada kematian yang akan aku alami," katanya seperti yang dicatat The New York Times.
7. Nancy Wake mengaku pernah menyerang markas Jerman

Selama bekerja dengan Maquis, Nancy Wake bertanggung jawab mengatur pengiriman senjata melalui udara oleh Sekutu dan mendistribusikan senjata serta perbekalan lainnya di antara para pejuang Perlawanan. Namun, ia juga pernah terlibat langsung dalam aksi tersebut, seperti ketika ia berpartisipasi dalam serangan terhadap markas besar Jerman di Montluçon. Nancy Wake bilang kalau selama serangan ini, ia melemparkan granat ke dalam gedung, dan berhasil melarikan diri sebelum granat itu meledak.
Nancy Wake juga pernah mengirimkan perbekalan di tengah pertempuran sengit antara Maquis dan Jerman. Sebuah pesawat pengintai bahkan menembak kendaraannya setelah beberapa kali melakukan pengiriman. Namun, cerita ini diragukan atau dianggap terlalu dilebih-lebihkan.
8. Nancy Wake memanfaatkan dan melawan stereotip gender

Sebelum terpaksa melarikan diri dari Prancis, Nancy Wake menyadari bahwa gendernya bisa menjadi aset bagi pekerjaannya di Gerakan Perlawanan Prancis. "Saya melihat seorang perwira Jerman di kereta atau di suatu tempat, kadang-kadang berpakaian sipil, mereka bisa dikenali dengan mudah," katanya kepada The Australian. "Jadi, alih-alih menimbulkan kecurigaan, aku akan menggoda mereka, meminta korek api dan mengatakan korek apiku kehabisan bahan bakar." Nah, taktik tersebut bisa meredakan kecurigaan, meskipun keberuntungan dan kecerdasan Nancy Wake itu hanya bertahan untuk sementara waktu.
Pada tahun 1944, setelah terjun langsung ke Prancis yang sedang diduduki musuh, Nancy Wake tersangkut di pohon setelah terjun payung ke wilayah tersebut. Pemimpin perlawanan Henri Tardivat akhirnya menemukannya dan berhasil di selamatkan.
9. Nancy Wake bersepeda ratusan kilometer demi memperbaiki komunikasi yang terputus

Terlepas dari semua drama perang dan kejadian-kejadian menarik dalam kisahnya, salah satu prestasi Nancy Wake yang paling terkenal selama masa perang adalah bersepeda. Namun, ini bukan bersepeda santai di taman, ya. Setelah serangan Jerman merusak peralatan komunikasi bagi upaya Perlawanan, Nancy Wake memperbaiki kembali kontak dan menjaga agar pesan tetap berjalan. Selama tiga hari, ia bersepeda sejauh 500 kilometer (sekitar 310 mil) melewati wilayah musuh. Nancy bahkan sampai tidur di tumpukan jerami dan tempat-tempat terpencil agar tak ditangkap.
Dalam memoarnya, The White Mouse, Nancy Wake menceritakan rasa sakit yang dideritanya karena terus mengayuh sepeda berkilo-kilo meter. Saat kembali ke tempat yang aman, rekan-rekannya menyambutnya dengan gembira, tetapi reaksi Nancy justru berbeda. "Aku menangis," katanya kepada The Australian. "Aku tidak bisa berdiri, aku tidak bisa duduk. Aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku hanya menangis." Namun, terlepas dari semua itu, Nancy Wake berhasil membuka kembali komunikasi dengan Sekutu.
10. Medali-medali yang didapat Nancy Wake, ia jual untuk biaya kehidupannya

Setelah perang, Nancy Wake berusaha sebaik mungkin untuk menjadi warga sipil biasa. Baru pada saat itulah ia mengetahui kalau suaminya di bunuh oleh Gestapo, yang membuatnya patah hati hingga usia senja. Namun, ia menikah lagi dan kembali ke Australia. Tak hanya itu, Nancy beberapa kali mencalonkan diri untuk jabatan politik, meskipun tidak pernah berhasil memenangkan pemilihan.
Nancy Wake menerima banyak medali dan penghargaan setelah perang, seperti Croix de Guerre dari Prancis, Medaille de la Resistance, dan menjadi Chevalier de Legion d'Honneur. Sementara itu, AS memberinya Medal of Freedom dan Inggris memberinya George Medal. Namun, Australia menunda-nunda pemberian penghargaan kepadanya, mungkin karena ia bukan warga negara Australia. Baru pada tahun 2004, Australia akhirnya memberinya gelar Companion of the Order of Australia.
Namun, Nancy Wake tidak terlalu antusias dengan medali-medali tersebut. Pada tahun 90-an, ia menjual sebagian besar koleksi medalinya seharga 156.000 juta dolar atau setara dengan Rp2,6 triliun, yang ia gunakan untuk biaya hidupnya. Namun, saat Australia secara resmi memberikan penghormatan kepadanya, Nancy Wake pindah ke Inggris. Nah, alasan ia menjual medalinya juga agak mengejutkan. "Tidak ada gunanya menyimpannya. Aku mungkin akan masuk neraka dan koleksi itu akan meleleh juga," sebagaimana yang dikutip The Guardian.
11. Biaya hidup Nancy Wake ditanggung Pangeran Charles

Pada tahun 2001, Nancy Wake pindah dari Australia ke London, dan tinggal di Hotel Stafford untuk menghabiskan sisa hidupnya di sana. Ia pun menjadi sosok yang dikenal luas. Meskipun uangnya habis, manajemen hotel tidak pernah mengusirnya, mungkin karena Pangeran Charles (jauh sebelum Raja Charles III) setuju untuk membiayai hidupnya. Namun, Nancy Wake sendiri tidak pernah mengemis bantuan kepada Pangeran Charles. Kendati begitu, Nancy mengaku mengaguminya setelah berkunjung ke Istana St. James.
Sayangnya, pada tahun 2003, Nancy Wake mengalami serangan jantung dan ia pindah ke panti jompo Royal Star & Garter. Biaya hidup Nancy pun ditanggung oleh pemerintah Australia. Ia tetap tinggal di sana hingga tahun 2011, ketika ia meninggal pada usia 98 tahun.
Dua tahun kemudian, sesuai permintaan Nancy Wake sendiri, abunya disebar di dekat desa Verneix, Prancis. Wilayah ini tempat Nancy bertugas selama masa perang. Sesuai arahannya juga, mereka yang hadir dalam upacara tersebut kemudian pergi ke kantor walikota untuk pesta, lengkap dengan minuman kesukaannya.
Semangat dan perjuangan Nancy Wake selama Perang Dunia II memang patut diacungi jempol. Ia merupakan perempuan tangguh yang mementingkan nyawa banyak orang. Semoga ceritanya menginspirasi kamu, ya, para perempuan tangguh.

















