Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Unik Cheomseongdae, Observatorium Astronomi Tertua di Asia Timur!

5 Fakta Unik Cheomseongdae, Observatorium Astronomi Tertua di Asia Timur!
Potret Cheomseongdae (pixabay.com/sonharam0)
Intinya Sih
  • Cheomseongdae dibangun pada masa Ratu Seondeok sekitar abad ke-7 sebagai observatorium astronomi, menunjukkan kemajuan ilmu pengetahuan Kerajaan Silla dalam memahami pergerakan benda langit.
  • Menara ini tersusun dari 365 batu granit dan 27 lapisan yang sarat makna simbolis, mencerminkan kalender lunar serta posisi Ratu Seondeok sebagai penguasa ke-27 Silla.
  • Berada di Gyeongju, kota berjulukan 'museum tanpa dinding', Cheomseongdae kini menjadi bagian Situs Warisan Dunia UNESCO dan destinasi wisata sejarah populer Korea Selatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di tengah lanskap bersejarah Kota Gyeongju, berdiri sebuah menara batu tua yang diam-diam menyimpan kisah panjang mengenai langit dan peradaban. Bangunan bernama Cheomseongdae ini telah bertahan lebih dari seribu tahun sejak era Kerajaan Silla. Bentuknya memang sederhana, cuma berupa susunan batu menyerupai botol besar. Namun, nilai sejarahnya bikin sejumlah arkeolog dan peneliti terpikat.

Cheomseongdae bukan sekadar peninggalan kuno yang dipotret wisatawan lalu dilupakan. Menara ini memperlihatkan betapa majunya ilmu astronomi masyarakat Korea pada abad ke-7. Nah, berikut lima fakta unik Cheomseongdae yang wajib kamu simak!

1. Dibangun pada masa ratu pertama Korea

Potret Cheomseongdae
Potret Cheomseongdae (unsplash.com/Elizabeth Cho)

Cheomseongdae didirikan pada masa pemerintahan Ratu Seondeok sekitar tahun 632–647 Masehi. Sosok sang ratu terkenal cerdas dan memiliki ketertarikan besar terhadap ilmu pengetahuan, terutama astronomi. Di era itu, pengamatan langit dinilai penting karena berkaitan dengan pertanian, cuaca, sampai stabilitas kerajaan.

Menariknya, Cheomseongdae lahir jauh sebelum banyak observatorium terkenal di kawasan Asia Timur berdiri. Fakta yang menunjukkan bahwa Kerajaan Silla sudah mempelajari pergerakan benda langit dengan cukup serius. Pengetahuan astronomi saat itu dipakai dalam penyusunan kalender serta membaca pergantian musim.

2. Jumlah batunya punya makna tersembunyi

Potret Cheomseongdae
Potret Cheomseongdae (commons.wikimedia.org/Bernard Gagnon)

Dilansir Visit Korea, Cheomseongdae tersusun dari 365 batu granit yang melambangkan jumlah hari dalam kalender lunar. Angka itu dikaitkan dengan sistem penanggalan tradisional Asia Timur pada masa lampau. Tata susun bangunannya pun dirancang penuh makna, bukan hanya tumpukan batu biasa. Struktur tersebut terdiri atas 27 lapisan yang dipercaya merepresentasikan Ratu Seondeok sebagai penguasa ke-27 Silla.

Di bagian tengah menara terdapat sebuah bukaan kecil yang diduga digunakan sebagai jalur masuk dengan bantuan tangga. Lewat celah itu, para pengamat kemungkinan naik ke area atas guna memantau pergerakan bintang dan benda langit lainnya. Bentuk silinder Cheomseongdae turut memberi keseimbangan pada susunan batunya.

3. Lokasinya berada di “museum tanpa dinding”

Potret Cheomseongdae di Gyeongju
Potret Cheomseongdae di Gyeongju (pexels.com/Jueon Kim)

Cheomseongdae terletak di Gyeongju, kota yang kerap dijuluki “museum tanpa dinding.” Julukan itu muncul sebab hampir seluruh sudut kota dipenuhi situs peninggalan Kerajaan Silla. Mulai dari makam kuno, kuil Buddha, hingga reruntuhan istana tersebar di berbagai tempat.

Keberadaan Cheomseongdae ikut memperkaya citra Gyeongju sebagai pusat budaya Korea kuno. Pada malam hari, area di sekitar observatorium tampak cantik berkat pencahayaan lembut yang menyorot susunan batunya. Banyak wisatawan sengaja datang menjelang senja demi menikmati atmosfer klasik itu. Tidak sedikit pula fotografer berburu siluet menara dengan latar langit malam.

4. Bentuknya mirip botol susu

Potret Cheomseongdae
Potret Cheomseongdae (pixabay.com/lynthia)

Jika diperhatikan sekilas, bentuk Cheomseongdae terlihat unik lantaran menyerupai botol susu. Bagian bawahnya melebar, kemudian mengecil di tengah sebelum kembali membulat pada sisi atas. Desain semacam ini diperkirakan membantu bangunan tetap kokoh menghadapi gempa ringan dan perubahan cuaca ekstrem.

Tinggi menara Cheomseongdae adalah 9,17 meter dengan diameter dasar hampir 5 meter. Batu-batu granit yang dipakai juga disusun tanpa mortar modern. Hebatnya lagi, struktur tersebut masih berdiri tegak setelah melewati lebih dari 1.300 tahun.

5. Kini masuk daftar warisan dunia UNESCO

Potret Cheomseongdae
Potret Cheomseongdae (pexels.com/정규송 Nui MALAMA)

Cheomseongdae termasuk bagian dari kawasan bersejarah Gyeongju yang tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2000. Pengakuan itu diberikan karena wilayah tersebut menyimpan banyak peninggalan berharga dari Kerajaan Silla. Bagi Korea Selatan, Cheomseongdae dianggap simbol kemajuan ilmu pengetahuan masa kuno. Nilai historisnya senantiasa dijaga melalui konservasi dan penelitian rutin.

Sekarang, Cheomseongdae menjadi destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara. Banyak pelajar datang untuk mempelajari astronomi tradisional Korea secara langsung. Di musim semi, kawasan sekitar Cheomseongdae makin cantik berkat hamparan bunga yang bermekaran. Kombinasi sejarah, arsitektur, serta suasana kota tua bikin tempat ini sulit dilupakan.

Cheomseongdae memang tidak setinggi gedung modern atau semegah observatorium masa kini. Tetapi, ia menyimpan cerita besar tentang rasa ingin tahu manusia terhadap langit. Tidak heran, bila situs ini terus mengundang perhatian para peneliti dan wisatawan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Related Articles

See More