Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Sisi Humanis Albert Einstein, Gak Cuma Soal Rumus Fisika!
Albert Einsten (Archivo General de la Nación, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Albert Einstein dikenal bukan hanya karena teori relativitasnya, tapi juga sisi humanisnya yang hangat, penuh humor, dan peduli terhadap sesama makhluk hidup di luar dunia sains.
  • Ia menyalurkan kepekaan emosionalnya lewat musik dan berlayar, dua hobi yang menjadi pelarian dari rutinitas ilmiah meski ia bahkan tidak bisa berenang.
  • Einstein aktif melawan rasisme, membantu pengungsi perang, serta konsisten memperjuangkan perdamaian dunia dengan menggunakan ketenarannya untuk membela nilai kemanusiaan universal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang pasti langsung teringat pada rumus ikonis E=mc² ketika mendengar nama besar Albert Einstein. Fisikawan kelahiran Jerman ini memang selalu identik dengan teori relativitas yang sukses merombak tatanan sains modern pada abad ke-20. Rambut putih acak-acakan dan gaya bicaranya yang serius selalu menjadi ciri khas utama peraih Hadiah Nobel Fisika ini. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kerja demi memecahkan berbagai misteri alam semesta yang sangat rumit.

Di balik citranya sebagai ilmuwan jenius yang kaku, tokoh revolusioner ini nyatanya memiliki kehidupan personal yang jauh dari kata membosankan. Berbagai catatan sejarah perlahan mengungkap bahwa ia adalah sosok pria yang hangat dan penuh canda tawa di luar laboratorium. Sisi lain dari sang fisikawan ini membuktikan keberadaan empati mendalam terhadap sesama makhluk hidup. Ia bukanlah sekadar mesin pemikir abadi, melainkan manusia biasa yang punya banyak hobi dan sangat peduli pada isu sosial di sekitarnya.

1. Einstein menjadikan musik sebagai jalan ninjanya

ilustrasi bermain biola (pexels.com/Clem Onojeghuo)

Kecintaan Einstein pada dunia musik rupanya tidak kalah besar dari gairahnya terhadap sains murni. Ia sudah mulai belajar bermain biola sejak masih berusia lima tahun. Namun, ketertarikannya baru benar-benar muncul saat ia menginjak usia 13 tahun. Semuanya berubah pesat setelah ia menemukan dan mendengarkan karya sonata Mozart yang indah. Dilansir Business Insider, musik buatan Mozart dianggapnya sebagai cerminan keindahan alam semesta yang amat murni.

Biola kesayangannya bahkan diberi nama panggilan yang super unik, yakni Lina. Alat musik klasik ini hampir selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Ia sering memainkannya perlahan saat sedang mencari inspirasi segar untuk pekerjaannya. Dilansir Furtados School of Music, sang fisikawan kerap bermain biola atau piano ketika mengalami kebuntuan dalam merumuskan teori. Baginya, hidup normal tanpa bermain musik adalah sebuah hal yang mustahil untuk dibayangkan.

2. Ia sangat mencintai hobi berlayar walau tidak bisa berenang

ilustrasi perahu layar (pexels.com/Inge Wallumrød)

Aktivitas santai di luar ruangan menjadi cara jitu sang jenius untuk melepas penat. Rutinitas penelitian yang padat membuatnya butuh waktu untuk bernapas sejenak. Ia diketahui sangat menyukai kegiatan berlayar sejak masih menetap di Swiss. Hobi asyik ini terus berlanjut ketika ia sudah pindah ke Amerika Serikat. Dilansir Einstein Website, ia bahkan rela membeli perahu layar sendiri yang kemudian diberi nama Tinnef.

Ada sebuah fakta mengejutkan di balik hobi airnya yang satu ini. Ilmuwan sehebat dirinya ternyata sama sekali tidak punya kemampuan berenang. Ia juga kerap nekat menolak menggunakan jaket pelampung saat sedang asyik berlayar sendirian. Kebiasaan ekstrem ini sering kali membuat keluarga dan kerabat terdekatnya merasa sangat panik. Kendati demikian, ia tetap santai berlayar karena keheningan laut selalu berhasil memberinya ketenangan batin.

3. Sang ilmuwan menentang keras penyakit rasisme di lingkungan sosialnya

potret Albert Einsten bersama komunitas ilmuwan (commons.wikimedia.org/Smithsonian Institution)

Kepedulian Einstein terhadap berbagai isu sosial masa itu tidak perlu diragukan lagi. Ia adalah salah satu tokoh kulit putih yang paling berani mengkritik praktik diskriminasi rasial. Sikap tegas ini semakin terlihat saat ia memutuskan pindah dan menetap di Amerika Serikat. Pengalaman pribadinya sebagai korban anti-Semitisme membuatnya sangat peka terhadap penderitaan kelompok minoritas. Dilansir International Rescue Committee (IRC), ia dengan lantang menyebut rasisme sebagai penyakit paling buruk yang menjangkiti Amerika.

Tokoh cerdas ini tidak sekadar beretorika kosong di hadapan corong publik. Sang fisikawan secara aktif menjalin persahabatan erat dengan para aktivis hak asasi manusia. Ia terus berkolaborasi bersama mereka untuk menyuarakan kampanye kesetaraan hak sipil bagi semua golongan. Ia sama sekali tidak segan menggunakan ketenarannya untuk membela kelompok pinggiran yang tertindas. Keberaniannya menyuarakan isu sensitif ini membuktikan bahwa nuraninya bekerja sebaik dan setajam otaknya.

4. Ia menggunakan pengaruhnya untuk membantu para pengungsi perang

potret Albert Einsten bersama istrinya, Elsa Einsten (Los Angeles Times, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Sejarah mencatat bahwa Einstein pada dasarnya juga merupakan seorang pengungsi politik. Ia terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya, Jerman, pada sekitar tahun 1933 silam. Kebangkitan rezim tiran Nazi membuatnya kehilangan banyak hak sipil secara sepihak. Ia bahkan dilarang mengajar dan beraktivitas secara bebas di akademi sains Berlin. Dilansir International Rescue Committee (IRC), pengalaman pahit ini mendorongnya mencari suaka ke Amerika Serikat sekaligus membantu sesama pengungsi.

Pada masa itu, belum banyak lembaga bantuan resmi yang bisa diandalkan oleh masyarakat. Ia dan istrinya akhirnya memutuskan untuk turun tangan langsung mengurus aplikasi visa bagi orang Yahudi Jerman. Ia rela mempertaruhkan uang dan reputasinya sebagai jaminan agar mereka bisa lolos dari ancaman maut. Pada bulan Juli 1933, ia juga ikut mendorong pembentukan sebuah komite bantuan internasional. Komite bersejarah inilah yang kini diakui dunia sebagai International Rescue Committee (IRC).

5. Einstein konsisten memperjuangkan perdamaian dunia semasa hidupnya

Albert Einsten (Associated Press, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Prinsip pasifisme rupanya sudah mendarah daging dalam keseharian pencetus teori relativitas ini. Ia sangat menentang peperangan, kekejaman, dan pembunuhan massal yang dinilai sangat tidak manusiawi. Selama puluhan tahun, ia tidak pernah lelah mengkampanyekan pentingnya resolusi konflik dunia secara damai. Dilansir Utne, ia berulang kali mengingatkan para ilmuwan sedunia mengenai tanggung jawab moral mereka. Ia menuntut agar setiap penemuan teknologi baru selalu dipakai demi kedamaian, bukan untuk menciptakan mesin penghancur.

Dedikasi sang ilmuwan terhadap nilai-nilai kemanusiaan justru semakin memuncak di akhir usia senjanya. Ia bersuara sangat keras menentang perlombaan senjata nuklir yang terjadi antarnegara besar. Senjata berbahaya tersebut dinilai hanya akan membawa peradaban manusia menuju jurang kehancuran total. Ia pun ikut merumuskan dan menandatangani deklarasi untuk pemusnahan massal senjata berdaya ledak tinggi tersebut. Warisan pemikiran humanis ini membuat sosoknya selalu dikenang sebagai pahlawan perdamaian yang sejati.

Mengenal sosok Albert Einstein dari kacamata humanis sukses memberikan kita perspektif baru yang sangat menyegarkan. Sang legenda sains ini membuktikan secara nyata bahwa kecerdasan intelektual akan terasa lebih bermakna jika disandingkan dengan kepekaan sosial. Kisah hidupnya yang penuh warna bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memanusiakan manusia di masa kini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team