Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Cara Unik dan Nyeleneh Burung dalam Mempertahankan Wilayahnya

5 Cara Unik dan Nyeleneh Burung dalam Mempertahankan Wilayahnya
ilustrasi cara burung mempertahankan wilayahnya (unsplash.com/Jan Meeus)
Intinya Sih
  • Burung memiliki berbagai strategi unik mempertahankan wilayah, mulai dari kicauan subuh, tarian visual, hingga membangun pondokan megah sebagai simbol kekuasaan dan daya tarik bagi betina.
  • Beberapa spesies seperti cendrawasih dan namdur menggunakan keindahan fisik serta kreativitas dekorasi untuk menegaskan dominasi tanpa harus bertarung secara fisik.
  • Taktik ekstrem seperti mobbing massal dan muntahan asam turkey vulture menunjukkan bahwa pertahanan burung bisa melibatkan kerja sama kelompok maupun senjata biologis yang efektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Di alam liar, mempertahankan sutau wilayah bukan sekadar soal adu kekuatan, tapi juga insting alami hewan yang juga melibatkan kreativitas. Burung sebagai hewan unggas yang memiliki kemampuan terbang, dianggap hanya mengandalkan kicauan merdu, ternyata mereka punya cara yang tak biasa bahkan nyeleneh demi menjaga teritorinya dari penyusup. Mulai dari tarian aneh, hingga perilaku yang bikin geleng-geleng kepala, semua dilakukan untuk satu tujuan mempertahankan kekuasaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia satwa menyimpan strategi bertahan hidup yang jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Beberapa spesies burung bahkan mengembangkan teknik yang terkesan “di luar nalar” manusia, tapi justru efektif di habitatnya. Lalu, apa saja cara unik dan nyeleneh yang dilakukan burung untuk menjaga wilayahnya? Berikut lima di antaranya yang dijamin bikin kamu takjub sekaligus heran!

1. Konser dawn chorus, kicauan burung di waktu subuh

ilustrasi kicauan burung di subuh hari (unsplash.com/Ross Clelland)
ilustrasi kicauan burung di subuh hari (unsplash.com/Ross Clelland)

Dawn chorus atau kicauan subuh burung bukan sekedar iseng burung yang sedang bernyanyi, melainkan salah satu strategi mereka untuk bertahan hidup di dunia satwa. Dilansir laman Royal Society for the Protection of Birds (RSPB), saat musim semi tiba, para burung jantan akan berkicau sekencang-kencangnya sejak subuh dengan dua tujuan utama. Pertama, memikat hati betina dan memasang pagar gaib alias alarm penegas batas wilayah. Kedua, kicauan lantang ini menjadi bukti fisik mereka untuk rival bahwa si pemilik wilayah berhasil selamat melewati malam yang dingin dan masih memiliki energi serta stamina yang prima untuk mempertahankan wilayahnya.

Menariknya, burung sengaja memilih waktu subuh bukan tanpa alasan ilmiah. Di pagi buta, kondisi cahaya yang masih remang-remang sehingga sangat sulit bagi mereka untuk mencari makan seperti serangga atau biji-bijian. Alih-alih membuang waktu, mereka memanfaatkan momen ini untuk berkicau karena atmosfer udara di pagi hari cenderung sangat tenang dan minim angin. Kondisi sunyi inilah yang membuat kicauan mereka bisa merambat hingga 20 kali lebih jauh dibandingkan pada waktu lainnya.

2. Tarian dan pamer bulu, visual displays

burung cendrawasih (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)
burung cendrawasih (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)

Salah satu spesies burung yang melakukan hal ini adalah burung cendrawasih atau dikenal sebagai Birds of Paradise. Spesies ini berada di Papua dan Papua Nugini. Cendrawasih sangat terkenal karena keindahan bulunya terutama jantan yang berwarna-warni mulai dari kuning terang, biru elektrik, hingga merah menyala. Dengan berbagai hiasan bulu yang unik seperti mahkota, selendang, hingga bulu panjang mirip antenna, penampilan fisik atau visual displays mereka berhasil dinobatkan sebagai burung paling indah sekaligus unik di bumi.

Namun, keindahan fisik tersebut bukan hanya sebagai pajangan di habitatnya. Keindahan fisik menjadi senjata utama bagi pejantan untuk memikat betina yang sangat kompetitif. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan koreografi yang presisi, pose-pose unik, dan kibasan bulu mereka. Bulu yang indah juga menjadi aset penting bagi mereka untuk mempertahankan wilayah kekuasaan. Apabila bulu mereka rusak atau rontok, bisa saja karier mereka untuk memikat betina bisa tamat. Oleh karena itu, mereka memilih jalan damai berupa adu intimidasi. Siapa postur tubuhnya yang terlihat lebih besar, bulunya lebih mengembang, dan suaranya lebih lantang, dialah yang menang.

3. Seni membangun pondokan megah dan estetis

ilustrasi bowerbird atau burung namdur (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)
ilustrasi bowerbird atau burung namdur (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)

Alih-alih mengandalkan kicauan agresif atau serangan fisik langsung, burung namdur jantan memiliki cara unik mempertahankan wilayah kekuasaan mereka. Cara mereka menegaskan batas wilayah dengan membangun pondokan megah atau bower yang dihiasi oleh benda-benda bekas secara spesifik. Wilayah kekuasaan jantan dinilai dari seberapa estetis dan rapinya tatanan dekorasi tersebut, terutama objek-objek berwarna biru atau barang langka.

Bagi burung namdur, pondokan ini adalah representasi visual dari kekuatan genetik dan kedaulatan wilayah mereka yang mutlak. Di dunia namdur, perang sipil terjadi dalam bentuk pencurian dekorasi dan perusakan fisik bangunan milik pesaingnya. Ketika seorang jantan berhasil mencuri objek berwarna cerah, ia tidak hanya sedang mempercantik areanya sendiri, melainkan sedang menjatuhkan wibawa dan secara tidak langsung memperkecil pengaruh wilayah kekuasaan lawan di mata betina.

 

4. Kamikaze udara dan mobbing behavior

ilustrasi mobbing behavior pada burung (commons.wikimedia.org/Channel City Camera Club from Santa Barbara, US)
ilustrasi mobbing behavior pada burung (commons.wikimedia.org/Channel City Camera Club from Santa Barbara, US)

Mobbing adalah salah satu cara pertahanan kelompok di mana burung-burung kecil bersatu untuk mengintimidasi dan mengusir predator besar, seperti elang atau burung hantu. Alih-alih bersembunyi ketakutan, burung-burung kecil ini justru bersatu membentuk aliansi sambil melakukan aksi teror udara. Dikutip dari Bird Spot UK, taktik keroyokan ini biasanya paling sering terjadi selama musim kawin demi melindungi sarang dan anak-anak mereka yang masih lemah dari incaran musuh.

Tujuan utama dari aksi nekat ini berdasarkan teori ilmiah yang disebut The Move on Hypothesis (Hipotesis Mengusir). Burung kecil sadar akan kekuatan dan fisik mereka yang lemah untuk mengalahkan burung predator besar. Dengan terus-menerus mengganggu, memicu kegaduhan, dan membongkar tempat persembunyian predator, burung-burung ini membuat lokasi tersebut menjadi sangat tidak nyaman untuk berburu dan beristirahat, yang akhirnya memaksa predator menyerah lalu pergi mencari tempat lain.

 

5. Senjata kimia berupa muntahan, chemical warfare

ilustrasi turkey vulture (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp (1951–))
ilustrasi turkey vulture (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp (1951–))

Burung turkey vulture memiliki senjata pertahanan yang sangat ekstrem berupa muntahan asam proyektil untuk mengusir predator seperti elang dan burung hantu. Ketika merasa terancam atau takut, mereka mampu menyemburkan sisa makanan bercampur asam lambung sejauh 3 meter langsung ke arah penyerangnya. Cairan muntahan ini sangat berbahaya karena memiliki tingkat keasaman setara dengan asam baterai atau 100 kali lebih kuat dari asam lambung manusia sehingga mampu membakar kulit dan membutakan mata predator yang mencoba mendekat.

Selain untuk melumpuhkan musuh secara langsung, aksi muntahan makanan ini juga memiliki fungsi taktis untuk menyelamatkan diri. Dengan memuntahkan isi perutnya, burung bangkai ini dapat mengurangi berat badannya secara drastis dalam sekejap. Hal ini membuat tubuh mereka menjadi jauh lebih ringan, sehingga mereka bisa mengepakkan sayap dan terbang ke udara dengan lebih cepat untuk meloloskan diri dari bahaya yang mengancam di darat.

Dunia unggas membuktikan bahwa urusan mempertahankan wilayah atau kekuasaan tidak selalu harus diselesaikan dengan paruh dan cakar. Burung-burung ini menunjukkan kreativitas dan metode yang terlihat konyol dan nyeleneh di mata manusia ini sebenarnya adalah strategi evolusi yang brilian serta sebuah diplomasi tingkat tinggi demi menghemat energi sekaligus menghindari cedera fisik yang fatal.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More