Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Hutan Bisa Membuat Hujan Sendiri? Ini Penjelasannya

Benarkah Hutan Bisa Membuat Hujan Sendiri? Ini Penjelasannya
Potret hutan (pexels.com/Tom Fisk)
Intinya Sih
  • Pepohonan berperan sebagai pompa air alami yang melepaskan uap ke atmosfer melalui transpirasi, menciptakan kelembapan tinggi yang mendukung pembentukan awan dan awal musim hujan di kawasan berhutan.
  • Siklus air di hutan terus berputar lewat proses evaporasi dan transpirasi, menjaga kestabilan kelembapan udara; deforestasi dapat melemahkan sirkulasi ini dan mengurangi curah hujan lokal.
  • Hutan memengaruhi wilayah jauh melalui aliran uap air atau 'sungai terbang', meningkatkan peluang hujan di daerah lain, sehingga menjaga hutan penting bagi keseimbangan iklim dan ketersediaan air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernah mendengar anggapan kalau hutan mampu membuat hujannya sendiri? Sekilas terdengar seperti cerita yang dibumbui imajinasi. Faktanya, dunia sains sudah lama menyoroti hubungan erat antara kawasan berhutan dengan pembentukan awan dan curah hujan. Keterkaitan itulah yang menarik perhatian para peneliti iklim dari berbagai negara.

Namun, benarkah hutan memang ikut andil dalam menghadirkan hujan? Berikut ulasannya!

1. Pepohonan mengirim uap air ke langit setiap hari

Potret pepohonan hutan
Potret pepohonan hutan (pexels.com/David Riaño-Cortés)

Setiap pohon bekerja layaknya pompa air alami. Akar menyerap air dari dalam tanah, lalu mengalirkannya ke batang, cabang, dan daun. Setelah itu, air dilepaskan ke udara melalui pori-pori kecil pada permukaan daun dalam proses yang dikenal sebagai transpirasi.

Kalau jutaan pohon melakukan proses yang sama setiap hari, atmosfer di atas hutan akan dipenuhi kelembapan. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya awan hujan. NASA bahkan menemukan bukti observasional bahwa hutan Amazon bagian selatan memicu awal musim hujannya berkat pasokan uap air dari pepohonan setempat.

2. Air hujan terus berputar di atas kawasan hutan

Potret hutan
Potret hutan (pexels.com/David Riaño-Cortés)

Air hujan yang jatuh ke kawasan berhutan tidak seluruhnya mengalir menuju sungai maupun laut. Sebagian besar balik ke atmosfer lewat gabungan proses evaporasi dan transpirasi, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “atmospheric moisture recycling”. Siklusnya terus berputar tanpa henti selama kondisi lingkungan mendukung.

Setetes hujan yang jatuh hari ini dapat kembali ke langit dan turun lagi pada kesempatan berikutnya. Pola semacam itu terjadi berulang kali di kawasan tropis yang vegetasinya masih rapat. Itulah alasan wilayah berhutan umumnya mempunyai pasokan kelembapan udara yang stabil. Bila tutupan pohon berkurang drastis, rantai sirkulasi air ikut melemah.

3. Pengaruh hutan menjangkau daerah yang jauh

Flying rivers illustration
Flying rivers illustration (commons.wikimedia.org/Mendel264)

Dampak hutan ternyata tidak berhenti di lokasi tempat pepohonan tumbuh. Riset Spracklen, Arnold, dan Taylor (2012) menemukan jika massa udara yang melintasi kawasan hutan tropis membawa peluang hujan lebih besar dibanding udara yang bergerak di atas lahan terbuka. Hal ini terjadi karena massa udara mengandung lebih banyak uap air hasil evapotranspirasi. Artinya, manfaat hutan bisa dirasakan hingga wilayah yang letaknya lumayan jauh dari sumber kelembapan.

Para peneliti kerap menggunakan istilah “flying rivers” atau sungai terbang untuk menggambarkan aliran uap air yang dibawa angin dari kawasan hutan. Aliran kelembapan ini terus bergerak menuju daerah lain dan turut menyokong pembentukan hujan. Makanya, tak mengherankan jika deforestasi sering dikaitkan dengan meningkatnya ancaman kekeringan.

4. Hutan tidak menciptakan air dari ketiadaan

Potret hutan setelah hujan
Potret hutan setelah hujan (pexels.com/Mick Haupt)

Ungkapan bahwa hutan menghadirkan hujan sendiri sebenarnya perlu dipahami secara utuh. Pepohonan tidak memunculkan air baru dari ruang kosong. Yang terjadi ialah pengedaran ulang air yang telah tersedia di alam.

Di sisi lain, suhu permukaan laut, arah angin, tekanan udara, serta fenomena iklim global juga memberi pengaruh besar. Curah hujan lahir dari interaksi banyak faktor yang bekerja bersamaan. Kendati demikian, keberadaan hutan tetap memegang peranan vital dalam menopang kesehatan siklus air.

Jadi, benarkah hutan bisa mendatangkan hujannya sendiri? Jawabannya ya, meskipun bukan dengan menciptakan air dari nol. Itulah sebabnya upaya melindungi hutan bukan semata urusan konservasi satwa atau keanekaragaman hayati, melainkan juga langkah penting guna menjaga ketersediaan air, kestabilan iklim lokal, dan keberlanjutan kehidupan manusia.

Sumber Referensi :

NASA Science Editorial Team. (2017). New study shows the Amazon makes its own rainy season. science.nasa.gov.

NASA Earth Observatory. (2017). The Amazon Makes its Own Wet Season. science.nasa.gov.

O'Connor, J. C., Dekker, S. C., Staal, A., Tuinenburg, O. A., Rebel, K. T., & Santos, M. J. (2021). Forests buffer against variations in precipitation. Global Change Biology, 27(19), 4686-4696.

Spracklen, D. V., Arnold, S. R., & Taylor, C. M. (2012). Observations of increased tropical rainfall preceded by air passage over forests. Nature, 489(7415), 282-285.

Smith, C., Baker, J. C. A., & Spracklen, D. V. (2023). Tropical deforestation causes large reductions in observed precipitation. Nature, 615(7951), 270-275.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More