Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Spesies Burung Pelatuk Berkepala Merah, Punya Jambul Mohawk

5 Spesies Burung Pelatuk Berkepala Merah, Punya Jambul Mohawk
pelatuk kepala merah (commons.wikimedia.org/lwolfartist)
  • Lima spesies pelatuk berkepala merah dibahas, masing-masing memiliki ciri visual khas, dari jambul mohawk pelatuk jambul hingga kepala merah penuh pada pelatuk kepala merah.
  • Sebaran spesies mencakup Amerika Utara, pesisir barat Amerika, Amerika Tengah, hingga Chile dan Argentina; habitatnya beragam, termasuk hutan, taman, savana, serta wilayah tropis.
  • Keunikan perilakunya meliputi pelatuk jambul pembasmi hama, sapsucker dada merah pemakan sap, pelatuk paruh pucat dengan tiga subspesies, dan pelatuk magellanic yang hidup dalam kelompok kecil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

"Tuk tuk tuk", merupakan suara khas yang dihasilkan oleh burung pelatuk ketika ia sedang melubangi pohon. Suara tersebut muncul dari pukulan paruh dengan batang pohon. Selain kerap melubangi pohon, burung pelatuk juga tampil khas dengan tubuh berwarna cokelat hingga sayap hitam yang nampak sangar.

Tak hanya itu, bahkan ada beberapa spesies burung pelatuk berkepala merah, lho. Mereka adalah pelatuk jambul yang punya jambul mohawk, pelatuk magellanic yang tubuhnya dimdominasi bulu hitam, dan pelatuk kepala merah yang kepalanya hanya punya satu warna. Gimana sih kehidupan dan keunikan mereka? Yuk, kita ulik di bawah ini.

  1. 1. Pelatuk jambul punya bentang sayap 75 centimeter

    pelatuk jambul
    pelatuk jambul (commons.wikimedia.org/Simon Pierre Barrette)

    Hewan dengan nama ilmiah Dryocopus pileatus ini mudah dikenali dari jambul mohawknya yang menjulang dan berwarna merah. Menariknya, jambul tersebut merupakan satu-satunya warna merah di tubuhnya. Bagian lain hanya memiliki dua warna, yaitu hitam dan putih. Dilansir Audubon, spesies ini cukup besar dengan panjang 40-49 centimeter, bobot 250-350 gram, dan bentang sayap mencapai 75 centimeter.

    Hewan asli Amerika Utara ini kerap dijumpai di hutan konifer dan area lembap. Seperti spesies lain, ia sangat aktif di siang hari dan aktivitasnya dihabiskan di pepohonan. Pelatuk jambul juga bermanfaat bagi manusia, khususnya untuk membasmi hama seperti larva kumbang dan ulat. Karena itu, para petani sangat bergantung dengan kehadiran unggas ini.

  2. 2. Pelatuk kepala merah hidup di tiga negara

    pelatuk kepala merah
    pelatuk kepala merah (commons.wikimedia.org/lwolfartist)

    Seperti namanya, burung dengan nama ilmiah Melanerpes erythrocephalus ini punya kepala yang keseluruhannya berwarna merah (kecuali paruh). Warna merahnya meluas hingga leher, bagian atas tubuhnya berwarna hitam, dan perutnya berwarna putih. Ukuran burung ini juga kecil dengan panjang maksimal 25 centimeter dan bentang sayap 43 centimeter.

    Laman Animalia menjelaskan bahwa pelatuk kepala merah hanya menghuni tiga negara, yaitu Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Ia bisa hidup di hutan, kebun, taman, savana, area pesisir, padang rumput, hingga area pemukiman. Pelatuk kepala merah juga termasuk spesies pelatuk dengan makanan paling beragam. Mau itu serangga, buah, biji-bijian, hingga mamalia kecil masuk ke menu makanannya.

  3. 3. Sapsucker dada merah adalah burung spesialis pemakan sap

    sapsucker dada merah
    sapsucker dada merah (commons.wikimedia.org/Vickie J Anderson)

    Dilansir BirdLife DataZone, Sphyrapicus ruber atau sapsucker dada merah hanya bisa ditemukan di pesisir barat benua Amerika. Lebih spesifiknya, penyebaran burung ini mencakup wilayah Alaska, Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Sebenarnya, populasi burung ini masih melimpah dengan 23 juta individu di alam liar. Meski begitu, dewasa ini populasinya mulai menurun.

    Sapsucker dada merah merupakan burung yang secara khusus memakan sap (cairan yang keluar dari tanaman). Jadi, ia akan melubangi pohon dengan paruhnya dan menjilat sap dengan lidahnya yang panjang. Tak tanggung-tanggung, hewan ini bisa mendatangi satu pohon yang sama sebanyak tiga kali hanya untuk mengambil sap di pohon tersebut.

  4. 4. Pelatuk paruh pucat dibagi menjadi tiga subspesies

    pelatuk paruh pucat
    pelatuk paruh pucat (commons.wikimedia.org/Dominic Sherony)

    Pelatuk paruh pucat (Campephilus guatemalensis) merupakan spesies pelatuk yang bisa ditemukan di hutan hujan tropis di wilayah Amerika Tengah. Ia menghuni dataran rendah hingga dataran tinggi yang ketinggiannya mencapai 2000 mdpl. Burung ini juga bukan hewan migrasi dan akan menetap di satu wilayah selama satu tahun penuh. Dilansir Avibase, pelatuk paruh pucat juga dibagi menjadi tiga subspesies, yaitu Campephilus guatemalensis guatemalensis, Campephilus guatemalensis regius, dan Campephilus guatemalensis nelsoni.

  5. 5. Pelatuk magellanic hidup berkelompok

    pelatuk magellanic
    pelatuk magellanic (commons.wikimedia.org/Serge Ouachée)

    Dikutip iNaturalist, pelatuk magellanic (Campephilus magellanicus) merupakan spesies berukuran besar yang bisa ditemukan di Chile hingga Argentina. Menariknya, hanya individu jantan yang punya kepala berwarna merah. Di sisi lain, individu betina punya tubuh yang seluruhnya ditutupi warna hitam. Soal ukuran, burung ini punya panjang 36-45 centimeter dan bobot mencapai 369 gram.

    Pelatuk magellanic hidup dalam kelompok kecil yang berisikan hingga lima individu. Ia sangat aktif, khususnya ketika mencari makanan pada siang hari. Makanannya sendiri tak beda jauh dari spesies lain, yaitu serangga dan hewan kecil yang hidup di pohon. Selain itu, pelatuk magellanic juga punya beberapa predator seperti burung elang dan burung caracara.

    Tiap spesies burung pelatuk berkepala merah punya keunikan tersendiri, ada yang hidup berkelompok, hanya mau memakan, bahkan ada yang berukuran besar. Semua keunikan tersebut membuat mereka mudah dikenali, khususnya jika kamu cermat dan teliti. Karena sangat unik, kehidupan mereka harus dijaga dan manusia harus mencoba hidup berdampingan dengan burung-burung tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More