Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Fakta Mencengangkan Socratea Exorrhiza, Palem Berjalan dari Amazon

6 Fakta Mencengangkan Socratea Exorrhiza, Palem Berjalan dari Amazon
Ilustrasi pohon palem berjalan dari Amazon (inaturalist.org/Julien Piolain)
Intinya Sih
  • Socratea exorrhiza dijuluki ‘palem berjalan’ karena akar tunjangnya tampak seperti kaki, meski sebenarnya berfungsi sebagai penopang di tanah lembap hutan Amazon.
  • Ilmuwan masih memperdebatkan kemampuan pohon ini untuk berpindah; sebagian menyebutnya ilusi akibat pertumbuhan akar baru dan kondisi tanah yang lunak.
  • Pohon ini menunjukkan adaptasi evolusioner luar biasa, menjadi habitat bagi hewan kecil, serta dimanfaatkan masyarakat adat untuk bahan senjata dan ritual simbol ketahanan hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Hutan Amazon selalu menyimpan kejutan, tetapi ada satu penghuni hutan yang kisahnya terdengar seperti dongeng. Socratea exorrhiza, si palem berjalan. Ia dijuluki begitu bukan karena punya kaki seperti manusia, melainkan karena akar-akarnya tampak seperti sedang melangkah. Banyak pelancong mengira pohon ini pindah tempat dari waktu ke waktu, membuatnya menjadi salah satu tanaman paling penuh misteri di planet kita.

Walaupun ilmuwan sudah menelitinya selama bertahun-tahun, teka-teki tentang kemampuannya "bergerak" masih memunculkan perdebatan. Ada yang bilang itu hanya mitos populer, ada pula yang menunjukkan bukti bahwa pohon ini memang bisa menggeser titik pertumbuhannya beberapa sentimeter. Yang jelas, walking palm adalah salah satu contoh adaptasi evolusi yang paling dramatis dan memesona di ekosistem tropis. Yuk, kita kenalan sama si palem berjalan!

1. Akar penopangnya mirip kaki, dan inilah awal legenda berjalan

Ilustrasi si pohon berjalan yang akarnya mirip kaki
Ilustrasi si pohon berjalan yang akarnya mirip kaki (commons.wikimedia.org/David J. Stang)

Legenda pohon berjalan bermula dari akar tunjang yang tumbuh memanjang dari batang, membuatnya tampak memiliki belasan kaki. Wisatawan yang melihatnya pertama kali hampir selalu terperangah. Menurut Smithsonian Magazine, struktur akar ini berkembang sebagai respons terhadap kondisi tanah yang lembap, berlumpur, dan sering bergerak.

Tidak seperti banyak pohon lain, Socratea exorrhiza tumbuh dengan akar yang menonjol keluar dari batang setinggi hampir satu meter. Bentuk ini memberi keuntungan mekanis, jika tanah di salah satu sisi melemah, akar di sisi lain bisa menopang lebih kuat. Karenanya, banyak orang percaya pohon ini memindahkan dirinya secara perlahan dengan menumbuhkan akar ke arah cahaya.

Meski teori itu terdengar menakjubkan, ilmuwan seperti Gregory Goldsmith menekankan bahwa akar ini lebih berfungsi sebagai "alat penstabil" daripada alat mobilitas. Namun, tetap saja, penampilannya membuat siapa pun membayangkan pohon yang sedang melangkah.

2. Perdebatan di kalangan ilmuwan masih terus mengalir

Ilustrasi pohon palem berjalan yang masih jadi perdebatan ilmuwan
Ilustrasi pohon palem berjalan yang masih jadi perdebatan ilmuwan (commons.wikimedia.org/David J. Stang)

Teori populernya mengatakan pohon ini bisa bergerak 2—3 cm per hari, bahkan beberapa meter dalam setahun. Klaim ini banyak disebarkan oleh pemandu wisata lokal dan sempat dimuat dalam warta BBC Travel. Namun, di sisi lain, penelitian lapangan oleh ilmuwan hutan tidak menemukan bukti kuat bahwa pohon ini benar-benar berpindah posisi horizontal.

Menurut penelitian tersebut, pohon tidak melangkah tetapi hanya mematikan akar lama dan menumbuhkan akar baru di sisi yang lebih cerah. Dari jauh, fenomena ini bisa menciptakan ilusi seolah pohon telah bergerak. Ilusi ini diperkuat oleh fakta bahwa tanah Amazon sangat lunak, sehingga perubahan posisi akar terlihat signifikan.

Namun, etnobotanis seperti John H. Bodley masih berpendapat bahwa pergeseran kecil mungkin terjadi karena dinamika tanah dan arah tumbuhnya akar. Intinya, tidak berjalan seperti hewan, tapi bisa menyesuaikan diri hingga tampak bergerak.

3. Adaptasi evolusioner untuk bertahan hidup di hutan yang gelap

Ilustrasi pohon palem berjalan yang beradaptasi evolusioner untuk survive
Ilustrasi pohon palem berjalan yang beradaptasi evolusioner untuk survive (commons.wikimedia.org/David J. Stang)

Amazon terkenal dengan kanopi tinggi yang menghalangi cahaya matahari. Pohon-pohon muda harus berjuang keras untuk bisa tumbuh ke atas. Socratea exorrhiza mengatasi ini dengan akar tunjang yang membuat batangnya bisa tetap tegak meski area tumbuhnya tidak stabil.

Menurut Jurnal Biotropica, akar tunjang membuat pohon ini bisa "melompat" dari tanah lembap yang membahayakan ke area yang sedikit lebih kering dan stabil, tanpa harus memiliki akar tunggang besar. Ini adalah bentuk efisiensi energi evolusioner yang luar biasa.

Struktur ini juga memungkinkan pohon tumbuh lebih tinggi lebih cepat karena energi yang biasanya digunakan untuk menumbuhkan akar dalam dialihkan untuk pertumbuhan batang. Jadi, bukan hanya unik, ini adalah strategi bertahan hidup yang sangat cerdas.

4. Struktur akar yang keras seperti zirah pelindung

Ilustrasi pohon palem berjalan yang struktur akarnya keras seperti zirah
Ilustrasi pohon palem berjalan yang struktur akarnya keras seperti zirah (inaturalist.org/César María Aguilar Gómez)

Tidak hanya berfungsi sebagai penopang, akar pohon ini juga keras, berserat kuat, dan menyebar seperti kaki laba-laba raksasa. Ini memberi perlindungan alami terhadap kerusakan fisik. Studi oleh Benjamin Radford yang merilis artikelnya di LiveScience, mengungkap bahwa akar si palem ini tahan terhadap serangan hewan besar seperti tapir yang sering merusak vegetasi muda.

Ketika pohon besar di sekitarnya tumbang, akar tunjang ini memungkinkan Socratea exorrhiza menyerap guncangan lebih baik dibanding pohon biasa. Bahkan, beberapa akarnya tumbuh miring, menciptakan bentuk kerangka pelindung di bagian bawah batang.

Struktur unik ini menjadikan pohon ini salah satu spesies yang paling tahan terhadap erosi tanah dan perubahan kontur permukaan, menjadikannya benteng mini di tengah hutan.

5. Ternyata menjadi habitat mini untuk hewan kecil

Ilustrasi pohon palem berjalan yang jadi habitat mini hewan kecil
Ilustrasi pohon palem berjalan yang jadi habitat mini hewan kecil (inaturalist.org/Joey Santore)

Ruang di antara akar tunjang menjadi rumah bagi ratusan makhluk kecil. Studi dari Cecilia Williamson dan Helene C Muller-Landau menemukan bahwa akar Socratea exorrhiza sering menjadi tempat persembunyian serangga arboreal, katak kecil, bahkan reptil muda.

Suhu di antara celah akar lebih stabil dibanding lingkungan luar, menjadikannya mikrohabitat ideal. Bahkan beberapa semut membuat sarang kecil di dalam rongga akar, membangun koloni yang hanya terlihat jika kita memeriksa dari dekat.

Penduduk adat Amazon memanfaatkan hal ini untuk menaruh umpan buruan kecil atau menyembunyikan alat berburu di antara akar-akar itu, sebagaimana dicatat dalam studi etnobotani oleh Ghillean Tolmie Prance. Dengan kata lain, pohon ini bukan hanya hidup—ia menyediakan kehidupan bagi yang lain.

6. Dimanfaatkan penduduk adat sebagai bahan senjata dan ritual

Ilustrasi pohon palem berjalan yang dimanfaatkan penduduk adat untuk ritual
Ilustrasi pohon palem berjalan yang dimanfaatkan penduduk adat untuk ritual (inaturalist.org/Edson Guilherme)

Batang Socratea exorrhiza terkenal ringan tetapi keras, kombinasi langka yang membuatnya ideal sebagai bahan tombak. Suku Asháninka dan kelompok-kelompok Quechua menggunakan batangnya untuk membuat tombak berburu, tongkat upacara, dan gagang peralatan tradisional—dilansir dari Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine.

Akar tunjangnya juga bisa dijadikan serat untuk anyaman atau tali sederhana. Beberapa ritual adat bahkan menggunakan akar atau daun palem ini sebagai simbol ketahanan hidup, karena pohon ini dianggap sebagai "roh yang selalu mencari cahaya". Keberadaannya memperlihatkan kedekatan mendalam antara masyarakat Amazon dengan dinamika alam di sekitarnya.

Socratea exorrhiza mungkin tidak benar-benar berjalan seperti manusia, tetapi ia telah memukau dunia dengan ilusi geraknya, kecanggihan adaptasinya, dan hubungan ekologisnya dengan makhluk lain di hutan. Pohon ini mengingatkan kita bahwa alam tidak selalu bekerja dengan cara yang kita bayangkan. Terkadang ia menyesuaikan diri dengan lebih indah daripada yang mampu kita pahami.

Di tengah perubahan iklim dan ancaman deforestasi Amazon, walking palm menjadi simbol ketahanan. Ia bertahan dengan mencari cahaya, bukan melarikan diri. Barangkali itulah pelajaran tersembunyi dari pohon berjalan bahwa hidup bukan soal ke mana kita berlari, melainkan bagaimana kita menyesuaikan diri sambil tetap tumbuh ke arah cahaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More