Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Pelikan Cokelat, Spesies Pelikan Terkecil di Dunia

5 Fakta Pelikan Cokelat, Spesies Pelikan Terkecil di Dunia
pelikan cokelat (commons.wikimedia.org/Terry Foote)
Intinya Sih
  • Pelikan cokelat, spesies pelikan terkecil dari delapan jenis, hidup di pesisir Pasifik dan Atlantik Amerika, terutama ekosistem tropis-subtropis seperti pantai, muara, pulau kecil, dan mangrove.
  • Burung ini berburu ikan dengan menukik dari udara hingga sekitar 19 meter; kantong udara di bawah kulit meredam benturan saat menghantam air.
  • Populasinya sempat nyaris punah akibat DDT dan endrin yang menipiskan cangkang telur, lalu pulih setelah pelarangan DDT pada 1972 serta upaya konservasi; status terancam dicabut pada 2009.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat melihat pelikan, banyak orang mungkin langsung memperhatikan paruhnya yang besar atau cara terbangnya yang melayang rendah di atas permukaan laut. Namun, di antara berbagai spesies pelikan yang ada, pelikan cokelat (Pelecanus occidentalis) menyimpan sejumlah keunikan yang membuatnya berbeda dari spesies pelikan lainnya.

Bukan hanya berstatus sebagai spesies pelikan terkecil di dunia, burung laut ini juga memiliki cara berburu yang khas, kebiasaan berkembang biak yang tidak biasa, hingga kisah bertahan hidup yang menarik untuk diketahui. Yuk, simak lima fakta unik pelikan cokelat berikut ini!

1. Hidup di sepanjang pesisir Amerika

pelikan cokelat hidup di kawasan pesisir Amerika yang hangat
pelikan cokelat hidup di kawasan pesisir Amerika yang hangat (commons.wikimedia.org/Missvain)

Pelikan cokelat merupakan burung laut yang memiliki wilayah sebaran cukup luas di kawasan Benua Amerika. Habitatnya membentang di sepanjang garis pantai Samudra Pasifik dan Atlantik, mulai dari Amerika Utara, Kepulauan Karibia, Kepulauan Galápagos, hingga bagian utara Amerika Selatan. Sebagian besar populasinya menetap di wilayah pesisir tropis dan subtropis yang hangat sepanjang tahun.

Dalam kehidupan sehari-hari, pelikan cokelat sangat bergantung pada ekosistem perairan pesisir. Burung ini banyak dijumpai di pulau-pulau kecil, muara sungai, pantai berpasir, hingga hutan bakau. Sebaliknya, pelikan cokelat sangat jarang ditemukan jauh di pedalaman atau di kawasan perairan tawar, hal ini menjadikan wilayah pesisir sebagai tempat utama bagi mereka untuk beraktivitas.

2. Spesies pelikan dengan ukuran tubuh terkecil

pelikan cokelat merupakan spesies pelikan dengan ukuran tubuh paling kecil
pelikan cokelat merupakan spesies pelikan dengan ukuran tubuh paling kecil (commons.wikimedia.org/Ligocsicnarf89)

Dari delapan spesies pelikan yang ada di dunia, pelikan cokelat merupakan spesies dengan ukuran tubuh paling kecil. Burung ini umumnya memiliki panjang tubuh sekitar 1 hingga 1,4 meter, bentang sayap sekitar 2 meter, serta bobot berkisar antara 2 hingga 3,5 kilogram. Meski berstatus sebagai pelikan terkecil, ukuran tubuhnya tetap tergolong besar dan membuat penampilannya tampak mencolok.

Perbedaan ukurannya akan semakin terlihat jika dibandingkan dengan kerabat dekatnya, yaitu American White Pelican. Spesies tersebut memiliki tubuh yang lebih panjang dengan bentang sayap yang dapat mencapai sekitar 2,7 meter, sehingga termasuk salah satu burung terbesar di Amerika Utara.

3. Berburu ikan dengan cara menukik dari udara

pelikan cokelat berburu ikan dengan teknik menukik dari udara
pelikan cokelat berburu ikan dengan teknik menukik dari udara (inaturalist.org/ALESSANDRO REGGIANI)

Berbeda dari sebagian besar spesies pelikan yang menangkap ikan dari permukaan air, pelikan cokelat memiliki cara berburu yang lebih unik. Burung ini akan mengamati ikan dari udara, lalu menukik tajam ke permukaan air untuk menangkap mangsanya. Bahkan, saat menukik dari ketinggian tertentu, pelikan cokelat dapat memutar tubuhnya di udara sebelum menghantam permukaan air, sesuatu yang jarang ditemukan pada burung lain.

Menukik dari ketinggian hingga sekitar 19 meter dengan kecepatan sekitar 18 meter per detik tentu menghasilkan benturan yang sangat kuat. Untuk mengatasinya, pelikan cokelat memiliki kantong udara di bawah kulit yang berfungsi sebagai bantalan alami saat menghantam air. Berkat adaptasi tersebut, burung ini dapat menyelam dengan aman sebelum menangkap ikan menggunakan paruhnya.

4. Menghangatkan telur menggunakan selaput kaki

induk pelikan cokelat mengerami telur menggunakan selaput kakinya
induk pelikan cokelat mengerami telur menggunakan selaput kakinya (unsplash.com/The Tampa Bay Estuary Program)

Kebanyakan jenis burung memiliki area khusus tanpa bulu di bagian perut atau dada yang disebut brood patch. Bagian ini berfungsi menyalurkan panas tubuh langsung ke telur selama masa pengeraman. Berbeda dengan itu, pelikan cokelat tidak memiliki brood patch. Sebagai gantinya, burung laut ini menghangatkan telurnya menggunakan selaput kaki.

Saat mengerami telur, induk pelikan cokelat akan menempatkan bagian bawah kaki berselaputnya untuk menutupi telur sambil menjaga suhu tetap stabil. Panas tubuh kemudian disalurkan melalui selaput kaki yang kaya akan pembuluh darah, sehingga telur tetap hangat selama proses perkembangan embrio hingga menetas.

5. Pernah hampir punah akibat pestisida

populasi pelikan cokelat berhasil pulih berkat upaya konservasi
populasi pelikan cokelat berhasil pulih berkat upaya konservasi (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Pada pertengahan abad ke-20, populasi pelikan cokelat mengalami penurunan drastis hingga berada di ambang kepunahan. Penyebab utamanya adalah penggunaan pestisida sintetis, terutama DDT dan endrin. Zat-zat berbahaya tersebut masuk ke rantai makanan laut dan terakumulasi di dalam tubuh pelikan cokelat setelah memakan ikan yang terakumulasi racun.

DDT mengganggu pembentukan kalsium sehingga cangkang telur yang dihasilkan menjadi sangat tipis dan mudah retak saat dierami. Akibatnya, banyak telur gagal menetas dan populasinya merosot tajam. Setelah penggunaan DDT dilarang di Amerika Serikat pada 1972 dan upaya konservasi gencar dilakukan, populasinya perlahan pulih hingga akhirnya resmi dihapus dari daftar spesies terancam punah pada 2009.

Melihat berbagai keunikan fisik, cara berburu yang ekstrem, hingga perjalanan populasinya, pelikan cokelat memang menyimpan banyak hal menarik untuk dipelajari. Kisah mereka juga menunjukkan bahwa perlindungan terhadap satwa dan habitatnya dapat membawa perubahan besar bagi kelangsungan hidup sebuah spesies.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More