Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Fakta Unik Cryptoblepharus Egeriae, Dinyatakan Punah di Alam Liar

Christmas Island Blue-tailed Skink
Christmas Island Blue-tailed Skink (inaturalist.org/themaskedlapwing)
Intinya sih...
  • Endemik Pulau ChristmasKadal kecil nan gesit ini hanya berasal dari Pulau Christmas, Australia. Kini tak lagi bisa ditemukan di alam liar, tetapi ada di penangkaran.
  • Ekor Biru Metalik yang MencolokCiri khasnya adalah ekor berwarna biru cerah yang mengkilap, membuat predator terkecoh. Kadal ini dapat memutuskan ekornya sebagai pertahanan diri.
  • Tubuh Kecil tapi LincahUkurannya sangat kecil yaitu sekitar 4 hingga 8 cm. Meski kecil, mereka sangat lincah dan aktif mencari makan di siang hari.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di dunia satwa, ada spesies yang keberadaannya begitu singkat hingga nyaris terlupakan. Christmas Island Blue-tailed Skink (Cryptoblepharus egeriae) adalah salah satunya. Dengan nama lain Blue-tailed Shinning-skink dan Christmas Island Blue-tailed Shinning-skink, kadal kecil dengan ekor biru mengilap ini pernah hidup bebas di Pulau Christmas, Australia, sebelum akhirnya lenyap dari alam liar dalam waktu yang sangat singkat. Kisahnya bukan sekadar tentang reptil mungil, melainkan potret nyata bagaimana aktivitas manusia dan perubahan ekosistem bisa menghapus satu spesies dari muka bumi. Walaupun memiliki kisah yang cukup menyedihkan, di sisi lain ada fakta-fakta menakjubkan yang membuat mereka menjadi spesies yanv cukup unik untuk diketahui. Yuk, kita cari tahu apa saja fakta unik dari kadal berekor biru mengkilap ini!

1. Endemik Pulau Christmas

Christmas Island Blue-tailed Skink
Christmas Island Blue-tailed Skink (commons.wikimedia.org/Aldi Jefferson Airori)

Kadal kecil nan gesit ini hanya berasal dari Pulau Christmas, Australia. Di sana mereka hidup di daerah hutan hingga di pinggiran kota. Dilansir dari Animal Spot, mereka menyukai daerah semak belukar tinggi dengan pepohonan berdaun gugur di sekitar daerah pesisir, hutan hujan primer, daerah pemukiman, hingga daerah yang sudah terdegradasi. Namun, sayangnya kini mereka tak lagi bisa ditemukan di alam liar, kini kita bisa temui mereka di penangkaran.

2. Ekor Biru Metalik yang Mencolok

Christmas Island Blue-tailed Skink
Christmas Island Blue-tailed Skink (inaturalist.org/themaskedlapwing)

Ciri khas yang paling mencolok adalah ekor berwarna biru cerah yang mengkilap, terlihat sangat kontras di tubuhnya yang sebagian besar berwarna hitam dengan dua garis kuning yang membentang di sepanjang punggung hingga ekornya. Warna ekornya yang sangat mencolok ini dapat membuat predator terkecoh. Karena pasalnya, sama seperti kebanyakan spesies kadal lainnya yang mempunyai kemampuan autotomi, yaitu dapat memutuskan ekor sebagai bentuk pertahanan diri dari predator. Sehingga perhatian predator tertuju pada ekornya yang berwarna ekornya yang biru cerah dibandingkan dengan tubuhnya yang berwarna gelap. Walaupun ekornya terputus, kadal akan tetap hidup dan ekornya pun akan tumbuh kembali, tetapi ekornya yang baru tidak akan berwarna biru, justru berwarna seperti warna tubuhnya dan ekornya pun akan berukuran sedikit lebih pendek dari awalnya.

3. Tubuh Kecil tapi Lincah

Christmas Island Blue-tailed Skink
Christmas Island Blue-tailed Skink (commons.wikimedia.org/Aldi Jefferson Airori)

Memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil yaitu sekitar 4 hingga 8 cm. Meski ukurannya sangat kecil, mereka dikenal sangat lincah dan gesit. Selain itu, kadal ini dikenal sangat aktif di siang hari, waktu aktifnya antara pukul 10 pagi hingga pukul 2 siang. Dalam rentang waktu ini, mereka sering terlihat berjemur dan sangat aktif mencari makan. Dilansir dari Animal Spot, mereka menyukai berjemur di dinding bata atau batu, di perbatasan pagar, batang pohon yang tumbang, lahan terbuka di hutan hujan primer, di atas pohon hias, semak kecil, dan bahkan di atas pohon kelapa. Untuk tempat berlindung, mereka akan menggali tanah untuk membangun sebuah liang atau terowongan di bawah tanah.

4. Pemakan Invertebrata Sejati

Christmas Island Blue-tailed Skink
Christmas Island Blue-tailed Skink (inaturalist.org/themaskedlapwing)

Mereka merupakan insektivora atau disebut juga pemakan serangga. Sebagian besar makanannya terdiri dari hewan invertebrata seperti jangkrik, kumbang, lalat, belalang, laba-laba, dan cacing tanah. Kadang-kadang mereka juga memakan tumbuhan, tetapi ini hanya sesekali. Karena mereka juga kadal arboreal maupun terestrial, artinya mereka dapat hidup di tanah atau di pohon, sehingga mereka sering mencari makan di daerah dengan vegetasi rendah di tanah, di bebatuan, hingga di bawah dan atas pepohonan.

5. Berpoligami yang Menguntungkan

Christmas Island Blue-tailed Skink
Christmas Island Blue-tailed Skink (commons.wikimedia.org/Aldi Jefferson Airori)

Mereka memiliki sistem perkawinan poligami atau lebih dikenal poligini, yang di mana jantan dapat kawin dengan banyak betina. Pada musim kawin tiba, sang jantan akan menunjukkan perilaku untuk menarik perhatian betina. Dikutip dari laman animalia.bio, betina akan mengeluarkan zat biokimia agar pejantan dapat menciumnya, memberi tahu pejantan bahwa betina tersebut berada dalam tahap reproduksi yang subur. Jantan akan saling memperebutkan betina hingga aksi perkelahian tidak bisa dihindari. Namun ada fakta yang mungkin baik bagi kelangsungan hidup mereka dibalik sistem perkawinannya ini. Karena 'menganut' sistem poligami, sehingga ini cukup membuka peluang untuk meningkatkan populasi mereka. Walaupun mereka hanya dapat bertelur umumnya sebanyak dua telur per musimnya.

6. Telah Hilang di Alam Liar

Christmas Island Blue-tailed Skink
Christmas Island Blue-tailed Skink (inaturalist.org/themaskedlapwing)

Sungguh disayangkan, keberadaannya telah musnah di alam liar, sehingga IUCN mengklasifikasikannya sebagai spesies Extinct in the Wild atau punah di alam liar.

Banyak faktor yang berkontribusi dalam kepunahan mereka di alam liar, salah satunya adalah dengan adanya spesies invasif yang menjadi ancaman utamanya – spesies tersebut adalah Ular Serigala (Lycodon capucinus). Kedatangan ular ini pada tahun 1982 diduga menjadi faktor utama kepunahan kadal ini di alam liar. Selain ular, mereka juga mendapat ancaman dari spesies lainnya seperti Semut Kuning Gila (Anoplolepis gracilipes), kucing liar, tikus, hingga kelabang (Scolopendra subspinipes). Kini mereka telah diselamatkan dan dilestarikan di penangkaran. Upaya konservasi ini dibilang cukup berhasil membangkitkan populasi mereka dari kepunahan. Walaupun terkadang di penangkaran pun belum sepenuhnya aman, dikutip dari IUCN RedList, populasi di penangkaran terinfeksi virus Enterococcus, tetapi ini bukan ancaman yang serius bagi mereka.

Hilangnya Christmas Island Blue-tailed Skink menjadi pengingat pahit bahwa kepunahan tidak selalu terjadi secara perlahan. Dalam kasus ini, semuanya berlangsung cepat, senyap, dan nyaris tanpa disadari. Meski kini spesies ini sudah benar-benar punah di alam liar, ceritanya tetap penting untuk diingat – bukan hanya sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai pelajaran berharga agar spesies lain tidak menyusul nasib serupa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Menakjubkan Ular Kawat Raksasa, Jadi Spesies Terbesar

12 Feb 2026, 18:29 WIBScience