6 Fakta Unik Madagascar Fish Eagle, Elang Super Langka di Dunia!

- Elang air langka ini hanya dapat ditemukan di Madagaskar, dengan populasi sekitar 240 ekor dan status terancam punah.
- Mereka memiliki teknik berburu khas dengan memakan ikan dan suara vokal yang terdengar hingga satu kilometer.
- Reproduksi lambat, sistem perkawinan poliandri, dan ancaman dari perubahan habitat membuat keberadaannya semakin rapuh.
Di antara keindahan alam Madagaskar yang terkenal akan keanekaragaman hayatinya, terdapat satu burung pemangsa yang keberadaannya jauh lebih langka dibandingkan kebanyakan elang di dunia, yaitu Madagascar Fish Eagle (Icthyophaga vociferoides). Elang air ini hanya dapat ditemukan di pulau Madagaskar, menjadikannya salah satu spesies burung pemangsa paling eksklusif di planet ini. Dengan postur gagah, suara teriakan khas, serta ketergantungannya pada perairan yang tenang, Madagascar Fish Eagle menyimpan banyak keunikan yang jarang diketahui publik. Untuk mengenal lebih dekat spesies yang berada di ambang kepunahan ini, mari kita telusuri berbagai fakta unik yang membuatnya begitu istimewa.
1. Elang Endemik yang hanya Hidup di Madagaskar

Sesuai dengan namanya, spesies ini berasal dari Madagaskar dan hanya dapat ditemukan di sana – sehingga spesies ini mendapat 'gelar' sebagai hewan endemik asli Madagaskar. Mereka dapat tersebar di sepanjang pantai barat Madagaskar, mulai dari wilayah Menabe di selatan, hingga wilayah Diana di utara. Namun dikutip dari Data Zone by Bird Life, survei mencatat terdapat lebih dari 200 individu tampaknya terkonsentrasi di tiga wilayah utama, yaitu wilayah Antsalova di sebelah barat Cagar Alam Bemaraha, di sepanjang Sungai Tsiribihina, serta pantai dari Teluk Mahajamba hingga pulau Nosy Hara. Mereka mendiami daerah pesisir, pulau danau, sungai dengan hutan di sekitarnya, dan hutan bakau. Namun, mereka lebih menyukai tempat dengan pepohonan besar di tepi pantai yang cocok untuk bertengger. Walaupun begitu, dilansir dari The Peregrine Fund, Elang ini bukanlah spesies yang hidup di dataran tinggi, melainkan ia hidup di habitat dengan ketinggian 4000 kaki dari permukaan laut.
2. Teknik Berburu yang Khas

Mereka sangat menyukai berada di dekat air karena di sanalah sumber makanan utamanya berada. Sebagian besar mereka memakan ikan. Selain ikan, mereka juga memakan kepiting, kura-kura, dan terkadang burung. Dilansir dari The Peregrine Fund, seperti kebanyakan burung pemangsa, spesies ini bersifat oportunistik, yang berarti mereka tidak akan menolak makanan yang mudah didapatkan.
Namun dibalik ini semua, mereka mempunyai beberapa teknik dalam berburu mangsa. Dilansir dari sumber yang sama, ketika mereka melihat ikan yang bergerak di bawah permukaan air di tempat bertengger yang dipilih secara strategis. Kemudian mereka akan menyelam dangkal dan mengambil ikan dari air dengan kaki mereka yang kuat. Ikan akan dibawa ke tempat mereka bertengger atau dibawa ke darat untuk dimakan.
3. Burung Pemangsa Terbesar di Madagaskar

Di Madagaskar, mereka dikenal sebagai burung pemangsa terbesar di sana. 'Gelar' ini diberi bukan tanpa alasan, mereka memiliki ukuran sekitar 60-66 cm dengan lebar sayap sekitar 165 hingga 180 cm – dan bahkan beratnya saja bisa mencapai 2,2 hingga 3,5 kg. Di badannya yang besar ini ditutupi dengan bulu berwarna cokelat tua dan ekor putih cerah yang kontras, dengan kepala berwarna cokelat pucat, serta paruh berwarna abu-abu gelap. Mereka juga diketahui mengalami dimorfisme seksual antra jantan dan betina – yang di mana betina memiliki ukuran yang lebih besar dan lebih berat dibandingkan dengan jantan.
4. Suaranya Terdengar hingga Satu Kilometer!

Elang laut ini dikenal sangat vokal. Dilansir dari Oiseaux Birds, ia mengeluarkan suara 'ko ko koy-koy-koy-koy-koy' yang keras dan melengking, diulang dalam interval pendek. Suara jantan lebih tinggi dibandingkan dengan suara yang dikeluarkan oleh betina, tetapi suara keduanya sama-sama akan terdengar hingga lebih dari 1 kilometer. Elang jantan dan betina dikenal sering berduet suara di sarang atau di tempat mereka bertengger. Hal ini bertujuan untuk memperkuat ikatan hubungan antara jantan dan betina. Selain itu, yang tidak kalah unik adalah suara dari anak-anak mereka – yang di mana diketahui suara anak-anak elang ini memiliki suara yang lebih tinggi daripada burung yang sudah dewasa.
5. Reproduksi yang Lambat

Memiliki sistem perkawinan poliandri merupakan hal yang tidak umum bagi elang. Karena pasalnya sebagian besar elang bersifat monogami. Walaupun begitu, keduanya antara jantan dan betina saling membantu dalam membangun sarang hingga mengerami telur. Mereka memasuki musim kawin pada bulan Mei, pada saat ini kedua pasangan akan memulai membangun sarang yang kokoh dari ranting di percabangan pohon besar atau di tebing ataupun di bebatuan di pulau berbatu. Memasuki pertengahan Juli, betina mulai bertelur dan biasanya hanya menghasilkan dua telur. Selang 37 hingga 43 hari, telur pun menetas. Namun, biasanya yang bisa bertahan hidup hanya satu – yang merupakan anak burung yang kuat dan besar. Anak burung yang kuat biasanya akan membunuh atau mengusir anak yang lemah, dan bahkan terkadang membiarkannya kelaparan. Walau begitu, hal ini merupakan hal yang lumrah atau biasa terjadi pada spesies burung pemangsa.
6. Salah Satu Elang Laut Paling Langka di Dunia

Kini jumlah populasinya sekitar 240 ekor di dunia ini. Maka tidak heran jika mereka menjadi salah satu elang laut paling langka di dunia. Kini mereka juga telah berstatus Critically Endangered atau sangat terancam punah oleh IUCN, serta masuk dalam the IUCN's Red List of Threatened Species. Hal ini bukan tanpa sebab, ancaman yang dihadapi bukan main-main. Penggundulan hutan, alih fungsi lahan, dan penangkapan ikan yang berlebihan, telah berdampak sangat signifikan terhadap kelangsungan hidup mereka. Selain itu, yang lebih parahnya lagi, elang ini sering menjadi sasaran para pemburu. Bukan untuk dijual, melainkan untuk diambil kakinya. Beberapa orang percaya bahwa kaki elang laut ini dapat dijadikan sebuah obat tradisional. Yang lebih kejamnya adalah orang-orang akan menjebak mereka, lalu memotong salah satu kakinya, dan membiarkan elang itu kesakitan. Dan sungguh disayangkan, sebagian besar dari mereka tidak bisa bertahan hidup.
Upaya untuk menyelamatkan satwa ini sudah terlaksanakan, dimulai dari program konservasi, penegakan hukum yang ketat, menjadikan habitat asli mereka menjadi cagar alam, serta dilampirkan dalam perjanjian Internasional antar pemerintah atau CITES (Convention on Internasional Trade in Endangered Species) – sebagai bentuk perlindungan agar tidak melibatkan spesies tersebut dalam perdagangan flora dan fauna.
Madagascar Fish Eagle bukan sekadar elang pemangsa ikan, melainkan representasi dari keunikan alam Madagaskar yang tak tergantikan. Populasinya yang sangat terbatas, reproduksi yang lambat, serta tekanan dari perubahan habitat menjadikan spesies ini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Mengenal lebih jauh fakta-fakta unik tentang burung ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa keberadaannya semakin rapuh. Tanpa perhatian dan upaya perlindungan yang berkelanjutan, elang air langka ini berisiko menjadi salah satu spesies Madagaskar yang hanya tersisa dalam catatan sejarah.



















