ilustrasi coal seam fires (commons.wikimedia.org/Sino German Coal Fire Research initiativ)
Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, terdapat fenomena 'api abadi' yang merusak, yaitu kebakaran lapisan batubara bawah tanah (coal seam fires). Kebakaran ini bisa dipicu secara alami oleh oksidasi spontan atau oleh aktivitas manusia seperti penambangan ilegal. Yang mengerikan, kebakaran ini bisa berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun, terus melepaskan gas beracun, merkuri, dan karbon dioksida dalam jumlah masif ke atmosfer tanpa henti, sering kali tanpa terlihat di permukaan selain kepulan asap dari retakan tanah.
Fenomena ini adalah bencana lingkungan yang tersembunyi. Menurut Stracher dan Taylor, kebakaran batubara secara global menyumbang persentase yang signifikan terhadap emisi karbon dioksida dunia, namun sulit dipadamkan karena lokasinya yang jauh di kedalaman tanah. Di Kalimantan, misalnya, kebakaran batubara sering kali menjadi pemicu kebakaran hutan yang lebih luas saat musim kemarau, menciptakan lingkaran setan kerusakan lingkungan yang sulit diputus.
Sains di balik penanganan coal seam fires memerlukan teknologi pengindraan jauh (satelit termal) untuk mendeteksi titik panas di bawah tanah sebelum api menyebar. Menangani api bawah tanah ini adalah langkah nyata yang sering terlupakan dalam upaya dekarbonisasi global.
Merayakan Hari Bumi 2026 berarti berani melihat lebih jauh dari jargon-jargon lingkungan yang dangkal dan mulai menyelami mekanisme sains yang mengatur keseimbangan hidup kita. Dari fenomena schumann resonance yang menjaga ritme elektromagnetik hingga pengelolaan api bawah tanah. Semua membuktikan bahwa Bumi adalah sistem yang saling terhubung secara luar biasa rumit.
Kealpaan kita terhadap beragam proses ini sering kali menjadi alasan, mengapa kebijakan lingkungan kita gagal atau hanya menyentuh permukaan. Namun, dengan sains sebagai kompas, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita dengan planet ini sebelum batas-batas toleransinya benar-benar terlampaui.