Comscore Tracker

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteor

Tutup 2021 dengan indahnya hujan meteor

Tak terasa, dalam beberapa minggu, kita akan menyambut 2022. Rasanya tahun ini seperti berlalu dalam sekejap mata saja. Siapa yang siap memulai lembaran baru di 2022? Semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini.

November lalu, kita disuguhkan dengan berbagai fenomena langit, dari hujan meteor, konjungsi, hingga gerhana Bulan parsial. Fenomena langit apa saja yang bisa kita nantikan pada Desember? Siapkan teleskop dan alarm-mu, inilah 15 fenomena langit bulan Desember 2021.

1. Venus bertemu dengan Saturnus dan Jupiter dalam konjungsi tripel pada 1-4 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan MeteorJupiter dan Saturnus (techexplorist.com)

Nantikan di langit senjamu, tetangga Bumi, Venus, di konstelasi Sagittarius akan bertemu dengan Saturnus dan Jupiter di konstelasi Capricornus. Menurut Pusat Sains Antariksa LAPAN (Pussainsa LAPAN), fenomena konjungsi tripel ini langka karena terjadi setiap 90 tahun sekali. Jadi, jangan sampai kelewatan!

Fenomena ini dijadwalkan terlihat di arah Barat Daya pada senja bahari (25 menit setelah Matahari terbenam) selama 2,5 jam. Di teleskopmu, sudut pisah antara Venus dan Saturnus adalah 16,4°-18,4°, dan Saturnus-Jupiter di 16,4°-16,6°. Venus berada di magnitudo -4,88 sampai -4,90, Saturnus di +0,73, dan Jupiter antara -2,66 sampai -2,67.

2. Pada 3 Desember, Bulan dijadwalkan bertemu dengan Mars

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan MeteorBulan (dalam fase Sabit) dan Mars (fox5ny.com)

Sementara beberapa wilayah dunia menyaksikan okultasi Mars oleh Bulan (saat Mars melintas di belakang Bulan), wilayah yang tak kebagian dapat menyaksikan fenomena konjungsi antara Bulan dan sang "Planet Merah". Terjadi pada 3 Desember, konjungsi ini terlihat pada 07.28 pagi waktu setempat.

Pussainsa Lapan menjabarkan bahwa fenomena ini sudah bisa terlihat di ufuk Timur, 1 jam sebelum Matahari terbit selama 35 menit. Saat itu, Bulan berada di fase Sabit Akhir dengan iluminasi 2,7 persen. Posisi Mars berada di magnitudo +5,4, dan konjungsi ini terpisah di sudut 1,3°-1,6°.

3. Sambut Super New Moon pada 4 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi super moon (timeanddate.com)

Saat fase Bulan Baru terjadi berdekatan dengan Perige Bulan, terjadilah Bulan Baru Super atau Super New Moon. Pussainsa LAPAN mengingatkan kalau Super New Moon adalah fenomena astronomis tahunan. Terakhir terjadi pada 17 Oktober 2020, Super New Moon akan terjadi pada 2023, 2024, dan 2025 mendatang.

Pada 4 Desember mendatang, Bulan Baru terjadi pada 02.43 siang waktu setempat, dan Bulan berada di jarak geosentrik 356.805 kilometer dan lebar sudut 33,49 menit busur. Pada pukul 04.57 sore waktu setempat, Perige Bulan terjadi di jarak geosentrik 356.796 kilometer dan lebar sudut 33,49 menit busur.

4. Gerhana Matahari total eksklusif di Antarktika pada 4 Desember mendatang

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi Gerhana Matahari Total (eso.org)

Pada 4 Desember mendatang, wilayah Antarktika akan berkesempatan untuk menonton gerhana Matahari total. Hal ini dikarenakan wilayah Antarktika pas terkena umbra Bulan. Sementara Antarktika mengalami fase total, beberapa wilayah yang mengalami gerhana Matahari parsial adalah:

  • Lebar gerhana kurang dari 10 persen diameter Matahari:
    • Afrika Selatan
    • Namibia
    • Australia bagian selatan
  • Lebar gerhana 10-40 persen diameter Matahari:
    • Kepulauan Malvinas
    • Kepulauan Tierra del Fuego
  • Lebar gerhana 93-97 persen diameter Matahari:
    • Georgia Selatan
    • Kepulauan Sandwich Selatan

Dimulai pada 10.59 pagi waktu setempat, gerhana Matahari akan penuh pada 12.30 siang waktu setempat dan mencapai fase maksimum pada 01.03 siang waktu setempat. Pada pukul 03.07 sore, barulah gerhana Matahari total berakhir. Durasi totalitas berkisar antara 90-116 detik

Sayangnya, Indonesia tidak dapat menyaksikan fenomena ini. Menurut Pussainsa LAPAN, gerhana Matahari total ini adalah yang ke-13 dari 70 gerhana Seri Saros ke-152. Selanjutnya, fenomena ini akan terjadi lagi pada pertengahan Desember 2039 dan menjelang akhir Desember 2057.

5. Kuartet Bulan-Venus-Saturnus-Jupiter berada di langit 5-10 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi konjungsi (onlyinyourstate.com)

Sesudah konjungsi tripel antara Venus, Saturnus, dan Jupiter kemarin, Bulan ikut nimbrung. Fenomena ini terlihat di awal senja bahari di Barat Daya pada 5 Desember dan berlangsung selama 6 hari. Terakhir terjadi pada 9 November 2021, fenomena ini terjadi rata-rata 80 tahun sekali.

Pertama, Bulan dan Venus berada di konjungsi Sagittarius dan terpisah 24°. Pada 8 Desember, Bulan meninggalkan Venus untuk menghampiri Saturnus di konstelasi Capricornus. Keesokan harinya, Bulan berganti pasangan ke Jupiter di konstelasi Aquarius. Barulah pada 10 Desember, Bulan hengkang.

Pada fenomena ini, Bulan berada di fase Sabit Awal dengan iluminasi 1,8 hingga 43,7 persen. Magnitudo Venus berada di antara -4,91 sampai -4,90, Saturnus di +0,73 sampai +0,74, dan Jupiter pada -2,25 sampai -2,22.

6. Pada 6-7 Desember, saksikan puncak hujan meteor Phoenicid

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi hujan meteor (pixabay.com/OpenClipart-Vectors)

Hujan meteor Desember 2021 dibuka dengan hujan meteor Phoenicid. Mencapai puncaknya pada 6-7 Desember, hujan meteor ini terjadi di konstelasi Phoenix dan adalah sisa debu Komet 289P/Blanpain. Fenomena ini dapat terlihat sejak awal senja bahari pada 6 Desember hingga pukul 02.15 dini hari pada 7 Desember waktu setempat.

Pussainsa LAPAN memprakirakan meteor turun dengan intensitas 51 meteor/jam di Sabang sampai 74 meteor/jam di Pulau Rote. Saat berada di titik puncak/zenit, hujan meteor Phoenicid turun dengan 100 meteor per jam. Pastikan saja langit cerah tanpa polusi cahaya dan bidang pandang terbentang tanpa penghalang.

7. Hujan meteor Puppid-Velid mencapai puncaknya pada 7-8 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorhujan meteor (independent.co.uk)

Kelewatan Phoenicid? Masih ada hujan meteor Puppid-Velid. Seperti namanya, hujan meteor ini terjadi di konstelasi Vela yang berbatasan dengan konstelasi Puppis. Turun pada 1-15 Desember, hujan meteor Puppid-Velid mencapai puncaknya pada 7-8 Desember, hujan meteor ini adalah sisa debu Komet 96P/Machholz.

Intensitas hujan meteor Puppid-Velid berkisar di 6 meteor/jam untuk kawasan Sabang dan 8 meteor/jam untuk Pulau Rote. Saat di titik zenit, intensitas memuncak di 10 meteor/jam.

Fenomena ini terlihat sejak 7 Desember pukul 9 malam waktu setempat hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum Matahari terbit) pada 8 Desember waktu setempat. Pastikan langit cerah tanpa polusi cahaya dan bidang pandang bebas dari halangan.

Baca Juga: Percaya atau Tidak, Ini 15 Galaksi Paling Aneh tapi Nyata

8. Puncak hujan meteor Monocerotid pada 9-10 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi hujan meteor (wired.com)

Terjadi pada 5-20 Desember, Pussainsa LAPAN mencatat 9-10 Desember sebagai puncak hujan meteor Monocerotid. Terjadi di konstelasi Monoceros, hujan meteor ini adalah produksi sisa debu asteroid 2004 TG10 (yang juga menyebabkan hujan meteor Taurid utara).

Fenomena ini dapat disaksikan pada 9 Desember pukul 07.40 malam waktu setempat hingga pada 10 Desember saat akhir fajar bahari. Hujan meteor ini akan turun dengan intensitas 1,9-2 meteor/jam. Meski sulit, doakan saja semoga langit cerah dan bebas polusi cahaya serta bidang pandangmu tak terhalang apa pun.

9. Pada 10-11 Desember hujan meteor χ-Orionid mencapai puncaknya

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi hujan meteor (unsplash.com/Austin Schmid)

Setelah Monocerotid, puncak hujan meteor selanjutnya adalah Chi(χ)-Orionid, yang sebenarnya berlangsung 5-20 Desember. Bukan konstelasi, hujan meteor ini terjadi di dekat bintang χ-Orionis, konstelasi Orion. Seperti hujan meteor Monocerotid, hujan meteor ini bersumber dari 2004 TG10.

Fenomena ini dapat disaksikan sejak awal senja astronomis (50 menit setelah terbenamnya Matahari) pada 10 Desember waktu setempat hingga akhir fajar bahari pada keesokan harinya waktu setempat. Di Indonesia, hujan meteor χ-Orionid dapat memuncak hingga 2,5-3 meteor/jam.

10. Hujan meteor σ-Hybrid mencapai puncaknya pada 12-13 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi hujan meteor (unsplash.com/Fernando Rodrigues)

Selang sehari, kamu dapat menyaksikan hujan meteor Sigma(σ)-Hybrid. Berlangsung pada 3-15 Desember, hujan meteor ini mencapai puncaknya pada 12-13 Desember. Hujan meteor σ-Hybrid akan turun dengan intensitas 2,9-3 meteor/jam.

Fenomena ini terlihat di konstelasi Hydra, dekat bintang Sigma Hydrae, dari pukul 09.15 malam waktu setempat pada 12 Desember hingga akhir fajar bahari keesokan harinya waktu setempat. Pastikan langit cerah tanpa polusi cahaya dan carilah bidang pandang luas tanpa halangan.

11. Pada 14-15 Desember, saksikan puncak hujan meteor Geminid

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorhujan meteor (thethaiger.com)

Lagi-lagi hujan meteor, selanjutnya kamu dapat menyaksikan puncak hujan meteor Geminid. Turun pada 4-17 Desember, hujan meteor Geminid mencapai puncaknya pada 14-15 Desember mendatang. Seperti namanya, fenomena ini terjadi di langit konstelasi Gemini dan bersumber dari debu asteroid 3200 Phaethon (1983 TB).

Fenomena ini terlihat pada 14 Desember pukul 08.30 malam waktu setempat hingga 15 Desember pada akhir fajar bahari. Di Sabang, hujan ini turun 86 meteor/jam, dan di Pulau Rote, berkisar di intensitas 107 meteor/jam. Di titik zenit, hujan meteor Geminid turun dengan intensitas 120 meteor/jam.

Pastikan langit bebas dari polusi cahaya dan sedang cerah. Akan tetapi, intensitas hujan meteor ini juga tertutupi oleh cahaya Bulan yang berdekatan dengan titik zenit.

12. Puncak hujan meteor Comae-Berenicid terjadi pada 16 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi hujan meteor (scientificamerican.com)

Dilansir In the Sky, hujan meteor Comae-Berenicid akan turun pada 12-23 Desember di langit konstelasi Leo. Nah, puncaknya terjadi di tanggal 16 Desember mendatang. Di situs tersebut, hujan meteor ini akan mulai terlihat sekitar 01.50 dini hari waktu setempat hingga akhir fajar bahari.

Pada puncaknya, hujan meteor Comae-Berenicid akan turun dengan intensitas 2-3 meteor/jam. Selain itu, tantangan terbesar lain saat menyaksikan fenomena ini adalah cahaya Bulan. Jadi, pastikan langit di lokasimu cerah dan bebas dari polusi cahaya serta tak ada penghalang di bidang pandang.

13. Puncak hujan meteor Leonis Minorid Desember jatuh pada 19-20 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi hujan meteor (newsconcerns.com)

Berselang tiga hari, kamu bisa menyaksikan puncak hujan meteor Leonis Minorid. Turun pada 5 Desember 2021 sampai 4 Februari 2022, hujan meteor di konstelasi Leo Minor ini mencapai puncaknya pada 19 Desember 2021 mendatang.

Hujan meteor Leonis Minorid dimulai sekitar pukul 11 malam waktu setempat sampai akhir fajar bahari pada 20 Desember. Hujan meteor Leonis Minorid diprakirakan akan turun dengan intensitas 4-5 meteor/jam.

Untuk menyaksikan hujan meteor ini, pastikan langit cerah tanpa polusi cahaya dan bidang pandang bebas dari rintangan. Perlu dicatat, sinar Bulan dapat menghalangi pemandangan hujan meteor ini, jadi perhatikan baik-baik!

14. Pada 21 Desember, Bumi mengalami titik balik Matahari

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi titik balik musim dingin (pexels.com/Pixabay)

Pada 21 Desember, Bumi akan mengalami titik balik Matahari. Sebelumnya terjadi pada 21 Juni 2021 silam sebagai titik balik musim panas, posisi titik balik Matahari pada Desember berarti adalah titik balik musim dingin di belahan Bumi Utara.

Di posisi ini, belahan Bumi Selatan yang condong menghadap Matahari dan waktu siang dan sore hari akan terasa lebih panjang, sementara malam terasa lebih pendek. Di belahan Bumi Utara, durasi Matahari berada di cakrawala akan jadi yang terpendek di 2021. Inilah yang menandai hari pertama musim dingin.

Seperti titik balik Matahari pada Juni 2021, Indonesia yang berada di khatulistiwa tentu tidak terpengaruh. Hal ini disebabkan karena posisi khatulistiwa terhadap Matahari cenderung konstan.

15. Puncak hujan meteor Ursid terjadi pada 22 Desember

15 Fenomena Langit Bulan Desember 2021, Ramai Hujan Meteorilustrasi hujan meteor (sciencenewsforstudents.org)

Hujan meteor Desember 2021 ditutup dengan hujan meteor Ursid. Turun sejak 17 Desember sampai 26 Desember 2021, hujan meteor di konstelasi Ursa Minor ini mencapai aktivitas tertingginya pada 22 Desember. In the Sky menjelaskan bahwa hujan meteor Ursid bersumber dari debu komet 8P/Tuttle.

Pemandangan ini terlihat pada sekitar pukul 3 subuh hingga akhir fajar bahari. Saat ini, hujan meteor Ursid turun dengan intensitas 10 meteor/jam. Perlu dicatat, cahaya Bulan dapat menghalangi pemandangan. Jadi, pastikan langit cerah bebas polusi cahaya dan bidang pandang tidak terhalang apa pun.

Itulah beberapa fenomena langit bulan Desember 2021. Saat melihat hujan meteor di langit, jangan lupa panjatkan permohonan agar tahun 2022 jauh lebih baik dari 2021. Sampai bertemu tahun depan!

Baca Juga: 10 Fakta Unik Planet Venus, Tetangga Bumi yang Panas

Topic:

  • Bayu D. Wicaksono
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya