ilustrasi kemarau basah (pexels.com/Pixabay)
Fenomena kemarau basah tidak hanya dipengaruhi oleh pola iklim global seperti El Niño, La Niña, dan Indian Ocean Dipole (IOD). Menurut Sonni Setiawan, S.Si, M.Si, ahli meteorologi dari IPB, salah satu faktor penting yang ikut memengaruhi kondisi ini adalah aktivitas Matahari, khususnya sunspot.
Sonni menjelaskan bahwa saat aktivitas sunspot meningkat, saat ini sedang mencapai puncaknya sejak 2024 dan masih aktif pada 2025, Matahari memancarkan lebih banyak partikel energi tinggi seperti sinar kosmik. Partikel ini dapat mempercepat proses kondensasi di atmosfer, meningkatkan pembentukan awan, dan memperbesar peluang hujan deras, bahkan pada musim kemarau.
Tak hanya itu, sunspot juga memperbesar gradien potensial listrik dalam awan. Akibatnya, hujan yang turun sering disertai petir. Kombinasi ini menjelaskan mengapa curah hujan meningkat secara signifikan meskipun berada pada periode yang seharusnya kering. Selain sunspot, fenomena atmosfer lain seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby turut memperkuat hujan ekstrem dalam jangka pendek.