Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa yang Terjadi pada Pulau Hashima, Jepang, saat Warganya Pergi?

Apa yang Terjadi pada Pulau Hashima, Jepang, saat Warganya Pergi?
Pulau Hashima (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)
Intinya Sih
  • Hashima dulunya pulau industri padat dengan ribuan pekerja tambang. Setelah ditinggalkan pada 1974, bangunan mulai rusak cepat akibat garam dan kelembapan laut.

  • Alam mengambil alih melalui vegetasi liar dan suksesi ekologi. Burung laut berkembang pesat dan menciptakan ekosistem baru di atas reruntuhan.

  • Lingkungan lembap memicu tumbuhnya mikroorganisme unik di dalam bangunan. Kini, Hashima jadi situs UNESCO dan laboratorium alami perubahan lingkungan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Hashima, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gunkanjima alias Pulau Kapal Perang, pernah menjadi salah satu tempat terpadat di dunia pada era 1960-an. Pulau seluas 6,3 hektare di lepas pantai Nagasaki, Jepang, ini menampung lebih dari 5 ribu jiwa. Mereka bekerja di tambang batu bara milik Mitsubishi.

Ketika tambang ditutup pada 1974 dan seluruh penduduk meninggalkan pulau dalam hitungan bulan, Hashima berubah menjadi kota mati yang membeku dalam waktu. Sejak saat itu, alam perlahan mengambil alih apa yang pernah dibangun manusia di sana. Yuk, simak fakta-fakta tentang Pulau Hashima berikut ini!

1. Bangunan beton Hashima mulai retak sejak tahun pertama ditinggalkan

Pulau Hashima
Pulau Hashima (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

Konstruksi beton bertulang di Hashima sebetulnya dirancang untuk menahan badai dan gelombang laut yang keras. Namun, tanpa perawatan rutin, air laut yang mengandung garam mulai meresap ke dalam pori-pori beton dan mengoksidasi tulangan besi di dalamnya. Proses ini disebut karbonasi dan serangan klorida (chloride attack), dua mekanisme utama yang secara perlahan menghancurkan beton dari dalam. Retakan pertama mulai tampak dalam beberapa tahun setelah pulau dikosongkan.

Setelah retakan terbentuk, air hujan dan air laut masuk lebih dalam dan mempercepat kerusakan secara eksponensial. Bangunan apartemen berlantai sembilan yang dulu berdiri kokoh kini sebagian besar lantai atasnya sudah runtuh ke dalam. Beberapa struktur bahkan tinggal kerangka besinya saja, berdiri seperti tulang-tulang yang menunggu waktu untuk roboh sepenuhnya.

2. Vegetasi liar tumbuh menembus lantai dan dinding bangunan

Pulau Hashima
Pulau Hashima (commons.wikimedia.org/Nsxbln)

Tanpa manusia yang membersihkan, spora tumbuhan terbawa angin laut dan mulai berkoloni di retakan-retakan kecil di dinding dan lantai. Akar tanaman yang tampak kecil sekalipun mampu menghasilkan tekanan hingga beberapa megapascal, cukup untuk memperlebar retakan beton secara signifikan. Dalam 2 dekade, ruang-ruang yang dulu berupa kamar apartemen dan koridor sudah penuh ditumbuhi semak dan pohon kecil. Ini bukan proses yang lambat karena iklim lembap Nagasaki mempercepat segalanya.

Fenomena ini dalam ekologi disebut suksesi ekologi, proses bertahapnya komunitas tumbuhan yang menguasai kembali lahan yang sebelumnya dikelola manusia. Hashima kini menjadi salah satu contoh paling terdokumentasi dari proses ini di lingkungan perkotaan yang terisolasi. Peneliti dari Universitas Nagasaki secara berkala memantau perkembangan vegetasi di pulau ini sebagai data rewilding urban.

3. Populasi burung laut melonjak drastis setelah manusia angkat kaki

ilustrasi burung laut
ilustrasi burung laut (commons.wikimedia.org/kirinzi)

Selama pulau ini berpenghuni, kebisingan industri dan aktivitas manusia membuat hampir tidak ada satwa liar yang mau tinggal di sana. Setelah 1974, situasinya berbalik sepenuhnya. Berbagai spesies burung laut, seperti black-tailed gull, mulai menjadikan atap-atap bangunan yang rusak sebagai tempat bersarang. Dalam beberapa dekade, populasi burung di Hashima meningkat signifikan dan pulau ini berubah fungsi secara ekologis menjadi seabird colony.

Kotoran burung dalam jumlah besar juga mengubah komposisi tanah di permukaan pulau. Nitrogen dari guano memperkaya substrat yang tadinya miskin unsur hara sehingga mendukung pertumbuhan tanaman lebih cepat. Ini menciptakan siklus yang saling mendukung antara populasi burung dan vegetasi yang terus berkembang di atas reruntuhan.

4. Kelembapan laut mengubah interior bangunan menjadi ekosistem mikro tersendiri

Pulau Hashima
Pulau Hashima (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

Udara laut yang lembap dan garam masuk terus-menerus ke dalam bangunan yang sudah kehilangan jendela serta pintu. Kondisi ini menciptakan lingkungan dengan kelembapan sangat tinggi yang ideal bagi pertumbuhan lumut, jamur, dan berbagai mikroorganisme. Dinding-dinding interior yang dulu bercat putih kini tertutup lapisan biologis berwarna hijau, hitam, dan oranye dari berbagai koloni organisme.

Suhu yang relatif stabil di dalam bangunan memperkuat kondisi ini sepanjang tahun. Ilmuwan yang masuk ke dalam bangunan Hashima menemukan spesies jamur dan bakteri yang beradaptasi khusus terhadap lingkungan tinggi salinitas di sana. Beberapa di antaranya belum pernah teridentifikasi sebelumnya di lokasi lain. Hashima secara tidak sengaja menjadi laboratorium alami bagi penelitian mikrobiologi lingkungan ekstrem.

5. Hashima bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2015

Pulau Hashima
Pulau Hashima (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

Dalam kurun 50 tahun, sebuah kota yang pernah berfungsi penuh dengan infrastruktur lengkap berubah menjadi ekosistem yang didominasi alam. Ini jauh lebih cepat dari yang kebanyakan orang bayangkan karena faktor lokasi pesisir dengan paparan garam, angin, dan kelembapan tinggi mempercepat seluruh proses degradasi. Studi dari Nagasaki University menyebut Hashima sebagai model unik untuk memahami bagaimana lingkungan buatan manusia berdekomposisi ketika tidak lagi dirawat. Tidak banyak tempat di dunia yang kondisinya sangat murni dan terisolasi seperti ini untuk dijadikan objek penelitian.

UNESCO menetapkan Hashima sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia pada 2015. Bukan hanya karena nilai sejarahnya, melainkan juga karena kondisinya yang unik sebagai arsip fisik dari era industrialisasi Jepang. Ironisnya, kerusakannya justru menjadi daya tarik utama bagi ribuan turis yang datang setiap tahunnya dengan kapal dari Nagasaki. Pulau ini kini dijaga ketat dan pengunjung hanya boleh melihat dari area yang sudah ditetapkan karena bangunannya sewaktu-waktu bisa runtuh.

Hashima merupakan bukti nyata bahwa alam tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeklaim kembali apa yang pernah diambil manusia darinya. Lima puluh tahun cukup untuk mengubah kota padat menjadi ekosistem yang berfungsi sendiri di tengah laut. Apakah kota-kota lain yang ditinggalkan manusia akan mengalami nasib yang sama?

Referensi
"Explore the Abandoned Hashima Island". Art and Culture. Diakses April 2026.
"Exploring an Abandoned Island in Japan: The Infamous Gunkanjima". Resurface to Reality. Diakses April 2026.
"Gunkanjima". Japan Guide. Diakses April 2026.
"Why Hashima Island Was Abandoned: Coal, Decline, and UNESCO Heritage". Japan Uncharted. Diakses April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Science

See More