Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Burung Juga Buang Air Kecil? Ternyata Ini Fakta Ilmiahnya
Burung (pexels.com/Vogel)
  • Burung tidak memiliki kandung kemih; semua limbah cair dan padat dikeluarkan melalui satu lubang bernama kloaka yang juga berfungsi untuk sistem reproduksi.
  • Urin burung berbentuk asam urat berwarna putih, bukan urea seperti mamalia, sehingga membantu mereka menghemat air di berbagai lingkungan.
  • Sistem anatomi dan pencernaan burung dirancang efisien untuk terbang, dengan tulang ringan, organ menyatu, serta proses pencernaan cepat tanpa gigi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Burung adalah makhluk yang luar biasa, keberadaanya tersebar luas dengan segala karakteristik yang unik, entah dari visual dan perilakunya. Burung hadir dengan kombinasi warna yang menawan, beberapa memiliki kemampuan berkamuflase berkat warna-warna bulunya ini.

Tidak hanya bagian luarnya saja yang menarik untuk dipelajari, dengan memahami anatomi burung kamu juga akan mengetahui fakta bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki kandung kemih. Ini bukanlah suatu kekurangan yang perlu dikasihani. Tapi, jika tidak punya kandung kemih apakah burung buang air kecil? Lalu di mana burung-burung itu menyimpan urinnya? Nah, untuk menjawab rasa penasaran ini, yuk, simak penjelasannya berikut ini!

1. Anatomi tubuh burung

Burung madu berwajah biru (commons.wikimedia/Noel)

Burung merupakan kelas (Aves) dalam kerajaan hewan yang berisi hampir 11.000 spesies. Masing-masing spesies ini memiliki bulu, yang membedakannya dari semua makhluk lain di bumi. Burung juga identik dengan paruh dan dua tungkai belakang yang memungkinkan mereka untuk berjalam, berenang, atau bertengger. Tubuhnya juga dilengkapi sepasang sayap, atau tungkai depan, yang membantu sebagian besar spesies untuk terbang atau berenang.

Sistem anatomi burung mirip dengan mamalia, baik berdarah hangat atau endotermik. Bersama dengan vertebrata lainnya, burung memiliki sistem rangka, otot, peredaran darah, pencernaan, pernapasan, urinari, reproduksi, dan saraf. Mereka memiliki lapisan luar berupa kulit dan berbagai organ sensorik. Namun, setiap sistem memiliki adaptasi unik yang dirancang untuk memungkinkan burung terbang.

Bagian bulunya adalah penutup tubuh ringan yang mengisolasi dan melindungi burung. Bulu-bulu besar dan bersirip pada sayap dan ekor memberikan sebagian besar burung daya angkat aerodinamis dan kemampuan manuver yang dibutuhkan untuk terbang. Beberapa burung dibekali kemampuan berkamuflase dengan mengandalkan bentuk, warna, dan ukuran.

Sistem kerangkannya terdiri dari banyak tulang yang berongga atau berisi udara. Namun, tulang-tulang penopangnya sangat termineralisasi dan sangat kuat. Beberapa tulang yang ditemukan pada reptil dan mamalia tidak ada pada burung, tulang-tulang lainnya menyatu. Terdapat juga lebih banyak vertebrata serviks di leher burung dan vertebrata tersebut sangat fleksibel, memungkinkan pergerakan kepala dan leher yang besar.

Sistem peredaraan burung dan mamalia juga nyaris sama persis. Selain itu, burung memiliki empat jantung dengan empat bilik. Eritrosit pembawa oksigen pada burung lebih besar daripada eritrosit pada mamalia dan, tidak seperti eritrosit mamalia, memiliki inti sel. Denut jantung merupakan fungsi dari aktivitas, suhu lingkungan, dan ukuran tubuh.

Pada bagian paruhnya menyimpan banyak fungsi, seperti mencari makanan, menangkap, menghancurkan, merobek, dan menelan. Paruh yang tidak bergigi dapat menggiling atau mengunyah makanan tetapi meneruskannya ke faring, di sebelah kerongkongan, dan kemudian ke ruang penyimpanan, tembolok. Makanan akhirnya diteruskan ke lambung kelenjar, tempat pencernaan dimulai, dan kemudian ke ampela berotot yang, dengan bantuan lapisan tanduk dan kerikil atau pasir, menggiling dan mencernanya lebih lanjut.

Ampela kemudian mengarah ke usus, tempat sekresi dari hati dan pankreasi membantu pencernaan. Kotoran dibuang ke ruang kloaka. Ruang kloaka juga merupakan ujung dari sistem urin dan reproduksi. Kloaka adalah satu-satunya lubang posterior pada burung, karena semua organ seks berada di dalam, termasuk penis dan testis.

2. Sistem pencernaan burung

Burung Northern Cardinal (commons.wikimedia/Rhododendrites)

Sistem pencernaan didefinisikan sebagai alat yang memungkinkan burung untuk menangkap dan menelan makanan, saluran berotot (esofagus, proventrikulus, ampela, usus) yang mengangkut makanan ke seluruh tubuh, kelenjar ludah dan pankreasi yang menghasilkan enzim pencernaan, serta hati yang mengeluarkan empedu untuk pencernaan lemak. Berikut adalah anatomi saluran pencernaan pada burung:

  • Paruh, mulut, dan faring

Paruh adalah organ utama untuk mengambil makanan dan dapat menghancurkan, merobek, atau menahan makanan sebelum menelan. Burung tidak memiliki gigi, tetapi tepi paruh seringkali keras dan mungkin memiliki tonjolan untuk membantu menggenggam makanan. Adanya tonjolan atau papila pada langit-langit mulut atas juga dapat membantu mengambil makanan.

  • Kerongkongan dan tembolok

Esofagus adalah tabung berotot yang mengangkut makanan dari faring ke proventrikulus. Karena makanan ditelan (burung jarang mengunyah) secara utuh, esofagus harus cukup elastis. Esofagus memiliki dinding berotot ganda dan kelenjar lendir untuk melumasi saluran, memudahkan pergerakan makanan.

Kontraksi otot mendorong makanan ke bawah saluran pencernaan. Burung unggas memiliki tembolok, divertikulum esofagus, yang menampung makanan sebelum pencernaan lebih lanjut dimulai. Kapasitas ini memungkinkan burung untuk mengonsumsi makanan sebagai 'makanan utuh' sekaligus sambil etap memungkinkan pencernaan berkelanjutan. Tembolok memiliki lapisan (mukosa) halus berwarna putih hingga merah muda.

  • Proventrikulus dan Gizzard

'Lambung' unggas terdiri dari dua ruang ini. Proventriulus lebih menyerupai lambung mamalia. Proventriulus dilapisi oleh kelenjar majemuk yang mengeluarkan lendir, pepsin, dan asam klorida.

  • Usus halus

Usus dilapisi oleh lipatan atau vili dengan kapasitas penyerapan yang besar. Panjang usus bervariasi pada burung, tetapi cenderung lebih pendek berdasarkan berat badan dibandingkan dengan mamalia. Di sinilah sebagian besar makanan dicerna dan diserap secara enzimatik.

  • Sekum

Ini adalah kantung buntu berpasangan yang melekat pada persimpangan ileum dan kolon. Isi sekum berbeda dari isis usus halus dan kolon, memiliki konsistensi yang sedikit kering hingga seperti tar. Sekum jarang dikosongkan (beberapa kali sehari) dibandingkan dengan kolon. Sekum berfungsi sebagai tempat penyerapan cairan (bersama dengan segmen usus bagian bawah ) dan penyerapan asam amino dan karbohidrat yang terbatas.

  • Usus besar dan kloaka

Usus besar (rektum) cenderung lebih pendek dan menghubungkan ileum dengan kompartemen kloaka. Kloaka dan usus besar penting untuk reabsorpsi air dari saluran pencernaan. Kloaka berfungsi sebagai jalur akhir umum untuk saluran kemih (urat), saluran pencernaan (tinja), dan saluran reproduksi. Usus besar bermuara ke bagian paling atas, yaitu koprodeum. Saluran kemih dan daluran reproduksi bermuara ke kompartemen tengah dan kecil, yaitu urodeum. Kompartemen terakhir, proktodeum, terbuka ke luar (anus) dan berisi bursa fabricius.

  • Pankreas

Jaringan berwarna kemerahan hingga coklat muda yang terletak di dalam lengkung duodenum. Melepaskan insulin (fungsi endokrin) ke dalam aliran darah dan mengeluarkan amilase, lipase, enzim proteolitik, dan natrium bikarbonat (fungsi eksokrin) ke dalam lumen duodenum..

  • Hati

Terdapat lobus kanan dan kiri yang menyatu di garis tengah. Lobus kanan adalah yang terbesar pada unggas. Hati menghasilkan empedu yang diangkut ke lumen duodenum melalui dua saluran. Empedu menghasilkan lipid sehingga dapat lebih mudah dicerna oleh lipase.

3. Apakah burung memproduksi urin?

Burung gagak (pexels.com/Nilim)

Sama halnya dengan makhluk lain, burung juga menghasilkan urin, namun urin yang diproduksi komponennya berbeda dengan mamalia. Dalam hal ini, burung seperti mamalia, memiliki ginjal yang menyaring darah dan mengatur keseimbangan air dan garam, mengirimkan limbah untuk dikeluarkan dari tubuh. Pada burung, limbah nitrogen dari metabolisme asam amino diubah menjadi asam urat. Ini dikeluarkan dalam produk yang berfungsi sama seperti urin berbasis urea, tetapi komponennya yang berbeda membuatnya tampak berbeda juga. Urin burung adalah suspensi cairan putih yang penuh dengan kristal asam urat.

Tujuan dari urin berbasis asam urat ini berkaitan dengan penghematan air. Burung hidup di berbagai lingkungan yang kemungkinan menyebabkan dehidrasi, sehingga burung memiliki adaptasi yang membantu mereka menghemat air. Asam urat tidak mudah larut dalam air, sehingga dapat dikeluarkan dengan air yang jauh lebih sedikit daripada urea. Jadi, burung memang menghasilkan jenis urin yang membuang limbah tubuh, tetapi mereka kehilangan air jauh lebih sedikit dalam proses ini.

Perlu diketahui bahwa burung tidak memiliki kandung kemih untuk menyimpan urine. Jadi, ketika ginjal burung menghasilkan urin berbasis asam urat, urin ini bergerak melalui ureter dan mencapai ruang di kloaka burung, yang memiliki lubang yang dapat mengangkut material ke luar tubuh. Ruang kloaka juga menerima dan mengeluarkan feses dari usus dan zat reproduksi seperti sprema,

Lalu bagaimana burung mengeluarkan urin dari tubuhnya? Melansir Britannica.com. burung tidak mengeluarkan urine dari tubuh melalui lubang di ujung uretra. Setelah urine melewati ureter untuk mencapai ruang kloaka, urine dan feses bercampur dan keluar dari tubuh burung melalui lubang kloaka. Dengan demikian, lumpur putih yang biasa disebut kotoran burung sebenarnya adalah campuran urine dan feses burung, dan bahkan, seringkali mengandung padatan gelap yang terlihat.

Pada manusia sendiri, urine keluar melalui lubang di ujung uretra, sedangkan feses keluar melalui anus (dua lubang tang tepisah). Sementara itu, pada burung, kloaka berfungsi untuk kedua tujuan tersebut. Kloaka juga merupakan lubang untuk materi reproduksi, memungkinkan sperma keluar dari tubuh pada burung jantan dan mengarah ke oviduk dan ovarium pada burung betina.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa secara teknis burung tidak memiliki kandung kemih untuk menyimpan urin. Burung mengeluarkan limbah cair yang bercampur dengan feses melalui satu lubang yang disebut kloaka. Limbah gabungan ini sering terlihat sebagai zat encer berwarna putih yang mengandung potongan-potongan feses berwarna gelap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article