Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Megathrust Bisa Diprediksi? Ini Penjelasan Ahli

Apakah Megathrust Bisa Diprediksi? Ini Penjelasan Ahli
ilustrasi gempa bumi (unsplash.com/Anastasia R.)
  • Waktu gempa megathrust belum bisa diprediksi secara pasti.

  • Peneliti hanya menghitung akumulasi energi dan probabilitas, sementara seismic gap bukan tanda gempa akan segera terjadi.

  • Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat 14 zona megathrust, dengan potensi magnitudo terbesar di Aceh-Andaman 9,2 dan Jawa 9,1.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Megathrust merupakan zona pertemuan lempeng tektonik yang dapat memicu gempa bumi berkekuatan besar. Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire memiliki sejumlah zona megathrust sehingga beberapa wilayah berisiko mengalami gempa kuat yang juga dapat memicu tsunami.

Kekhawatiran mengenai potensi gempa besar kemudian memunculkan pertanyaan, apakah megathrust bisa diprediksi? Menurut ahli, waktu terjadinya gempa megathrust belum dapat diketahui secara pasti karena peneliti hanya dapat menghitung akumulasi energi dan memperkirakan probabilitasnya. Untuk memahami lebih jauh mengenai potensi megathrust dan cara mengantisipasi risikonya, simak penjelasan berikut.

  1. 1. Apakah megathrust bisa diprediksi?

    Megathrust merupakan patahan atau sesar naik berskala sangat besar yang terbentuk di batas pertemuan dua lempeng tektonik. Di Indonesia, salah satu zona megathrust terbentuk akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Mengingat ukurannya yang luas dan kemampuannya menyimpan energi dalam jumlah besar, pergerakan pada zona ini dapat memicu gempa bumi dengan magnitudo sangat besar.

    Secara ilmiah, waktu terjadinya gempa megathrust belum dapat diprediksi secara pasti, termasuk tanggal, jam, maupun lokasi tepatnya. Peneliti Ahli Utama Geologi Kuarter dan Paleotsunami BRIN, Eko Yulianto, menjelaskan bahwa gempa memang memiliki sifat berulang, tetapi periodenya tidak selalu sama. Jadi, anggapan bahwa gempa besar akan terjadi tepat setiap 200 tahun tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan kapan gempa berikutnya terjadi.

    Para peneliti saat ini lebih mengandalkan perhitungan akumulasi energi atau slip deficit serta proyeksi probabilitas untuk melihat potensi terjadinya gempa. Pergerakan satu lempeng juga dapat melibatkan segmen di sekitarnya dalam sebuah super cycle, seperti yang terjadi pada gempa Samudra Hindia 2004 dan Jepang 2011. Kondisi tersebut membuat penentuan tanggal dan jam terjadinya gempa menjadi mustahil secara sains. Bahkan, keberadaan seismic gap hanya menunjukkan bahwa suatu zona belum mengalami gempa besar dalam waktu lama, bukan berarti gempa pasti terjadi dalam waktu dekat.

  2. 2. Daftar 14 zona megathrust di Indonesia

    Daftar 14 zona megathrust di Indonesia
    Peta zona megathrust di Indonesia dan sekitarnya (ciptakarya.pu.go.id)

    Indonesia memiliki sejumlah zona megathrust yang tersebar di sepanjang batas lempeng tektonik. Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 zona megathrust dengan potensi magnitudo maksimum sebagai berikut:

    1. Aceh-Andaman: magnitudo 9,2
    2. Nias-Simeulue: magnitudo 8,7
    3. Batu: magnitudo 7,8
    4. Mentawai-Siberut: magnitudo 8,9
    5. Mentawai-Pagai: magnitudo 8,9
    6. Enggano: magnitudo 8,9
    7. Jawa: magnitudo 9,1
    8. Jawa bagian barat: magnitudo 8,9
    9. Jawa bagian timur: magnitudo 8,9
    10. Sumba: magnitudo 8,9
    11. Sulawesi Utara: magnitudo 8,5
    12. Palung Cotobato: magnitudo 8,3
    13. Filipina Selatan: magnitudo 8,2
    14. Filipina Tengah: magnitudo 8,1

    Dari sejumlah zona tersebut, Selat Sunda dan Mentawai-Siberut kerap menjadi perhatian karena tercatat mengalami seismic gap. Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menjelaskan bahwa seismic gap merupakan zona sumber gempa aktif yang belum mengalami gempa besar selama puluhan hingga ratusan tahun dan diyakini masih mengalami akumulasi energi.

    Wilayah selatan Banten dan Selat Sunda disebut mengalami kekosongan gempa besar sejak 1757, sedangkan Mentawai dan Siberut sejak 1797. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti gempa megathrust pasti terjadi dalam waktu dekat. Zona Selat Sunda menjadi perhatian khusus karena gempa besar di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak ke wilayah Jakarta dan Jawa Barat.

  3. 3. Apa yang harus dilakukan saat gempa berpotensi memicu tsunami?

    Mengingat waktu terjadinya gempa megathrust tidak dapat diketahui secara pasti, kesiapsiagaan menjadi hal yang penting untuk mengurangi risiko korban. Beberapa langkah berikut dapat dilakukan masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan gempa dan pesisir:

    • Segera berlindung saat gempa terjadi

    Ketika guncangan mulai terasa, lindungi kepala dan tubuh dengan berlindung di bawah meja atau benda yang kokoh. Jauhi kaca, lemari, atau benda lain yang berisiko jatuh. Setelah guncangan berhenti, keluar dari bangunan dengan tetap berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.

    • Segera evakuasi jika berada di wilayah pesisir

    Masyarakat yang merasakan gempa sangat kuat atau berlangsung lama sebaiknya segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi. Evakuasi tidak perlu menunggu pengumuman resmi karena tsunami lokal dapat mencapai daratan hanya dalam beberapa menit setelah gempa.

    • Jangan kembali ke pantai setelah gelombang pertama

    Tsunami dapat datang dalam beberapa gelombang dan gelombang berikutnya belum tentu lebih kecil. Karena itu, tetap berada di tempat aman sampai ada informasi resmi bahwa kondisi sudah benar-benar aman.

    • Kenali jalur dan lokasi evakuasi sejak sebelum bencana

    Mengetahui rute menuju tempat tinggi atau titik evakuasi dapat mempercepat proses penyelamatan ketika gempa terjadi. Informasi tersebut sebaiknya diketahui seluruh anggota keluarga, termasuk lokasi pertemuan apabila terpisah saat melakukan evakuasi.

    • Jadikan guncangan kuat sebagai peringatan alami

    Masyarakat di pesisir perlu memahami bahwa tubuh sendiri dapat menjadi sensor awal. Jika merasakan guncangan yang sangat kuat atau berlangsung lama, jangan menunggu kepastian mengenai potensi tsunami. Segera bergerak menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih aman.

    Jadi, apakah megathrust bisa diprediksi secara pasti masih belum memungkinkan dengan teknologi dan metode ilmiah saat ini. Meski demikian, informasi mengenai zona rawan dan potensi gempa dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Semoga ulasan ini bisa bermanfaat, ya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More