Letusan mungkin sudah berhenti, tetapi kondisi di sekitar gunung belum tentu langsung kembali seperti sebelumnya. Mengapa hujan bisa menjadi pemicu lahar setelah erupsi?
Kenapa Hujan Lebat Bisa Memicu Lahar setelah Erupsi? Ini Alasannya!

- Erupsi meninggalkan abu, pasir, kerikil, dan batuan lepas di lereng yang mudah terkikis hujan deras karena belum terikat kuat oleh vegetasi atau tanah.
- Hujan berintensitas tinggi mengalir di permukaan, mengangkut endapan vulkanik menuju lembah dan sungai hingga membentuk campuran air serta sedimen bernama lahar.
- Saat menuruni lereng, lahar dapat mengikis saluran dan menambah material, lalu mengikuti sungai hingga mencapai wilayah puluhan kilometer dari gunung.
1. Erupsi meninggalkan banyak material di lereng

ilustrasi erupsi (commons.wikimedia.org/Mamoxfwidayat) Erupsi tidak hanya menghasilkan lava. Letusan juga dapat mengeluarkan abu vulkanik, pasir, kerikil, hingga batuan yang kemudian jatuh dan menumpuk di lereng gunung. Sebagian material bisa tersebar cukup jauh, tetapi sebagian lainnya tetap berada di sekitar puncak, lereng, lembah, dan alur sungai. Endapan baru tersebut menjadi sumber material yang dapat bergerak kembali ketika terkena air dalam jumlah besar.
Material vulkanik hasil erupsi masih relatif lepas dan belum terikat kuat oleh akar tanaman atau proses pembentukan tanah. Kondisi tersebut membuatnya lebih mudah terkikis dibandingkan permukaan tanah yang sudah terbentuk lebih lama. Ketika hujan deras turun, endapan ini dapat terbawa bersama air dari lereng menuju bagian gunung yang lebih rendah dan menjadi bahan pembentuk lahar.
2. Hujan deras mengikis material vulkanik

ilustrasi hujan (unsplash.com/A A) Ketika hujan turun di lereng, sebagian air meresap ke tanah dan sebagian lainnya mengalir di permukaan. Jika hujan berlangsung deras, jumlah air yang mengalir di permukaan dapat meningkat sehingga kemampuan air untuk mengikis material juga semakin besar. Abu, pasir, dan material vulkanik lain yang berada di permukaan kemudian dapat terbawa oleh aliran tersebut, terutama pada lereng curam dengan banyak endapan baru.
Gunung Pinatubo di Filipina menjadi salah satu contoh yang menunjukkan besarnya pengaruh hujan terhadap endapan setelah erupsi. Letusan pada 1991 meninggalkan sekitar 5 kilometer kubik abu vulkanik dan pecahan batu di lereng gunung. Hujan deras kemudian mengangkut material tersebut menjadi lahar, dan selama empat musim hujan berikutnya aliran lahar membawa sekitar setengah dari endapan tersebut menjauh dari gunung.
3. Material yang terbawa air berkumpul di sungai

ilustrasi sungai (commons.wikimedia.org/くろふね) Air dari berbagai bagian lereng pada akhirnya akan mencari jalur menuju tempat yang lebih rendah. Di kawasan gunung api, jalur tersebut dapat berupa lembah, parit alami, atau sungai yang berhulu di lereng gunung. Aliran dari beberapa bagian lereng juga dapat bertemu di jalur yang sama sehingga jumlah air dan material yang dibawa ikut bertambah.
Ketika material vulkanik yang terbawa air masuk ke saluran yang sama, konsentrasinya menjadi semakin tinggi. Air kemudian tidak lagi membawa sedikit pasir atau abu, tetapi dapat membawa campuran sedimen dalam jumlah besar. Campuran air, material vulkanik, dan sedimen yang bergerak melalui saluran gunung inilah yang disebut lahar.
4. Aliran lahar bisa membawa material lebih banyak

ilustrasi material dari gunung berapi (commons.wikimedia.org/Gajahsolo) Lahar tidak selalu memiliki ukuran dan kandungan material yang sama sejak pertama kali terbentuk. Ketika bergerak menuruni lereng, aliran lahar dapat mengikis dasar maupun sisi saluran yang dilewatinya. Material baru yang terlepas kemudian ikut masuk ke dalam aliran sehingga jumlah material yang terbawa dapat bertambah sepanjang perjalanan.
Proses tersebut membuat volume lahar dapat meningkat ketika aliran terus bergerak. Perbandingan antara air dan sedimen juga dapat berubah sehingga sifat alirannya ikut berubah. Pada kondisi tertentu, lahar bahkan dapat membawa batu berukuran besar, kayu, dan berbagai material lain yang berada di jalurnya.
5. Sungai menjadi jalur alami bagi lahar

ilustrasi sungai (commons.wikimedia.org/James St. John) Gravitasi membuat air dan material yang terbawa bergerak dari tempat tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Bentuk permukaan gunung kemudian menentukan arah pergerakannya, sementara lembah dan sungai menyediakan jalur yang relatif mudah dilalui. Saluran sungai juga dapat membuat aliran menjadi lebih terkonsentrasi sehingga material yang terbawa bergerak bersama menuju wilayah yang lebih rendah.
Karena itu, dampak lahar tidak hanya dirasakan di lereng gunung. Aliran dapat bergerak mengikuti jaringan sungai dan mencapai wilayah yang cukup jauh dari sumbernya. Beberapa lahar dapat menempuh jarak puluhan kilometer melalui alur sungai yang berasal dari gunung api, sehingga wilayah di sepanjang sungai tetap perlu memperhatikan potensi lahar setelah erupsi.
Gunung berapi memiliki proses yang jauh lebih kompleks daripada sekadar letusan terlihat dari kejauhan. Perubahan di sekitarnya tetap berlangsung setelah aktivitas erupsi mereda, termasuk ketika musim hujan tiba. Karena itu, memahami apa yang terjadi setelah erupsi sama pentingnya dengan mengetahui tanda-tanda saat gunung mulai menunjukkan peningkatan aktivitas.
Referensi
"Lahar triggered by heavy rainfall after an eruption." USGS. Diakses pada September 2026.
"Rain-triggered lahars following the 2010 eruption of Merapi volcano, Indonesia: A major risk." Journal of Volcanology and Geothermal Research. Diakses pada September 2026.



















![[QUIZ] Kami Tahu Hewan Apa yang Paling Kamu Takuti](https://image.idntimes.com/post/20190228/demilked-com-c139839be2dbdd19ffc2c923dd9b1848.jpg)
![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Jadi Anak IPA, IPS atau Bahasa? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20190620/825389503-9de309549f24d09a573e0889e51f4a47.jpg)
