Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gempa Bisa Disertai Suara Ledakan atau Dentuman?

Kenapa Gempa Bisa Disertai Suara Ledakan atau Dentuman?
Ilustrasi Gempa Bumi. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Getaran gempa di permukaan dapat menekan udara dan menghasilkan gelombang suara; pada gempa kuat serta dangkal, sebagian frekuensinya terdengar sebagai gemuruh, deru, atau dentuman.
  • Suara mirip ledakan dapat muncul dari energi seismik dangkal, retakan atau pergeseran batuan dekat permukaan, serta getaran bangunan dan bentuk tanah yang memperkuat bunyi.
  • Suara terkait gempa dapat merambat jauh melalui atmosfer, tetapi tidak semua dentuman berasal dari gempa; seismolog membedakannya melalui rekaman dan karakter gelombang seismometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gempa bumi biasanya identik dengan tanah yang tiba-tiba berguncang. Namun, dalam beberapa kejadian, orang-orang juga melaporkan mendengar suara aneh sebelum atau saat gempa terjadi. Suaranya bisa berupa dentuman keras, gemuruh, deru panjang, bahkan terdengar seperti ledakan.

Suara tersebut bukan sekadar perasaan karena panik saat gempa. Getaran gempa memang dapat menghasilkan gelombang suara yang merambat melalui udara. Lantas, bagaimana getaran dari dalam bumi bisa berubah menjadi suara yang terdengar seperti ledakan?

  1. 1. Getaran tanah bisa berubah menjadi suara

    Gempa bumi terjadi ketika energi yang tersimpan di dalam kerak bumi dilepaskan secara tiba-tiba. Energi tersebut kemudian merambat dalam bentuk gelombang seismik melalui batuan.

    Ketika gelombang seismik mencapai permukaan, tanah ikut bergerak dan bergetar. Pergerakan ini tidak hanya dirasakan oleh tubuh, tetapi juga dapat mendorong dan menekan udara di atas permukaan tanah.

    Sederhananya, tanah yang bergerak dapat bekerja seperti diafragma pengeras suara berukuran sangat besar. Gerakannya membuat tekanan udara berubah dan menghasilkan gelombang suara yang merambat melalui atmosfer.

    Salah satu gelombang yang berperan adalah gelombang primer atau P-wave. Gelombang ini bergerak paling cepat dibandingkan gelombang seismik utama lainnya sehingga dapat mencapai permukaan lebih dahulu.

    Sebagian suara yang dihasilkan gempa memiliki frekuensi sangat rendah, bahkan berada di bawah batas pendengaran manusia. Namun, pada gempa yang kuat dan dangkal, sebagian energinya dapat berada dalam rentang yang bisa didengar telinga. Inilah yang membuat orang terkadang mendengar suara seperti gemuruh, deru, atau dentuman dari arah tanah.

  2. 2. Kenapa suaranya bisa terdengar seperti ledakan?

    Tidak semua suara akibat gempa terdengar sama. Ada yang berupa gemuruh panjang, tetapi ada pula yang terdengar seperti suara meriam atau ledakan singkat. Beberapa kondisi dapat membuat suara gempa terdengar lebih keras dan tajam.

    Salah satunya adalah kedalaman sumber gempa. Gempa yang terjadi relatif dangkal dapat membuat energi seismik mencapai permukaan dengan lebih cepat dan kuat. Pergerakan tanah yang berlangsung tiba-tiba dapat menghasilkan gelombang tekanan di udara yang terdengar seperti bunyi “boom”.

    Selain itu, patahan batuan di dekat permukaan juga dapat menghasilkan suara. Ketika batuan retak atau bergeser secara mendadak di sepanjang sesar, energi elastis yang tersimpan di dalamnya dilepaskan. Jika proses tersebut terjadi cukup dekat dengan permukaan, sebagian energinya dapat menghasilkan suara yang terdengar seperti bunyi letupan.

    Kondisi lingkungan juga ikut memengaruhi. Bangunan, jembatan, atau bentuk permukaan tanah tertentu dapat bergetar mengikuti gelombang gempa. Jika frekuensi getarannya saling memperkuat, suara yang dihasilkan bisa terasa lebih keras atau terdengar lebih khas.

    Karena itu, suara ledakan yang terdengar saat gempa sebenarnya bisa merupakan gabungan beberapa hal. Dentuman awal dapat berasal dari energi yang mencapai permukaan lebih dulu, kemudian disusul getaran yang lebih kuat ketika gelombang seismik lainnya tiba.

  3. 3. Suara gempa bisa terdengar dari jarak jauh

    pexels-samimibirfotografci-319596948-15545135.jpg
    ilustrasi gempa bumi (pexels.com/samimibirfotografci)

    Menariknya, suara yang berkaitan dengan gempa tidak selalu hanya terdengar di sekitar episentrum. Dalam kondisi tertentu, gelombang suara dapat merambat cukup jauh melalui atmosfer.

    Lapisan udara di atmosfer memiliki perbedaan suhu dan kecepatan angin. Kondisi tersebut dapat membelokkan atau “menyalurkan” gelombang suara sehingga energinya mampu menempuh jarak yang lebih jauh sebelum kembali terdengar di permukaan.

    Fenomena ini dikenal sebagai atmospheric ducting. Mekanisme tersebut dapat membuat suara berfrekuensi rendah dari suatu peristiwa terdengar di lokasi yang cukup jauh dari sumbernya.

    Gempa bawah laut dan aktivitas vulkanik juga dapat menghasilkan suara atau gelombang tekanan yang merambat melalui air dan kemudian memengaruhi atmosfer. Dalam kondisi tertentu, suara tersebut bahkan dapat terdengar hingga jauh dari lokasi sumbernya.

  4. 4. Tidak semua dentuman berasal dari gempa

    Meski suara dentuman bisa menyertai gempa, bukan berarti setiap suara ledakan misterius yang terdengar di suatu wilayah pasti disebabkan oleh gempa. Fenomena lain juga dapat menghasilkan suara serupa. Misalnya, sonic boom dari pesawat, ledakan industri, meteor yang memasuki atmosfer, hingga frost quake atau gempa akibat pembekuan tanah.

    Para seismolog dapat membedakan sumber-sumber tersebut dengan menganalisis rekaman dari jaringan seismometer. Kecepatan gelombang, karakter frekuensi, serta waktu kedatangan gelombang di beberapa sensor dapat membantu menentukan apakah suatu dentuman memang berkaitan dengan aktivitas seismik.

  5. 5. Mengapa suara gempa tidak selalu terdengar oleh semua orang?

    Tidak semua orang yang berada di sekitar lokasi gempa akan mendengar suara yang sama. Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan dan kedalaman gempa, jarak dari sumber, kondisi tanah, hingga frekuensi suara yang dihasilkan. Sebagian energi gempa berada pada frekuensi sangat rendah sehingga tidak dapat ditangkap telinga manusia.

    Selain itu, bangunan dan kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi suara yang sampai ke telinga. Karena itu, dalam satu kejadian gempa, seseorang mungkin mendengar dentuman keras, sementara orang lain hanya merasakan getaran tanpa mendengar suara apa pun.

    Jadi, ketika gempa terasa seperti disertai suara “boom”, suara tersebut tidak selalu berarti ada ledakan yang terjadi di sekitar. Bisa saja, yang terdengar adalah energi gempa yang untuk sesaat berubah dari getaran bumi menjadi suara di udara.

    Referensi

    GeoQuake. Diakses pada September 2026. Earthquake Sounds
    Live Science. Diakses pada September 2026. How Earthquakes Make the Ground Go Boom
    Newsweek. Diakses pada September 2026. What Is a Sonic Boom? Here’s What Causes It And Why It’s Not an Earthquake
    Sciencenorway.no. Diakses pada September 2026. Where does the Sound During an Earthquake Come From?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More