Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana Gunung Memengaruhi Terbentuknya Awan?

Bagaimana Gunung Memengaruhi Terbentuknya Awan?
ilustrasi gunung (pexels.com/Hartono Subagio)
  • Gunung memaksa udara lembap naik di lereng, lalu tekanan dan suhu turun hingga uap air mengembun menjadi awan melalui pengangkatan orografis.
  • Proses pegunungan membentuk awan khas seperti cap cloud, lentikular, dan orographic stratus; gelombang atmosfernya juga dapat memicu turbulensi penerbangan.
  • Lereng menghadap angin cenderung lebih basah karena hujan, sedangkan sisi belakang menghangat dan mengering, menciptakan efek bayangan hujan serta memengaruhi pola cuaca luas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu melihat awan yang seolah-olah menggantung tepat di atas puncak gunung? Pemandangan seperti ini bukan sekadar kebetulan. Gunung ternyata punya peran penting dalam membantu terbentuknya awan, bahkan dapat menentukan apakah suatu wilayah menjadi lebih basah atau justru lebih kering.

Fenomena tersebut terjadi karena keberadaan gunung dapat memaksa udara bergerak naik. Ketika udara yang mengandung banyak uap air naik ke tempat yang lebih tinggi, suhunya menurun. Jika cukup dingin, uap air akan mengembun dan membentuk awan. Proses ini dikenal sebagai pengangkatan orografis atau orographic lift. Mari, kita bahas lebih dalam bagaimana gunung memengaruhi terbentuknya awan!

  1. 1. Bagaimana gunung bisa membentuk awan

    Ketika massa udara lembap bergerak menuju pegunungan, jalurnya terhalang oleh lereng gunung. Udara kemudian terdorong untuk bergerak naik mengikuti lereng di sisi gunung yang menghadap arah datangnya angin.

    Semakin tinggi udara bergerak, tekanan atmosfer yang diterimanya semakin rendah. Akibatnya, udara mengembang dan suhunya turun. Secara umum, udara kering dapat mengalami penurunan suhu sekitar 10 derajat Celsius setiap naik 1.000 meter.

    Jika udara terus mendingin hingga mencapai titik embun, uap air di dalamnya mulai mengalami kondensasi menjadi tetesan air berukuran sangat kecil. Kumpulan tetesan inilah yang kemudian terlihat sebagai awan.

    Jadi, gunung sebenarnya tidak menciptakan air atau awan dari nol. Gunung berperan sebagai penghalang yang memaksa udara lembap naik hingga kondisi atmosfer memungkinkan terbentuknya awan.

  2. 2. Jenis awan yang sering terbentuk di pegunungan

    Pengaruh gunung terhadap pergerakan udara dapat menghasilkan beberapa bentuk awan yang khas. Salah satunya adalah cap cloud, yaitu awan yang tampak seperti selimut atau tudung yang menyelimuti puncak gunung.

    Ada pula awan lentikular yang bentuknya menyerupai piring atau lensa dan sering terlihat bertumpuk di sekitar pegunungan. Awan ini terbentuk akibat gelombang udara yang muncul ketika angin melewati pegunungan.

    Selain itu, udara lembap yang terus terdorong naik di sepanjang lereng dapat menghasilkan awan berlapis yang disebut orographic stratus. Bentuk dan keberadaan awan-awan tersebut juga dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi angin dan kestabilan atmosfer di sekitar gunung.

  3. 3. Mengapa satu sisi gunung lebih basah

    Kawasan Gunung Bromo
    ilustrasi gunung (pexels.com/Faisal Hendra)

    Pengaruh gunung terhadap awan tidak berhenti setelah awan terbentuk. Pegunungan juga dapat menyebabkan perbedaan curah hujan yang cukup besar antara dua sisi gunung.

    Di sisi yang menghadap datangnya angin atau windward side, udara lembap dipaksa naik. Proses pendinginan dan kondensasi kemudian meningkatkan kemungkinan terbentuknya awan dan hujan. Karena itu, lereng yang menghadap angin biasanya menerima lebih banyak curah hujan.

    Setelah melewati puncak, udara bergerak turun di sisi lain atau leeward side. Saat turun, udara mengalami pemampatan dan menghangat. Kondisi ini membuat kelembapannya relatif berkurang sehingga pembentukan awan menjadi lebih sulit.

    Akibatnya, wilayah di balik pegunungan dapat menjadi jauh lebih kering. Fenomena ini dikenal sebagai rain shadow effect atau efek bayangan hujan. Salah satu contoh terkenalnya adalah wilayah kering di sekitar Pegunungan Andes yang berkontribusi terhadap kondisi sangat kering Gurun Atacama.

  4. 4. Gunung juga bisa membentuk gelombang di atmosfer

    Selain mendorong udara ke atas, pegunungan dapat menghasilkan pola gelombang di atmosfer. Ketika udara yang stabil melewati punggungan gunung, alirannya dapat bergerak naik dan turun seperti gelombang.

    Pada bagian udara yang bergerak naik, suhu menurun sehingga awan dapat terbentuk. Sebaliknya, ketika udara turun, suhu meningkat dan awan dapat menghilang.

    Gelombang ini bahkan dapat menjalar cukup jauh hingga ratusan kilometer dari pegunungan. Dalam kondisi tertentu, pola tersebut juga dapat menghasilkan turbulensi yang perlu diperhatikan dalam penerbangan.

  5. 5. Pengaruhnya tidak hanya di sekitar gunung

    Pengaruh pegunungan terhadap awan dan cuaca ternyata bisa jauh lebih luas. Pegunungan besar dapat mengubah arah aliran udara, memengaruhi distribusi kelembapan, serta berperan dalam pola curah hujan suatu wilayah.

    Sebagai contoh, Pegunungan Himalaya memiliki pengaruh penting terhadap sistem monsun Asia Selatan. Dengan mengubah pergerakan udara dan membantu mengangkat massa udara lembap, pegunungan tersebut ikut memengaruhi distribusi hujan di kawasan yang sangat luas.

    Artinya, gunung bukan hanya bentang alam yang menjulang tinggi di permukaan Bumi. Keberadaannya juga ikut mengatur perjalanan udara di atmosfer.

  6. 6. Jadi, apa hubungan antara gunung dan awan

    ilustrasi panorama sekitar Gunung Rinjani (unsplash.com/Danny Schleicher)
    ilustrasi gunung (unsplash.com/Danny Schleicher)

    Secara sederhana, hubungan keduanya bermula ketika gunung memaksa udara lembap naik. Udara yang naik kemudian mendingin hingga mencapai titik embun. Uap air mengalami kondensasi dan terbentuklah awan.

    Namun, efeknya tidak berhenti di sana. Pegunungan juga dapat memengaruhi jenis awan, curah hujan, kelembapan, hingga tingkat kekeringan di wilayah yang berada di baliknya.

    Jadi, ketika melihat awan yang menyelimuti puncak gunung, sebenarnya kita sedang menyaksikan salah satu contoh bagaimana permukaan Bumi dan atmosfer saling berinteraksi. Gunung yang tampak diam ternyata dapat memainkan peran besar dalam menentukan ke mana awan bergerak dan di mana hujan turun.

    Referensi

    National Centre for Atmospheric Science. Diakses pada Agustus 2026. Why do Mountains Matter for Weather Forecasts?
    UCAR Centre for Science Education. Diakses pada Agustus 2026. Clouds Form Due to Mountains
    WCYB. Diakses pada Agustus 2026. Weather Why: How Topography Influences Cloud Formation

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More