Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Pohon Menyimpan Air di Tengah Kekeringan?
ilustrasi pepohonan (pixabay.com/BadBoy3454)
  • Pohon menghadapi kekeringan dengan akar yang menjangkau air tanah, xilem yang mengalirkannya ke daun, serta jaringan batang dan cabang yang menyimpan cadangan air terbatas.

  • Daun dapat menutup stomata untuk menekan penguapan saat tanah mengering, tetapi masuknya karbon dioksida berkurang sehingga fotosintesis dan pertumbuhan pohon melambat.

  • Kekeringan berkepanjangan dapat memicu kegagalan aliran air di xilem, meningkatkan risiko kematian, hama, dan penyakit; ketahanan tiap pohon dipengaruhi spesies, tanah, serta perakaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pohon tetap bisa bertahan hidup ketika hujan jarang turun dan tanah mulai mengering. Di tengah kondisi tersebut, sebagian pohon bahkan masih mampu mempertahankan daunnya tetap hijau. Kemampuan ini bukan berarti pohon memiliki cadangan air dalam jumlah besar seperti tangki, melainkan karena struktur tubuhnya memungkinkan air disimpan dan digunakan secara bertahap.

Air menjadi kebutuhan penting bagi pohon untuk menjalankan berbagai proses kehidupan, termasuk fotosintesis dan menjaga sel-selnya tetap berfungsi. Ketika ketersediaan air di tanah berkurang, pohon akan menyesuaikan cara menyerap, menyimpan, dan menggunakan air agar tidak kehilangan terlalu banyak cairan. Lalu, bagaimana pohon menyimpan air di tengah kekeringan?

1. Akar menyerap air dari dalam tanah

Akar menjadi bagian pertama yang berperan dalam memperoleh air. Dalam kondisi normal, akar menyerap air dari tanah, kemudian menyalurkannya menuju batang dan daun melalui jaringan pembuluh yang disebut xilem.

Kedalaman dan bentuk sistem perakaran turut menentukan kemampuan pohon memperoleh air saat kekeringan. Pohon dengan akar yang mampu menjangkau lapisan tanah lebih dalam berpeluang mendapatkan kelembapan ketika permukaan tanah sudah mengering. Namun, kemampuan ini bergantung pada jenis pohon, kondisi tanah, dan ketersediaan air di sekitarnya.

Air yang diserap akar bergerak ke bagian atas pohon melalui xilem. Proses tersebut membantu memasok air yang dibutuhkan daun untuk melakukan fotosintesis dan mempertahankan aktivitas sel.

2. Batang dan jaringan kayu menjadi cadangan air

Selain menyerap air melalui akar, pohon juga dapat menyimpan sebagian air di dalam jaringan tubuhnya. Batang dan cabang memiliki jaringan kayu bagian luar yang masih aktif mengangkut air, dikenal sebagai sapwood atau kayu gubal.

Jaringan ini mengandung xilem yang berfungsi menyalurkan air dari akar menuju tajuk pohon. Sebagian air di dalam jaringan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pohon ketika pasokan dari tanah berkurang dalam waktu singkat.

Sel-sel kayu dan jaringan hidup lainnya juga berperan dalam mempertahankan kandungan air. Dengan demikian, cadangan air pohon tidak terkumpul di satu tempat, tetapi tersebar di berbagai jaringan dengan fungsi yang berbeda.

Meski begitu, cadangan tersebut tetap terbatas. Kekeringan yang berlangsung lama dapat menguras air yang tersedia, terutama jika pohon tidak memperoleh cukup air untuk menggantikannya.

3. Daun mengurangi kehilangan air saat kekeringan

ilustrasi daun (pexels.com/hartono subagio)

Pohon tidak hanya mengandalkan cadangan air, tetapi juga mengatur seberapa cepat air keluar dari tubuhnya. Salah satu caranya adalah melalui stomata, yaitu pori-pori kecil pada daun yang mengatur pertukaran gas dan pelepasan uap air.

Dalam kondisi normal, air menguap melalui stomata dalam proses yang disebut transpirasi. Penguapan ini membantu menarik air dari akar menuju daun. Namun, ketika tanah mengering, pohon dapat menutup stomatanya untuk mengurangi kehilangan air.

Strategi tersebut memiliki konsekuensi. Saat stomata menutup, karbon dioksida yang masuk ke daun juga berkurang sehingga fotosintesis melambat. Akibatnya, pertumbuhan pohon dapat terhambat karena produksi energi dan bahan organik untuk mendukung kehidupannya ikut menurun.

4. Apa yang terjadi ketika cadangan air menipis?

Ketika kekeringan terus berlangsung, kemampuan pohon mempertahankan aliran air bisa terganggu. Salah satu ancaman serius adalah kegagalan hidraulik (hydraulic failure), yaitu kondisi ketika sistem pengangkutan air di dalam xilem tidak lagi berfungsi dengan baik.

Dalam keadaan tertentu, gelembung udara dapat masuk dan mengganggu kolom air di dalam pembuluh xilem. Jika kerusakannya meluas, air menjadi sulit mencapai daun meskipun sebagian jaringan pohon masih hidup.

Kekeringan dapat meningkatkan risiko kematian pohon, terutama ketika terjadi bersamaan dengan suhu tinggi. Panas mempercepat kehilangan air, sedangkan pasokan air yang terbatas membuat pohon kesulitan mengganti cairan yang hilang.

Pohon yang mengalami tekanan kekeringan juga dapat lebih rentan terhadap hama dan penyakit. Hal ini terjadi karena sumber daya yang tersedia untuk mempertahankan pertumbuhan dan sistem pertahanannya semakin terbatas.

5. Tidak semua pohon memiliki ketahanan yang sama

Kemampuan bertahan di tengah kekeringan berbeda-beda pada setiap jenis pohon. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kedalaman akar, bentuk daun, karakteristik jaringan kayu, serta kemampuan mengatur kehilangan air.

Beberapa pohon mampu mempertahankan aktivitas fotosintesis meskipun kelembapan tanah menurun. Sebaliknya, jenis pohon lain lebih cepat mengalami penurunan pertumbuhan ketika menghadapi tekanan air. 

Respons pohon terhadap kekeringan dapat berbeda menurut spesies dan kondisi lingkungannya. Karena itu, pohon yang tumbuh baik di suatu wilayah belum tentu memiliki ketahanan yang sama ketika ditanam di daerah dengan curah hujan lebih rendah.

Kondisi tanah juga berpengaruh. Tanah yang kaya bahan organik dan memiliki struktur baik cenderung mampu menyerap serta mempertahankan air dengan lebih efektif. Lingkungan tanah yang mendukung membantu akar memperoleh pasokan air lebih stabil ketika hujan jarang turun.

6. Cara membantu pohon bertahan saat kekeringan

ilustrasi daun kering yang jadi mulsa bagi tanah (pexels.com/Kimberly Alves)

Pohon yang tumbuh di halaman rumah atau ruang terbuka dapat dibantu agar tidak cepat kehilangan air. Salah satu caranya adalah menggunakan mulsa organik, seperti serpihan kayu atau daun kering, di atas permukaan tanah di sekitar akar.

Mulsa membantu mengurangi penguapan dan menjaga suhu tanah agar tidak terlalu panas. Namun, bahan tersebut sebaiknya tidak menumpuk langsung pada pangkal batang karena kelembapan berlebihan di area itu dapat memicu masalah pada kulit batang.

Penyiraman juga perlu disesuaikan dengan kondisi tanah dan kebutuhan pohon. Penyiraman yang membasahi zona perakaran secara menyeluruh umumnya lebih bermanfaat daripada hanya membasahi permukaan tanah sedikit demi sedikit. Pohon muda biasanya membutuhkan perhatian lebih karena sistem perakarannya belum berkembang seluas pohon dewasa. 

Pada akhirnya, kemampuan pohon bertahan saat kekeringan merupakan hasil kerja sama antara akar yang menyerap air, jaringan kayu yang mengangkut dan menyimpan air, serta daun yang mengatur kehilangan cairan. Selama keseimbangan tersebut terjaga, pohon memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Namun, ketika kekeringan berlangsung terlalu lama dan cadangan air terus menipis, kemampuan alaminya pun dapat mencapai batas.

Referensi

Forest Society. Diakses pada Oktober 2026. Something Wild: What Happens to Trees in Drought?
Purdue University. Diakses pada Oktober 2026. Purdue Landscape Report: How Do Trees Use Water?
Stump up for Trees. Diakses pada Oktober 2026. Trees in Drought: Cooling, Storing Water, and Thriving with Care
Yale School of Environment. Diakses pada Oktober 2026. Drought and Tree Mortality: Science Reveals Harsh Future for World’s Forests

Curated For You

Editorial Team

Related Article