Abu vulkanik menjadi salah satu ancaman paling serius bagi penerbangan ketika gunung api mengalami erupsi. Material ini berbeda dari awan biasa karena tersusun dari fragmentasi batuan mikroskopis, silika atau SiO2, serta kristal mineral berujung tajam yang bersifat sangat abrasif, sehingga dapat merusak pesawat ketika terpapar dalam kecepatan tinggi.
Menurut Dr. Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), risiko abu vulkanik tidak hanya muncul di bagian luar pesawat. Partikel tersebut juga dapat masuk ke mesin jet, meleleh akibat suhu ruang bakar yang sangat tinggi, kemudian membeku kembali menjadi kerak kaca pada bagian turbin yang lebih dingin.
Kondisi ini membuat abu vulkanik dapat memicu kerusakan mekanis, termal, hingga gangguan pada sistem navigasi dan kelistrikan pesawat secara bersamaan. Kasus British Airways Penerbangan 9 yang melintasi awan abu Gunung Galunggung pada 1982 menjadi salah satu contoh paling terkenal, ketika seluruh mesin Boeing 747 tersebut sempat mati sebelum akhirnya berhasil dinyalakan kembali.
