Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan mesin pesawat, sebaran abu vulkanik juga bisa mengurangi jarak pandang, merusak beberapa bagian pesawat, hingga membuat rute penerbangan harus dialihkan. Dalam kondisi tertentu, dampaknya bahkan bisa meluas dan mengganggu aktivitas penerbangan di suatu wilayah. Penasaran apa saja dampaknya? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
5 Dampak Abu Vulkanik pada Penerbangan, Tak Hanya Mengganggu Mesin

- Abu vulkanik dapat masuk ke mesin, meleleh pada suhu tinggi, mengendap di turbin, menurunkan kinerja, hingga memicu engine flameout atau hilangnya daya mesin.
- Awan abu pekat mengurangi jarak pandang, mengikis kaca kokpit dan permukaan pesawat, serta berpotensi mengganggu tabung Pitot, sistem pendingin, dan kualitas udara kabin.
- Sebaran abu yang terbawa angin memaksa pengalihan rute atau penghentian penerbangan, memicu penundaan serta pembatalan luas; kasus Anak Krakatau berdampak pada 22.000 penumpang dan 209 penerbangan.
Erupsi gunung berapi tidak hanya berdampak pada wilayah di sekitarnya, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan. Salah satu penyebabnya adalah abu vulkanik yang bisa terbawa angin hingga jauh dari sumber letusan. Ketika menyebar ke jalur penerbangan, abu ini dapat menimbulkan berbagai risiko bagi pesawat.
1. Mesin pesawat dapat mengalami gangguan

ilustrasi mesin pesawat (commons.wikimedia.org/Andrew Basterfield) Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat halus. Ketika tersedot ke dalam inti mesin, abu tersebut dapat mencapai bagian mesin yang bersuhu sangat tinggi. Suhu di dalam mesin dapat melebihi 1.400 derajat Celsius, sehingga material silikat dalam abu bisa meleleh.
Material yang meleleh ini kemudian dapat menempel dan mengeras pada bilah turbin serta bagian dalam mesin. Endapan tersebut mengganggu aliran udara dan membuat kinerja mesin menurun. Jika abu yang masuk cukup banyak, kondisi ini dapat menyebabkan engine flameout, yaitu ketika pembakaran di dalam mesin berhenti sehingga mesin kehilangan daya.
2. Jarak pandang pilot menurun ketika terhalang abu vulkanik

ilustrasi kaca kokpit yang buram (pexels.com/Amar Preciado) Awan abu vulkanik yang pekat dapat membuat jarak pandang pilot menurun secara drastis. Kondisi ini menjadi lebih sulit diantisipasi ketika penerbangan berlangsung pada malam hari karena abu lebih sulit terlihat. Saat pesawat melintas ke dalam awan abu yang pekat, pandangan pilot terhadap lingkungan di sekitar pesawat dapat terganggu sehingga menyulitkan mereka untuk melihat dengan jelas selama penerbangan.
Partikel abu vulkanik yang keras dan tajam juga dapat mengikis kaca kokpit saat pesawat melaju dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, kaca bisa menjadi buram dan semakin mengganggu pandangan pilot. Jika kondisinya cukup parah, hal ini dapat menyulitkan pilot, terutama ketika pesawat mendekati atau melakukan pendaratan.
3. Permukaan dan komponen pesawat dapat mengalami kerusakan

ilustrasi komponen pesawat yang rusak karena terkena abu vulkanik (commons.wikimedia.org/VargaA) Abu vulkanik tidak hanya dapat mengganggu mesin dan kaca kokpit, tetapi juga merusak bagian luar pesawat. Partikelnya yang keras dan kasar dapat mengikis cat serta permukaan badan pesawat ketika pesawat melaju melewati awan abu. Jika terkena dalam jumlah banyak, abu dapat meninggalkan goresan dan kerusakan pada bagian luar pesawat.
Abu vulkanik juga dapat mengganggu beberapa komponen penting, seperti tabung Pitot yang membantu mengukur kecepatan udara. Jika tabung ini tersumbat, informasi kecepatan udara pada instrumen pesawat dapat menjadi tidak akurat. Selain itu, abu yang masuk ke sistem penanganan udara dapat mengontaminasi sistem pendingin dan memengaruhi kualitas udara di dalam kabin.
4. Rute penerbangan harus dialihkan

ilustrasi pesawat terbang (commons.wikimedia.org/Sergey Kustov) Abu vulkanik dapat terbawa angin hingga jauh dari sumber letusan dan masuk ke jalur penerbangan. Jika pesawat berada di jalur yang terkena sebaran abu, pilot perlu mengubah arah penerbangan untuk menghindari awan abu tersebut. Pengalihan ini dilakukan agar pesawat tetap berada di jalur yang aman dan tidak terpapar abu vulkanik.
Perubahan rute dapat membuat perjalanan menjadi lebih jauh karena pesawat harus mengambil jalur lain untuk menghindari area yang dipenuhi abu. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak letusan gunung berapi dapat dirasakan oleh pesawat yang berada jauh dari lokasi letusan, terutama ketika abu terbawa angin menuju jalur penerbangan.
5. Aktivitas penerbangan dapat terganggu dalam skala luas

ilustrasi antrian penumpang akibat penundaan penerbangan (commons.wikimedia.org/Saimmx) Ketika sebaran abu vulkanik mencapai ruang udara di sekitar bandara, aktivitas penerbangan dapat dihentikan sementara demi keselamatan. Kondisi ini kemudian memicu penundaan dan pembatalan penerbangan dalam jumlah besar. Dampaknya bahkan bisa meluas ke berbagai kota dan penerbangan internasional, karena satu gangguan dapat memengaruhi jadwal penerbangan lainnya.
Gangguan tersebut tidak hanya dirasakan oleh maskapai, tetapi juga oleh banyak penumpang yang perjalanan mereka ikut tertunda atau dibatalkan. Dalam kasus sebaran abu Anak Krakatau, lebih dari 22.000 penumpang dan 209 penerbangan terdampak. Hal ini menunjukkan bahwa abu vulkanik dari satu letusan dapat mengganggu aktivitas penerbangan dalam skala luas, bahkan hingga lintas negara.
Itulah dampak sebaran abu vulkanik terhadap dunia penerbangan yang ternyata tidak bisa dianggap sepele. Selain membahayakan pesawat, abu yang terbawa angin juga dapat mengganggu perjalanan udara dalam skala luas. Karena itu, pemantauan sebaran abu menjadi hal penting untuk menjaga penerbangan tetap aman.














![[QUIZ] Pilih Lukisan Ini, Kami Bisa Tebak Kepribadianmu Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20240426/tebak-kepribadian-berdasar-lukisan-7e92dbcc72c112686b745dd77d025d35.jpg)


