Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gunung Berapi Bisa Meletus Bersamaan? Ini Penjelasannya

Kenapa Gunung Berapi Bisa Meletus Bersamaan? Ini Penjelasannya
ilustrasi erupsi gunung (pexels.com/Jeffry Surianto)
  • Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu erupsi berdekatan pada 6 September 2026, memicu perhatian terhadap kemungkinan aktivitas vulkanik bersamaan.
  • Erupsi gunung berapi dapat berdekatan waktunya karena berada pada busur tektonik atau reservoir magma sama, memiliki interval letusan serupa, serta dipengaruhi curah hujan ekstrem.
  • Keempat erupsi tidak dinyatakan saling memicu; tiap gunung memiliki sistem dan tekanan magma sendiri, sementara Indonesia berada di kawasan aktif Cincin Api Pasifik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Aktivitas vulkanik di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu mengalami erupsi dalam waktu berdekatan pada Minggu (06/09/2026). Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan, kenapa gunung berapi bisa erupsi bersamaan, termasuk apakah aktivitas Anak Krakatau di Selat Sunda berkaitan dengan tiga gunung api lainnya.

Ahli menyebut ada beberapa kemungkinan yang mendasari hal tersebut. Berikut penjelasannya.

  1. Kenapa gunung berapi bisa meletus bersamaan?

    Meletusnya gunung berapi dalam waktu yang nyaris bersamaan dan lokasi berdekatan tentu menimbulkan pertanyaan. Apakah erupsi antar gunung bisa menular? Berikut beberapa penyebabnya yang perlu dipahami.

  2. 1. Busur yang sama

    kenapa gunung berapi bisa erupsi bersamaan
    ilustrasi gunung meletus (pixabay.com/JuliusH)

    Pernah melihat rangkai gunung api yang lokasinya berdekatan? Nah, boleh jadi gunung-gunung tersebut berada dalam satu busur vulkanik yang sama. Adapun busur vulkanik sendiri adalah rangkaian gunung berapi yang panjangnya mencapai ratusan hingga ribuan mil.

    Di busur ini bisa ada beberapa gunung api sekaligus. Nah, ketika berada dalam busur yang sama, ada kemungkinan gunung-gunung tersebut meletus bersamaan. Hal ini karena tatanan tektonik di bawah keraknya sama. Jika satu tatanan tektonik melakukan aktivitas yang memicu erupsi, dua tiga gunung dalam satu busur itu bisa terpangaruh.

    Sebagai contoh di Indonesia. Aktivitas Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah mungkin bisa beriringan dengan Gunung Semeru di Jawa Timur. Pasalnya, dua gunung tersebut diketahui berada di busur yang sama, yakni busur Sunda. 

  3. 2. Reservoir magma yang sama

    Dilansir USGS, reservoir magma yang sama dapat menyebabkan dua gunung yang berdekatan meletus dalam waktu nyaris beriringan. Misalnya, letusan gunung berapi Novarupta di Alaska pada 1912 yang dipicu oleh magma dari reservoir magma di bawah Gunung Katmai.

    Sementara itu, hal sebaliknya juga bisa terjadi. Contoh kasusnya, gunung berapi Kilauea di Hawaii terletak di lereng gunung berapi Mauna Loa. Ketika salah satu meletus, gunung lain tidak terpengaruh karena reservoir magmanya berbeda.

  4. 3. Interval letusan yang sama

    kenapa gunung berapi bisa erupsi bersamaan
    ilustrasi gunung meletus (unsplash.com/Yosh Ginsu)

    Kalau melihat penjelasan sebelumnya, dua gunung meletus setidaknya harus berada di lempeng atau memiliki reservoir magma yang sama. Lantas, bagaimana dengan gunung di Indonesia yang aktif hampir bersamaan padahal tidak berada di satu lempeng atau reserovoir magma?

    Well, penyebab gunung berapi meletus bersamaan juga mungkin dipengaurhi oleh unsur di luar penyusun gunung itu sendiri, misalnya interval waktu letusan. Setiap gunung diketahui memiliki pola letusan yang berulang setiap beberapa waktu. 

    Sebagai contoh, gunung A meletus tiap 5 tahun sekali, sedangkan gunung B meletus tiap 10 tahun sekali. Keduanya berpotensi mengalami erupsi bersamaan pada kelipatan tahun 10. Alhasil, gunung-gunung tersebut terlihat seperti "janjian" untuk meletus. 

  5. 4. Faktor curah hujan

    Curah hujan ekstrem diketahui dapat memicu meletusnya gunung api, lho. Meski tidak selalu jadi pemicu utama, hujan dapat berkontribusi pada letusan gunung yang memang sudah bersiap untuk mengalaminya. 

    Dilansir Science, volume air hujan yang besar dapat meningkatkan tekanan bawah tanah di sekitar kawasan gunung api. Curah hujan yang turun tersebut terkumpul dan meresap ke pori-pori batuan di bawah tanah. Ketika tekanan meningkat akan terjadi retakan di sisi gunung berapi.

    Retakan tersebut membuka bagian luar gunung dan membuatnya melepaskan magma sehingga terjadilah erupsi. Kondisi serupa juga dapat disebabkan oleh tekanan dan kecepatan angin yang tinggi sehingga mengganggu keseimbangan puncak gunung yang sedang sensitif. 

  6. 5. Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik

    kenapa gunung berapi bisa erupsi bersamaan
    ilustrasi erupsi gunung api (pexels.com/Diego Giron)

    Adapun fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu dalam waktu berdekatan berkaitan dengan posisi Indonesia di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Ring of Fire merupakan jalur berbentuk tapal kuda yang mengelilingi Samudra Pasifik dan menjadi kawasan dengan aktivitas gempa serta gunung api paling tinggi di dunia.

    Nah, Indonesia berada di salah satu bagian teraktif jalur tersebut karena terletak di pertemuan beberapa lempeng tektonik, seperti Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Pergerakan serta penunjaman lempeng-lempeng ini memicu terbentuknya magma dan mendorong munculnya banyak gunung api aktif di Indonesia.

    Meski terjadi hampir bersamaan, erupsi keempat gunung tersebut tidak berarti saling memicu. Menurut ahli gempa IABI, Daryono, tidak ada jalur magma bawah tanah tunggal yang menghubungkan dapur magma masing-masing gunung. Setiap sistem vulkanik memiliki kondisi dan tekanan magma sendiri hingga akhirnya mencapai tahap kritis dan memicu erupsi.

    Alasan kenapa gunung berapi bisa erupsi bersamaan di atas perlu diketahui, lho. Apalagi bagi masyarakat Indonesia yang wilayahnya dikelilingi gunung api. Mengetahui penyebab tersebut dapat membantu kita lebih siap untuk mitigasi bencana

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More