"Dalam terminologi geologi, tektonik, dan geofisika, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif yang mustahil disimulasi, dibangkitkan atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun," tulisnya dalam keterangan resmi.
Bantah Teori Konspirasi, Erupsi Gunung Api Bukan Rekayasa Teknologi

- Dr. Daryono menegaskan erupsi gunung api adalah pelepasan energi endogenik Bumi yang sangat masif, sehingga mustahil dibangkitkan, disimulasikan, atau dikendalikan teknologi manusia.
- Aktivitas vulkanik Indonesia intens karena berada di pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina; respons tektonik dapat memicu beberapa gunung api hampir bersamaan.
- Erupsi didahului sinyal terukur, seperti gempa vulkanik, tremor, deformasi gunung, perubahan gas, dan suhu; narasi rekayasa teknologi dinilai mengabaikan bukti geofisika.
Pegiat Mitigasi Bencana, Dr. Daryono meluruskan bahwa tudingan fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi adalah hal yang tidak masuk akal secara ilmu kebumian.
Proses terjadinya erupsi
Energi yang dibutuhkan untuk memicu erupsi berasal dari dinamika mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan, kata Daryono.
Erupsi terjadi ketika magma naik akibat gaya apung karena densitasnya yang lebih rendah dibandingkan batuan sekitar, disertai penumpukan tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida dan sulfur dioksida.
Tekanan di kantong magma ini mencapai ratusan MegaPascal, sehingga tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik yang mampu menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja.
Kondisi geografis Indonesia

ilustrasi erupsi gunung api (unsplash.com/ Soliman Cifuentes) Kondisi geografis Indonesia yang berada di jalur cincin api atau ring of fire juga menjelaskan mengapa aktivitas vulkanik terjadi secara intensif dan kerap beruntun.
"Indonesia merupakan tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik utama dunia, seperti Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik dan Filipina," Daryono mengatakan.
Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng benua membawa air dan sedimen basah ke kedalaman mantel, memicu pelelehan batuan mantel dan menghasilkan suplai kagma secara terus-menerus selama jutaan tahun.
Ketika aktivitas tektonik regional meningkat atau terjadi penyesuaian tegangan di kerak bumi pasca gempa besar, beberapa gunung api yang kantong magmanya sudah dalam kondisi kritis dapat terpicu secara hampir bersamaan.
"Fenomena ini merupakan rekayasa alamiah berupa respons berantai tektonik bukan akibat intervensi lokal oleh pihak tertentu," lanjutnya.
Bukti ilmiah menggugurkan konspirasi
Bukti ilmiah lainnya terlihat dari keberadaan sinyal prekursor geofisika yang selalu mendahului setiap peristiwa erupsi. Bencana alam ini tidak pernah terjadi secara mendadak melalui tombol kendali otomatis, melainkan diawali oleh rekaman seismisitas berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik.
"Proses geologi yang cukup lama, tidak seperti membalik tangan," tegas Daryono.
Selain itu, instrumen geodesi presisi seperti GPS dan sensor tiltmeter mencatat adanya deformasi atau pembengkakan tubuh gunung api jauh sebelum letusan terjadi, disertai dengan perubahan rasio konsentrasi gas kimia dan peningkatan suhu.
Disinformasi yang mengabaikan sains

Ilustrasi gunung meletus. (IDN Times/Arief Rahmat) Seluruh proses akumulasi massa dan energi membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan di dalam kerak bumi dan terekam secara transparan oleh instrumen geofisika global sehingga terbukti murni sebagai siklus konveksi alamiah.
Dilihat dari batuan hukum fisika, lapisan batuan padat setebal puluhan kilometer bersifat meredam gelombang elektromagnetik pada jarak yang sangat pendek, sehingga sinyal buatan manusia tidak memiliki mekanisme interaksi fisik untuk menggerakkan magma di kedalaman.
Manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merakayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius.
"Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi Bumi yang terus bergerak," imbuh Daryono.
.jpg)




















