Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kapan Hujan Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau Berhenti?

Kapan Hujan Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau Berhenti?
ilustrasi abu vulkanik (pexels.com/Suhairy Tri Yadhi)
  • Erupsi Anak Krakatau sejak 4 September 2026 menyebarkan abu ke sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra.

  • Waktu berhentinya hujan abu tidak dapat dipastikan karena bergantung pada pasokan magma dan tekanan dapur magma

  • Hingga kini ahli terus memantau aktivitas, tidak bisa menetapkan tanggal berakhir hujan abu vulkanik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sejak 4 September 2026, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang memicu sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Hujan abu tersebut turut mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan berdampak pada penerbangan hingga menyebabkan sejumlah jadwal dibatalkan. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat tentu ingin mengetahui berapa lama hujan abu akan berlangsung dan kapan situasi kembali normal.

Lantas, kapan hujan abu vulkanik Anak Gunung Krakatau berhenti? Menurut ahli, waktu berakhirnya tidak dapat dipastikan karena sangat bergantung pada aktivitas magma dan tekanan di dalam tubuh gunung. Berikut penjelasan lengkapnya.

  1. 1. Kapan hujan abu vulkanik anak gunung krakatau berhenti?

    Hujan abu vulkanik akibat erupsi Anak Gunung Krakatau tidak bisa dipastikan berhenti pada tanggal atau waktu tertentu. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa letusan baru benar-benar berhenti ketika pasokan magma segar dari dalam bumi sudah habis dan tekanan di dapur magma kembali tenang. Artinya, selama masih ada dorongan magma dari dalam bumi, aktivitas erupsi yang menghasilkan abu masih dapat terjadi.

    Aktivitas tersebut juga tidak selalu berlangsung dengan intensitas sama. Selama kantong magma di bawah gunung masih mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan dapat berlangsung secara naik-turun. Gunung api bisa terlihat lebih tenang untuk sementara, kemudian kembali mengalami peningkatan aktivitas. Kondisi inilah yang membuat durasi hujan abu tidak dapat ditentukan hanya dengan menghitung berapa lama erupsi sudah berlangsung.

    Waktu berhentinya erupsi juga sulit diprediksi hingga hitungan jam, tanggal, atau bulan. Perut bumi berada jauh di bawah permukaan dan merupakan sistem alam yang sangat kompleks. Sampai sekarang, belum ada teknologi yang mampu mengukur secara persis berapa banyak magma yang masih tersisa di dalam bumi.

    Oleh karena itu, para ahli vulkanologi tidak menebak tanggal berakhirnya erupsi. Melainkan lebih pada memantau perubahan aktivitas gunung secara terus-menerus untuk melihat apakah aktivitasnya mulai menurun.

  2. 2. Tanda erupsi Anak Gunung Krakatau mulai mereda

    Tanda erupsi Anak Gunung Krakatau mulai mereda
    ilustrasi abu vulkanik (pexels.com/Fabian Wiktor)

    Meskipun waktu pasti berhentinya erupsi tidak dapat diketahui, para ahli dapat melihat sejumlah perubahan dari hasil pemantauan gunung api. Salah satu tanda yang dapat diamati adalah berkurangnya atau hilangnya gempa dalam yang berasal dari bawah gunung. Selain itu, penurunan drastis aktivitas atau bau gas yang menyengat serta perubahan bentuk tubuh gunung berupa penyusutan atau deflasi juga dapat menjadi petunjuk bahwa pasokan magma mulai berkurang.

    Ketika dorongan alami dari dalam bumi semakin kehilangan tenaga, magma yang berada di saluran gunung api tidak lagi terdorong kuat menuju permukaan. Magma tersebut kemudian dapat mendingin dan mengeras. Dalam kondisi tertentu, material yang mengeras ini dapat membuat saluran magma tersumbat oleh batuan di sekitarnya sehingga aktivitas erupsi perlahan mereda.

    Namun, munculnya tanda-tanda tersebut tidak berarti hujan abu akan langsung berhenti pada saat itu juga. Aktivitas gunung api tetap perlu dipantau karena kondisi di dalam gunung dapat berubah. Para ahli lebih melihat pola penurunan aktivitas, seperti perubahan gempa dan deformasi tubuh gunung, untuk menilai perkembangan erupsi daripada menetapkan satu waktu pasti kapan hujan abu akan berakhir.

  3. 3. Ke mana abu vulkanik Anak Gunung Krakatau bisa menyebar?

    Abu vulkanik Anak Gunung Krakatau dapat menyebar jauh dari lokasi gunung, tergantung pada kekuatan erupsi dan arah angin. Saat letusan berlangsung kuat, abu berukuran sangat halus dapat terlontar hingga lapisan udara yang lebih tinggi. Partikel ringan tersebut kemudian dapat terbawa angin hingga puluhan bahkan ratusan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke permukaan.

    Mengingat arah dan kecepatan angin dapat berubah, wilayah yang terdampak hujan abu juga bisa berbeda-beda dari waktu ke waktu. Artinya, sebaran abu tidak selalu bergerak ke satu arah atau hanya mengenai wilayah yang berada paling dekat dengan Anak Gunung Krakatau. Oleh karena itu, pemantauan aktivitas erupsi dan kondisi angin diperlukan untuk mengetahui potensi wilayah yang dapat terdampak.

    Jadi, kapan hujan abu vulkanik Anak Gunung Krakatau berhenti memang belum bisa dipastikan secara tepat. Durasi hujan abu sangat bergantung pada aktivitas magma, tekanan di dalam gunung, serta kondisi angin.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More