Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BMKG: Flores Mengalami Anomali Gempa usai Diguncang Magnitudo 7,7

BMKG: Flores Mengalami Anomali Gempa usai Diguncang Magnitudo 7,7
Ilustrasi gempa (IDN Times/Arief Rahmat)
  • BMKG mencatat sekitar 44 ribu kejadian gempa di Indonesia sejak Januari hingga awal September 2026, naik dari sekitar 29 ribu pada periode sama 2025.
  • Gempa Flores magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 memicu ribuan susulan yang masuk dalam katalog BMKG.
  • BMKG menyebut Flores sebagai anomali kegempaan 2026 akibat satu gempa besar dan susulannya, bukan peningkatan tektonik merata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa makna kenaikan catatan gempa pada 2026?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Aktivitas kegempaan di Indonesia sepanjang 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi rangkaian gempa besar yang terjadi di sejumlah daerah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar 44 ribu kejadian gempa di Indonesia sejak Januari hingga awal September 2026. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika BMKG merekam sekitar 29 ribu kejadian gempa.

Penjabat (Pj.) Kendali Mutu Data Gempa dan Tsunami BMKG, Pepen Supendi, mengatakan kenaikan jumlah gempa dalam katalog tidak bisa langsung dimaknai sebagai peningkatan aktivitas tektonik di seluruh Indonesia. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang turut memengaruhi tingginya jumlah kejadian gempa yang tercatat selama tahun ini.

“Berdasarkan katalog gempa yang kami analisis hingga awal September 2026, terdapat sekitar 44 ribu kejadian gempa di wilayah Indonesia, dibandingkan sekitar 29 ribu kejadian pada periode yang sama di 2025. Secara jumlah memang terlihat peningkatan," ujar Pepen dalam keterangan tertulisnya, Selasa (8/9/2026).

  1. 1. Ada ribuan gempa terjadi di NTT

    Flores Mengalami Anomali Gempa usai Diguncang Magnitudo 7,7
    Ilustrasi Gempa (IDN Times/Arief Rahmat)

    Salah satu penyebab bertambahnya catatan gempa tahun ini berasal dari rangkaian aktivitas kegempaan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, memicu ribuan gempa susulan yang kemudian masuk katalog BMKG.

    “Namun, angka tersebut harus dibaca secara hati-hati, karena gempa di 2026 ini dipengaruhi oleh beberapa rangkaian gempa besar, terutama gempa Flores M7,7 pada 15 Agustus 2026 beserta gempa-gempa susulannya. Hingga 7 September 2026 pukul 05.00 WIB, telah tercatat 13.156 gempa susulan Flores, di mana 177 gempa di antaranya dirasakan masyarakat," ucap Pepen.

    Karena itu, jumlah kejadian gempa yang tercatat secara nasional perlu dilihat dengan mempertimbangkan rangkaian serta sumber gempa di setiap wilayah. Total aktivitas yang masuk katalog belum dapat dijadikan gambaran tunggal, untuk menilai perubahan aktivitas tektonik di seluruh Indonesia.

    “Oleh karena itu, peningkatan jumlah total gempa pada 2026 tidak dapat langsung diartikan bahwa aktivitas tektonik seluruh Indonesia meningkat sebesar persentase kenaikan jumlah katalog gempa. Namun, sebagian besar peningkatan tersebut dipengaruhi oleh rangkaian gempa susulan Flores," kata dia.

  2. 2. Sumatra hingga Sulawesi memiliki aktivitas gempa tinggi

    Flores Mengalami Anomali Gempa usai Diguncang Magnitudo 7,7
    Ilustrasi gempa. (IDN Times/Arief Rahmat)

    Menurut hasil analisis BMKG, sejumlah kawasan memang memiliki aktivitas kegempaan yang relatif tinggi. Wilayah tersebut meliputi Sumatra, Jawa, Sulawesi, Sumbawa, Maluku Utara, hingga Flores.

    Di antara kawasan tersebut, Flores menjadi wilayah yang paling mencolok sepanjang 2026. Kondisi itu berkaitan dengan gempa utama berkekuatan magnitudo (M)7,7 pada Agustus lalu, yang kemudian menghasilkan ribuan gempa susulan.

  3. 3. Flores disebut terjadi gempa anomali

    Flores Mengalami Anomali Gempa usai Diguncang Magnitudo 7,7
    Ilustrasi gempa (IDN Times/Arief Rahmat)

    Rangkaian tersebut membuat Flores dapat dikategorikan sebagai kawasan dengan anomali aktivitas kegempaan pada 2026. Namun, fenomena itu lebih tepat dilihat sebagai dampak dari satu gempa besar beserta rangkaian susulannya, bukan sebagai gambaran peningkatan aktivitas tektonik yang terjadi secara merata di seluruh Indonesia.

    "Jadi Flores dapat disebut sebagai anomali aktivitas kegempaan pada 2026, tetapi lebih tepat dipahami sebagai rangkaian gempa akibat satu gempa besar, bukan sebagai bukti bahwa seluruh sistem tektonik Indonesia sedang mengalami peningkatan aktivitas secara seragam," ujar Pepen.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More