Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Beberapa Reptil Bisa Hidup Tanpa Minum Air Bertahun-tahun?

ilustrasi reptil
ilustrasi reptil (commons.wikimedia.org/Ester Inbar)

Beberapa reptil tercatat mampu bertahan hidup tanpa minum air dalam waktu yang sangat lama, bahkan hingga hitungan tahun. Kondisi ini paling sering ditemukan pada reptil gurun yang hidup jauh dari sungai, danau, atau genangan air. Ketahanan tersebut tidak muncul karena tubuh mereka kebal terhadap kekeringan, melainkan karena cara kerja organ yang sangat berbeda dari hewan lain.

Air tidak diperlakukan sebagai kebutuhan, tetapi sebagai sumber langka yang harus dijaga. Berikut penjelasan tentang bagaimana mekanisme itu bekerja pada spesies reptil tertentu.

1. Desert tortoise menyimpan air di kandung kemih

Desert tortoise
Desert tortoise (commons.wikimedia.org/Pacific Southwest Region USFWS)

Desert tortoise (Gopherus agassizii) dikenal mampu bertahan tanpa minum air hingga lebih dari satu tahun. Air yang masuk ke tubuh tidak langsung dibuang, melainkan disimpan di kandung kemih dalam jumlah besar. Air ini dapat diserap kembali saat tubuh mulai kekurangan cairan.

Kandung kemih pada spesies ini berfungsi seperti reservoir internal. Saat kondisi lingkungan sangat kering, air tersebut dilepas perlahan ke aliran darah. Strategi ini membuat desert tortoise tetap aktif meski hujan jarang turun. Minum air menjadi peristiwa langka, bukan rutinitas sehari-hari.

2. Kadal gurun memperoleh air dari hasil pemecahan lemak

Kadal gurun
Kadal gurun (commons.wikimedia.org/Stu's Images)

Beberapa kadal gurun seperti thorny devil (Moloch horridus) hampir tidak pernah minum air secara langsung. Kebutuhan cairan dipenuhi dari air metabolik yang dihasilkan saat cadangan lemak dipecah. Lemak tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai “tabungan air” tersembunyi.

Proses ini berjalan sangat efisien karena metabolisme kadal berlangsung lambat. Air yang dihasilkan cukup untuk menjaga fungsi sel dan organ vital. Dengan sistem ini, tubuh tidak bergantung pada keberadaan sumber air terbuka. Lemak menjadi kunci kelangsungan hidup jangka panjang.

3. Ular gurun mengeluarkan limbah tanpa kehilangan cairan

Ular gurun
Ular gurun (commons.wikimedia.org/nmoorhatch)

Ular gurun seperti sidewinder rattlesnake tidak menghasilkan urin cair seperti mamalia. Limbah nitrogen dikeluarkan dalam bentuk uric acid padat yang hampir tidak mengandung air. Cara ini menekan kehilangan cairan hingga tingkat paling minimal.

Setiap proses pembuangan sisa metabolisme dilakukan dengan penghematan ekstrem. Tubuh ular tidak perlu membayar mahal dengan kehilangan air saat membersihkan racun internal. Akibatnya, kebutuhan minum air menjadi sangat rendah. Sistem ini sangat cocok untuk habitat dengan kelembapan nyaris nol.

4. Kulit reptil menghambat penguapan dari tubuh

ilustrasi kulit reptil
ilustrasi kulit reptil (commons.wikimedia.org/George Chernilevsky)

Kulit bersisik pada reptil gurun seperti bearded dragon tidak hanya berfungsi sebagai pelindung fisik. Lapisan keratin yang tebal mengurangi penguapan air dari permukaan tubuh. Kehilangan cairan melalui kulit berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan hewan berkulit tipis.

Struktur sisik juga meminimalkan kontak langsung dengan udara panas. Air tetap terkunci di dalam tubuh meski suhu lingkungan tinggi. Fungsi ini sering diabaikan, padahal dampaknya besar terhadap ketahanan jangka panjang. Kulit bekerja sebagai pengunci cairan alami.

5. Aktivitas reptil disesuaikan untuk menghemat air

ilustrasi reptil
ilustrasi reptil (commons.wikimedia.org/Joshua Tree National Park)

Banyak reptil gurun hanya aktif pada jam tertentu, seperti dini hari atau senja. Pada waktu tersebut, suhu lebih rendah sehingga penguapan cairan dari tubuh berkurang drastis. Siang hari dihabiskan di liang atau bawah batu untuk menjaga kelembapan tubuh.

Beberapa spesies bahkan mampu menyerap embun melalui kulit atau permukaan tubuhnya. Meski jumlahnya sangat kecil, kelembapan ini tetap bernilai bagi keseimbangan cairan. Perilaku ini melengkapi sistem fisiologis yang sudah hemat air. Bertahan hidup bukan soal kekuatan, tetapi soal ketepatan strategi.

Kemampuan reptil hidup tanpa minum air bertahun-tahun bukan keajaiban, melainkan hasil kerja organ yang sangat disiplin dalam mengelola cairan. Setiap tetes air diperlakukan sebagai sumber daya berharga yang tidak boleh terbuang sia-sia. Jika tubuh manusia memiliki mekanisme serupa, apakah cara kita memandang kebutuhan air akan berubah sepenuhnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More

Kenapa Sering Terjadi Gempa Susulan? Begini Penjelasannya

06 Feb 2026, 14:04 WIBScience