Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Hum, Kota Terkecil di Dunia yang Masih Menjalankan Ritual Kuno

potret Kota Hum
potret Kota Hum (commons.wikimedia.org/Schreckgespenst)
Intinya sih...
  • Hum diakui sebagai kota terkecil di dunia, dengan hanya 52 penduduk dan ukuran wilayah 100x35 meter.
  • Pemilihan wali kota dilakukan dengan ritual tradisional menggunakan tongkat kayu, sementara tembok kota sudah ada sejak abad ke-11.
  • Tata kota yang ringkas dengan hanya dua jalan utama, namun Hum tetap mempertahankan statusnya sebagai kota meskipun kecil.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah banyaknya kota besar dengan penduduk jutaan orang, Hum hadir sebagai kota yang berbeda. Kota yang terletak di Kroasia ini dikenal sebagai kota terkecil di dunia, dengan ukuran dan jumlah penduduk yang jauh dari gambaran kota pada umumnya. Meski sangat kecil, Hum tetap diakui secara resmi sebagai kota dan memiliki sejarah panjang yang menjadikannya lebih dari sekadar permukiman biasa.

Keunikan Hum tidak hanya terlihat dari ukurannya, tetapi juga dari caranya menjaga tradisi dan warisan sejarah hingga kini. Berbagai aspek kehidupan kota, mulai dari sistem pemerintahan hingga bentuk fisik wilayahnya, masih mencerminkan nilai-nilai masa lampau yang masih dipertahankan. Untuk mengetahui keunikan tersebut lebih jauh, yuk simak lima fakta menarik tentang Hum berikut ini.

1. Diakui sebagai kota terkecil di dunia

potret Hum, kota terkecil di dunia
potret Hum, kota terkecil di dunia (pexels.com/Damir K.)

Hum dikenal sebagai kota terkecil di dunia dan terletak di wilayah Istria, Kroasia. Berdasarkan sensus 2021, kota ini hanya dihuni sekitar 52 orang dan memiliki ukuran wilayah dengan panjang sekitar 100 meter dan lebar sekitar 35 meter. Ukuran dan jumlah penduduk yang sangat kecil inilah yang membuat Hum sering disebut sebagai kota terkecil di dunia berdasarkan luas wilayah maupun populasi.

Julukan kota terkecil membuat Hum dikenal luas sebagai salah satu kota paling unik di dunia. Meskipun pengakuannya tidak secara resmi tercatat dalam Guinness World Records, sebutan kota terkecil tetap digunakan secara luas oleh berbagai sumber dan masyarakat internasional. Ukurannya yang sangat terbatas menjadi ciri utama yang membedakan Hum dari kota-kota lain.

2. Pemilihan wali kota masih menggunakan ritual kuno

potret loggia di Hum, tempat penduduk berkumpul untuk memilih wali kota melalui tradisi unik
potret loggia di Hum, tempat penduduk berkumpul untuk memilih wali kota melalui tradisi unik (commons.wikimedia.org/Maesi64)

Di Hum, pemilihan wali kota masih dilakukan dengan cara yang sangat tradisional dan berbeda dari sistem pemilihan modern. Setiap tahun pada bulan Juni, warga setempat berkumpul di loggia kota untuk memilih pemimpin yang akan menjabat selama satu tahun.

Proses pemilihannya pun unik. Para pemilih tidak menggunakan kertas suara, melainkan mengukir pilihan mereka pada sebuah tongkat kayu yang disebut raboš. Jumlah ukiran pada tongkat tersebut kemudian dihitung untuk menentukan pemenang. Tradisi ini sempat berhenti, namun kembali dihidupkan pada tahun 1977 dan hingga kini tetap dipertahankan sebagai simbol kemandirian serta penghormatan Hum terhadap warisan budaya masa lalu.

3. Dikelilingi tembok kota sejak abad ke-11

potret tembok batu yang mengelilingi Kota Hum
potret tembok batu yang mengelilingi Kota Hum (commons.wikimedia.org/Vid Pogacnik)

Hum mulai terbentuk pada abad ke-11 sebagai permukiman berbenteng di wilayah Istria. Sejak awal berdirinya, kota ini dirancang sebagai kota benteng atau city-fort dengan kastel dan rumah-rumah yang berada di dalam tembok pertahanan. Tembok kota tersebut berfungsi sebagai sistem perlindungan sekaligus penanda batas wilayah Hum pada masa abad pertengahan.

Keunikan Hum terlihat dari tata kotanya yang nyaris tidak berubah sejak abad ke-11. Seluruh permukiman tetap berada di dalam tembok kota tanpa perluasan ke luar wilayah tersebut. Rumah-rumah batu disusun rapi dan terhubung dengan dua jalan utama, sehingga memudahkan aktivitas penduduk sekaligus pertahanan. Meski sempat mengalami kerusakan akibat konflik, sistem pertahanan Hum terus diperbaiki dan tetap terjaga hingga kini.

4. Hanya memiliki dua jalan utama

potret jalan utama di Hum yang menghubungkan berbagai bangunan dan tempat penting di kota
potret jalan utama di Hum yang menghubungkan berbagai bangunan dan tempat penting di kota (commons.wikimedia.org/Ivana)

Hum memiliki tata kota yang sangat ringkas dengan hanya dua jalan utama sebagai pusat aktivitas. Jalan-jalan batu ini membentang di sepanjang permukiman dan diapit oleh rumah-rumah batu yang telah berdiri selama berabad-abad. Kedua jalan ini menghubungkan seluruh bangunan penting kota, termasuk gereja, balai kota, dan rumah-rumah penduduk, sehingga semua aktivitas sehari-hari bisa berlangsung dengan efisien.

Desain kota yang sederhana ini mencerminkan perencanaan abad pertengahan yang efisien dan teratur. Dengan hanya dua jalan utama, Hum mempertahankan struktur kota kecil yang khas dan rapi, di mana semua bangunan tersusun dengan jelas sepanjang jalan-jalan tersebut. Tata letak ini menjadi salah satu ciri khas yang menegaskan keunikan kota terkecil di dunia ini.

5. Status kota sengaja dipertahankan meski bisa menjadi desa

potret Hum, kota kecil yang tetap mempertahankan status kotanya
potret Hum, kota kecil yang tetap mempertahankan status kotanya (commons.wikimedia.org/Sheeba Samuel)

Hum tetap mempertahankan statusnya sebagai kota meskipun ukurannya sangat kecil dan jumlah penduduknya sedikit. Di abad pertengahan, status kota di Istria ditentukan berdasarkan hak dan infrastruktur, bukan jumlah penduduk. Hum memiliki tembok kota, gerbang, menara lonceng, gereja paroki, dan balai kota, sehingga secara resmi diakui sebagai kota meski populasinya jauh lebih sedikit dibandingkan kota pada umumnya.

Keputusan untuk mempertahankan status kota ini menunjukkan bahwa sejarah dan tradisi lebih menentukan daripada ukuran. Meskipun kotanya kecil, Hum memiliki semua elemen yang biasanya dimiliki sebuah kota, termasuk struktur administratif dan bangunan penting. Hal ini membuat Hum menjadi contoh unik bagaimana sebuah kota kecil bisa mempertahankan status dan karakternya selama berabad-abad.

Hum mungkin kecil dalam ukuran dan jumlah penduduk, tetapi kisah dan identitasnya jauh lebih besar daripada yang terlihat. Kota ini mengajarkan kita bahwa makna sebuah tempat tidak hanya ditentukan oleh ukuran fisik, tetapi oleh bagaimana sejarah, budaya, dan tradisi terus hidup di dalamnya. Keunikan Hum menjadi pengingat bahwa sebuah komunitas, sekecil apapun, bisa meninggalkan jejak yang kuat dan cerita yang bertahan lama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

Fenomena Parade Planet Februari 2026, Catat Tanggal dan Waktunya

06 Feb 2026, 20:04 WIBScience