Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Mitos Menyesatkan tentang Reptil, Tak Sesuai Fakta dan Bukti Ilmiah

reptil
reptil (commons.wikimedia.org/Wilfredor)
Intinya sih...
  • Sebagian besar ular tidak berbisa dan berbahaya
  • Ular hidup soliter, bukan berkelompok
  • Reptil tidak bisa digunakan sebagai obat tradisional
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Reptil hidup di sekitar kita, entah itu di taman, kebun, perumahan, hingga perkotaan yang padat. Reptil hadir dalam berbagai jenis, seperti kadal, biawak, kura-kura, hingga ular. Sayangnya walau populasi reptil sangat melimpah dan dekat manusia, bukan berarti mereka sudah dikenal luas serta mendalam. Justru masih banyak mitos menyesatkan tentang reptil yang berkembang di masyarakat.

Salah satu mitosnya menyebutkan kalau semua ular berbisa dan berbahaya. Ada juga mitos yang mengantagoniskan reptil sebagai hewan yang tidak berguna di alam. Mitos lain lebih ekstrem dengan menyatakan reptil sebagai obat tradisional tanpa adanya penelitian atau sumber yang jelas. Agar kamu tak salah paham, kita akan membedah semua mitos tersebut di artikel berikut.

1. Semua ular berbisa dan berbahaya

reptil
reptil (commons.wikimedia.org/Rushen)

Secara umum ular memang termasuk hewan berbisa dan beberapa di antaranya mampu membunuh manusia. Namun, bukan berarti semua spesies ular berbisa dan berbahaya. Dilansir National Geographic, terdapat sekitar 3,000 spesies ular di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut ada sekitar 600 spesies yang berbisa. Kemudian, hanya ada sekitar 200 spesies yang berbahaya dan bisa menghilangkan nyawa manusia.

Dari statistik tersebut dapat terlihat bahwa kebanyakan ular justru tidak berbisa dan berbahaya. Sebaliknya hanya sekitar 7 persen ular di dunia yang membahayakan manusia. Kebanyakan ular malah tidak berbisa, bahkan ada yang tak mampu menggigit manusia karena ukurannya yang kecil. Misal pun berbisa, ular tersebut belum tentu berani dengan manusia dan lebih memilih kabur jika berpapasan.

2. Ular hidup berkelompok

reptil
reptil (commons.wikimedia.org/Nishant Sharma Parajuli)

Mungkin, kamu pernah lihat ular berkumpul di satu tempat yang sama. Namun, walau terkadang berkumpul nyatanya ular bukanlah hewan yang hidup berkelompok. Sama seperti reptil lain, ular merupakan hewan soliter yang hidup menyendiri. Dilansir Science AAAS, ular hanya akan berkumpul pada saat-saat tertentu, contohnya di musim kawin. Secara khusus hal tersebut nampak pada ular garter. Misal pun berkumpul ular tak akan memiliki struktur sosial atau hierarki. Mereka tak peduli dengan satu lain, saling bekerja sama, atau melindungi individu lain.

3. Reptil bisa menjadi obat

reptil
reptil (commons.wikimedia.org/H. Zell)

Laman Coffee or Die menjelaskan bahwa di beberapa negara Asia reptil seperti ular dianggap bisa menyembuhkan penyakit dan menjadi obat tradisional. Terkadang ada yang meminum darah ular kobra karena dianggap bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan vitalitas. Di daerah lain juga ada yang mencampurkan bisa ular dengan minuman karena dianggap memiliki properti medis.

Sayangnya semua praktik tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang valid. Justru berbagai sumber mengungkapkan kalau konsumsi daging, darah, dan bisa reptil mampu menyebabkan berbagai komplikasi yang berbahaya. Sebab bisa, daging, dan darah reptil mengandung toxin berbahaya dan terdapat risiko terkena infeksi bakteri. Misal pun menjadi obat, harus dilakukan penelitian terlebih dahulu sebelum digunakan.

4. Reptil tak punya peran di alam

reptil
reptil (commons.wikimedia.org/AntanO)

Reptil, khususnya yang berbahaya kerap diremehkan oleh banyak orang. Mereka dianggap sebagai hewan berbahaya, tak berguna, dan tidak memiliki peran apapun. Oleh sebab itu, tak jarang reptil dimusnahkan. Padahal hal tersebut sama sekali tidak benar, lho. Dilansir Queensland Government dan CK-12, reptil bisa menjadi pembasmi hama, pengontrol populasi, bahkan dijadikan hewan peliharaan.

Sala satu contohnya adalah reptil predator seperti ular. Di ladang, sawah, atau kebun hewan tersebut mampu mengontrol populasi hama seperti burung, tikus, hingga belalang. Beberapa reptil seperti sanca bola, leopard gecko, dan kura-kura juga menjadi peliharaan populer serta mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah. Tak hanya itu, bahkan reptil seperti iguana bisa dimakan, lho.

5. Bunglon mengubah warna untuk berkamuflase

reptil
reptil (commons.wikimedia.org/Farid AMADOU BAHLEMAN)

Sejak dulu beredar mitos kalau bunglon akan mengubah warna untuk berkamuflase atau menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sebenarnya hal tersebut memang bisa terjadi. Namun, kamuflase bukan faktor utama mengapa bunglon mengubah warnanya. Dilansir Chameleon Academy, faktor utama bunglon mengubah warna adalah karena usia, temperatur, dan emosinya. Contohnya saat marah bunglon akan mengubah warna menjadi gelap dan cerah seperti merah atau cokelat. Di malam hari yang dingin, bunglon menjadi relaks dan warnanya berubah menjadi putih atau abu-abu.

Setelah membaca pembahasan ini kamu tak boleh termakan mitos menyesatkan tentang reptil. Justru kamu harus menyampaikan semua kebenarannya agar pemikiran orang-orang semakin terbuka. Jika pemikiran makin terbuka, orang-orang akan lebih menghargai eksistensi reptil. Akhirnya manusia dan reptil bisa hidup berdampingan tanpa adanya konflik yang merugikan satu sama lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Tips Memilih Anjing Peliharaan Pertama untuk Pemula

12 Jan 2026, 16:05 WIBScience