ilustrasi bulan (pexels.com/Doğan Alpaslan)
Para astronot yang pernah menginjakkan kaki di bulan melaporkan bahwa debu bulan memiliki aroma yang mirip dengan bubuk Mesiu yang terbakar, namun mereka hanya mampu menciumnya ketika kembali saat mendarat.
Hal ini disebabkan karena tidak adanya udara di permukaan bulan yang membuat aroma tersebut tidak dapat menyebar, namun debu bulan menempel pada pakaian dan peralatan mereka. Ketika mereka kembali ke pendaratan dan melepas helm mereka, para astronot mencium bau seperti kembang api yang terbakar atau percikan logam.
Sebelumnya, perlu kamu ketahui, bubuk mesiu adalah campuran dari batubara, sendawa, dan kalium nitrat yang dalam bentuk padat tidak memiliki bau yang kuat. Namun, ketika dibakar, bubuk Mesiu berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Proses pembakaran ini mepeaskan gas sulfur oksida yang membuat aroma bubuk mesiu tercium seperti aroma kembang api atau ledakan.
Dilansir National Geographic, Harrison Schmiit, astronomi misi Apollo 17 yang melakukan moonwalk pada Desember 1972, pun mengatakan bahwa sekilas bulan baunya seperti mesiu. Schmiit membutuhkan waktu sekitar 7 menit untuk mengenali bau tersebut.
Larry Taylor, yang merupakan Direktur Planetary Geoscience Institute di University of Tennessee di Knoxville pun sependapat dengan Schmiit. Sebelumnya, Taylor sendiri bertugas di back room Johnson Space Center di Houston dalam misi Apollo 17.
Taylor mengatakan kalau bau tersebut mirip dengan bau yang tercium oleh geolog saat mereka menggali atau mengebor batuan. Di mana bau tersebut mampu bertahan lebih lama karena kandungan oksigen hanya 43%.
Para ilmuwan sepakat bahwa bau khas tersebut disebabkan oleh disintegrasi batuan basal dan anorthosit. Disintegrasi sendiri disebabkan oleh tumbukan meteorit pada masa lampau.
Namun, ada beberapa teori yang mengatakan bahwa bau tersebut bisa saja berasal dari debu bulan yang bereaksi dengan udara lembap di dalam molekul bulan, yang mana uap air tersebut melepaskan molekul-molekul mudah menguap yang berbau ke udara.
Teori selanjutnya, mengatakan kalau ion angin matahari terperangkap dalam debu dan menguap ketika bersentuhan dengan udara di dalam pesawat ruang angkasa. Sedangkan, teori yang terakhir menyatakan aroma bulan yang khas kemungkinan berasal dari debu bulan yang mulai teroksidasi ketika pertama kali bersentuhan dengan oksigen di dalam modul bulan dan menyebabkan bau terbakar.
Sebagai penutup, benar bahwa bulan memiliki bau seperti bubuk mesiu. Hal ini disebabkan oleh beberapa kemungkinan, seperti adanya tumbukan meteorit pada masa lalu, ion matahari yang terperangkap dan menguap di udara, dan debu bulan yang teroksidasi ketika bersentuhan dengan oksigen dalam modul bulan.