Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Topan Champi Bisa Menyedot Asap Karhutla?

4 min read
Benarkah Topan Champi Bisa Menyedot Asap Karhutla?
ilustrasi topan Champi (pexels.com/Johannes Plenio)
  • Topan Champi menerjang Taiwan dengan angin kencang dan hujan deras, menyebabkan satu korban meninggal, 616 luka-luka, serta pembatalan ratusan penerbangan hingga 24 Oktober 2026.

  • Siklon tropis dapat mengubah arah dan ketinggian asap melalui sirkulasi angin; hujan juga berpotensi menurunkan sebagian partikel asap ke permukaan.

  • Klaim Champi menyedot asap karhutla Indonesia belum terbukti, karena dampaknya bergantung pada posisi badai, arah angin, kondisi atmosfer, serta data cuaca dan sebaran asap bersamaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Topan Champi tengah menjadi sorotan publik setelah beredar video yang memperlihatkan dahsyatnya terjangan badai tersebut di Taiwan. Angin kencang dan hujan deras menerjang sejumlah wilayah, merobohkan pohon, merusak infrastruktur, hingga mengganggu aktivitas warga. Menurut laporan Focus Taiwan, hingga Sabtu (24/10/2026) sore, bencana ini telah menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 616 orang terluka.

Dampaknya juga meluas ke sektor transportasi, di mana ratusan penerbangan terpaksa harus dibatalkan. Di tengah perhatian terhadap kekuatan topan Champi, muncul pula perbincangan mengenai kemungkinan siklon tropis ini memengaruhi pergerakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Hubungan antara badai dan asap karhutla seketika menarik untuk ditelusuri, mengingat keduanya berkaitan dengan pergerakan udara di atmosfer.

Bayangkan saja, asap karhutla yang menyelimuti beberapa wilayah Indonesia disebut-sebut bisa hilang begitu saja apabila terkena topan Champi. Lalu, apakah klaim tersebut benar? Yuk, kita simak penjelasan dan fakta-faktanya di bawah ini agar tidak keliru!

  1. 1. Mengenal topan Champi dan pergerakannya

    ilustrasi siklon tropis apabila diamati dari satelit ruang angkasa.
    ilustrasi siklon tropis apabila diamati dari satelit ruang angkasa. (pexels.com/SpaceX)

    Topan Champi adalah siklon tropis yang berkembang di kawasan Samudra Pasifik barat laut dan pernah muncul sebelum 2026. Mengutip laporan "Tropical Cyclones in 2015" yang diterbitkan Japan Meteorological Agency (JMA), Champi mulai terbentuk pada 13 Oktober 2015 dan menguat menjadi topan beberapa hari kemudian. Pada 18 Oktober 2015, badai ini mencapai kekuatan puncak dengan kecepatan angin sekitar 176 kilometer per jam dan tekanan udara di pusat badai sebesar 930 hPa.

    Dilansir National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), siklon tropis terbentuk ketika kondisi atmosfer mendukung, termasuk suhu laut yang hangat, udara lembap, dan adanya gangguan awal seperti gelombang tropis dan kumpulan badai petir di atmosfer. Panas dari permukaan laut membantu proses pembentukan awan dan badai, sedangkan udara yang naik dapat memperkuat pusaran jika kondisi lainnya mendukung. Nama Champi sendiri berasal dari Laos dan termasuk dalam daftar nama siklon tropis untuk kawasan Pasifik barat laut yang dikelola melalui mekanisme penamaan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

  2. 2. Cara siklon tropis memengaruhi pergerakan asap di atmosfer

    ilustrasi gelombang air laut besar akibat topan Champi.
    ilustrasi gelombang air laut besar akibat topan Champi. (unsplash.com/Fjell Photography)

    Siklon tropis dapat memengaruhi pergerakan asap karhutla melalui sirkulasi angin yang mengubah arah serta ketinggian partikel asap di atmosfer. Berdasarkan penelitian yang terbitdalam jurnal Geophysical Research Letters pada 2021, asap kebakaran hutan Australia pada 2020 diketahui bergerak menuju sistem siklon di Samudra Pasifik selatan. Dalam kasus tersebut, siklon tropis Sarai bergabung dengan siklon ekstratropis sehingga membentuk sistem yang membantu membawa asap ke lapisan atmosfer lebih tinggi.

    Namun, pengaruh siklon terhadap asap tidak selalu sama karena bergantung pada posisi badai, arah angin, dan kondisi atmosfer di sekitarnya. Hujan yang menyertai siklon juga dapat membantu mengurangi partikel asap di udara dengan membawa sebagian partikel tersebut turun ke permukaan. Karena itu, keberadaan topan Champi saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa badai tersebut menyedot atau membersihkan asap karhutla di Indonesia.

  3. 3. Fakta di balik klaim topan Champi menyedot asap karhutla

    ilustrasi topan Champi
    ilustrasi topan Champi (pexels.com/Tokuo Nobuhiro)

    Klaim bahwa topan Champi dapat menyedot asap karhutla perlu ditelusuri melalui data atmosfer dan penelitian ilmiah. Secara umum, siklon tropis memiliki sirkulasi angin yang dapat memengaruhi arah dan ketinggian pergerakan partikel asap di udara. Penelitian yan terbit dalam jurnal Environmental Science & Technology pada 2025 menunjukkan bahwa siklon tropis memang dapat memengaruhi pengangkutan aerosol ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

    Namun, pergerakan aerosol tersebut tidak otomatis berarti siklon menyedot asap dari wilayah yang jauh, karena pengaruhnya bergantung pada arah angin, posisi badai, dan kondisi atmosfer. Pengamatan NASA Earth Observatory di British Columbia dan Alberta, Kanada, pada September 2023 menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan dapat terangkat ke atmosfer dan masuk ke dalam sirkulasi sistem bertekanan rendah yang melintas. Namun, pengamatan tersebut tidak membahas topan Champi ataupun membuktikan bahwa siklon itu menyedot asap karhutla Indonesia.

    Pada akhirnya, hubungan antara topan Champi dan asap karhutla tidak bisa disimpulkan hanya dari keberadaan siklon di kawasan Pasifik. Pergerakan asap memang dapat dipengaruhi oleh angin, sirkulasi atmosfer, dan hujan, tetapi pengaruhnya perlu dibuktikan melalui data cuaca serta sebaran asap pada waktu yang sama. Jadi, sebelum menyebut Champi menyedot asap karhutla, perlu dipastikan terlebih dahulu apakah ada bukti meteorologis yang mendukung klaim tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More