Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bisakah Gempa Bumi Diprediksi? Berikut Penjelasan Ilmiahnya!
gambar kerusakan akibat terjadinya gempa bumi (unsplash.com/Jose Antonio Gallego Vázquez)
  • Gempa terjadi saat pergerakan lempeng tektonik menumpuk tekanan di patahan, lalu batuan bergeser dan melepaskan energi besar sebagai getaran.
  • Kekuatan gempa diukur melalui gelombang seismik yang direkam seismograf; datanya membantu menentukan magnitudo serta mempelajari potensi gempa masa depan.
  • Ilmuwan belum mampu memprediksi waktu, lokasi, dan kekuatan gempa secara akurat, tetapi dapat memperkirakan peluang berdasarkan riwayat kejadian di suatu wilayah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lagi dan lagi, gempa bumi besar mengguncang Indonesia. Terbaru, gempa bumi meluluhlantakkan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo ini menyebabkan 47 orang meninggal dunia, 5000 orang mengungsi, hingga kerusakan bangunan dan rumah warga. Gempa sendiri sebenarnya bukan bencana yang langka di Indonesia.

Sebaliknya, negara ini cukup sering dilanda bencana satu ini. Gak jarang gempa yang muncul berkekuatan cukup besar, bahkan menyebabkan tsunami dengan daya rusak yang kuat. Namun pertanyaannya, jika gempa bumi sering terjadi, bisakah kita memprediksi kedatangannya? Berikut penjelasan ilmiahnya!

1. Gempa bumi terjadi karena pelepasan energi secara tiba-tiba

gambar lempeng tektonik yang tersebar di seluruh dunia (magnific.com/brgfx)

Indonesia termasuk salah satu negara yang cukup sering mengalami gempa bumi. Sebagai orang Indonesia, kita pun beberapa kali merasakan getaran yang muncul akibat gempa. Namun sebenarnya bagaimana sih gempa bumi bisa terjadi? 

Dilansir NASA, jadi Bumi kita sebenarnya terdiri dari empat lapisan utama yaitu inti dalam, inti luar, mantel, dan kerak. Nah kerak dan bagian atas mantel Bumi kemudian membentuk lapisan tipis di permukaan kita. Namun alih-alih membentuk lapisan utuh, lapisan ini justru terdiri dari potongan-potongan yang kita kenal dengan nama lempeng tektonik, dengan tepiannya disebut batas lempeng. 

Namun lempeng tektonik ini juga gak diam. Mereka terus bergerak tanpa henti hingga menyebabkan tekanan besar pada kerak bumi yang berujung pada retakan atau yang juga disebut patahan. Nah ketika lempeng bergerak, tekanan yang dihasilkan juga jadi semakin besar. Tekanan yang besar pada batuan di sekitar patahan pada akhirnya gak lagi sanggup menahan dan kemudian bergeser. Pergeseran ini kemudian melepaskan energi besar, dan menyebabkan getaran yang kita kenal dengan istilah gempa bumi.

2. Bagaimana gempa bumi dapat diukur?

gambar seismograf (commons.m.wikimedia.org/kkkdc)

Setiap kali gempa bumi terjadi di sebuah wilayah, Badan Meteorologi dan Geofisika akan memberikan kita informasi mengenai kekuatan gempa tersebut. Semakin besar gempanya, semakin tinggi angka yang diberikan. Namun pernahkah kamu bertanya-tanya, bagaimana mereka dapat menghitung kekuatan gempa bumi yang terjadi di suatu wilayah? Dilansir USGS, energi yang dihasilkan dari pergeseran lempeng merambat seperti gelombang.

Para ahli menyebutnya dengan istilah gelombang seismik. Nah besar kecilnya gelombang ini bisa dicatat, diukur, dan direkam dengan menggunakan alat bernama seismograf. Seismograf sendiri merupakan instrumen yang memang dirancang untuk mengukur gelombang seismik yang muncul dari berbagai peristiwa. Entah itu gempa bumi, letusan gunung berapi, hingga ledakan besar. Hasil pencatatan seismograf sangat penting, karena selain dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar kekuatan gempa, catatan ini juga digunakan para peneliti untuk mempelajari potensi gempa bumi yang mungkin akan muncul di masa mendatang. 

3. Bisakah gempa bumi diprediksi?

gambar kerusakan setelah terjadinya gempa (unsplash.com/Sarah Crego)

Mengingat gempa di Indonesia cukup sering terjadi, rasanya akan jauh lebih mudah jika kita bisa memprediksi kedatangan gempa sebelum bencana itu terjadi. Setidaknya kita bisa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sayangnya dilansir Pacific Northwest Seismic Network, sampai saat ini para ilmuwan belum bisa menemukan cara ataupun alat untuk memprediksi secara akurat tentang waktu, lokasi, maupun kekuatan gempa bumi yang akan terjadi di masa mendatang.

Salah satu penyebabnya karena para ilmuwan belum sepenuhnya memahami proses yang menyebabkan patahan dapat bergeser secara tiba-tiba. Meski begitu, sebagai gantinya para ilmuwan bisa memperkirakan peluang kemungkinan terjadinya gempa dengan magnitudo tertentu di suatu wilayah. Perkiraan ini muncul didasarkan pada tingkat rata-rata kejadian di masa lalu.

Misalnya suatu wilayah rata-rata mengalami gempa berkekuatan 7 magnitudo hampir setiap 5 tahun sekali, maka data tersebut bisa digunakan untuk menghitung seberapa besar kemungkinan gempa yang sama akan terjadi lagi di wilayah tersebut pada masa mendatang. Namun kembali lagi, ini hanya perkiraan. Bisa aja gempa tersebut gak pernah terjadi, atau bahkan terjadi beberapa kali dengan kekuatan yang lebih kecil atau lebih besar. 

Gempa bumi yang disebabkan oleh pergeseran lempeng merupakan bencana alam yang sulit diprediksi. Namun sebagai manusia, kita tetap bisa mengurangi risikonya dengan mempelajari cara melindungi diri saat gempa bumi terjadi. Terdengar sederhana memang, tapi faktanya pengetahuan yang kita miliki dapat menyelamatkan nyawa diri dan orang lain disekitar kita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article