Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

BRIN Ungkap Penyebab Suhu Dingin di Indonesia Pada Musim Kemarau

BRIN Ungkap Penyebab Suhu Dingin di Indonesia Pada Musim Kemarau
Ilustrasi suhu dingin (Pexels.com/Mikhail Nilov)
Intinya Sih
  • Fenomena penurunan suhu udara di musim kemarau tengah diramaikan di media sosial.
  • Peneliti PRIMA BRIN, Eddy Hermawan, menjelaskan kaitan antara penurunan suhu dengan fenomena astronomi Aphelion yang terjadi pada 5 Juli 2024.
  • Penurunan suhu ini diyakini bukan akibat iklim global, tetapi lebih kepada perubahan iklim regional atau lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Beberapa waktu yang lalu media sosial tengah diramaikan dengan topik penurunan suhu udara di musim kemarau. Suhu sekitar tiba-tiba terasa dingin. Dari sudut pandang klimatologi, fenomena ini berhubungan dengan kondisi atmosfer.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan, menjelaskan fenomena penurunan suhu di sejumlah wilayah di Indonesia, memiliki kaitan dengan Aphelion.

Fenomena astronomi tahunan ini terjadi pada 5 Juli 2024 kemarin, di mana Bumi berada di titik Aphelion atau titik terjauh dari Matahari.

Perubahan iklim regional

Dikutip dari situs resmi BRIN, fenomena tersebut kecil kemungkinannya karena suhu dingin yang terjadi akibat iklim global.

“Mungkin lebih pasnya itu perubahan iklim regional atau lokal. Tipe wilayah yang memiliki perbedaan jelas antara periode musim hujan dan periode musim kemarau atau monsunal relatif dominan diserang suhu dingin,” jelasnya.

Edy mengatakan, fenomena ini dimulai dari kawasan timur Indonesia yaitu kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali, kemudian merambat ke Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Namun, kecil kemungkinan suhu dingin ini akibat dari global warming. Sebab semakin "warming" di permukaan, maka semakin "cooling" di lapisan stratosfer, begitupun sebaliknya.

Terjadi setelah Aphelion

ilustrasi atmosfer (wikimedia.org/NOAASatellites)
ilustrasi atmosfer (wikimedia.org/NOAASatellites)

Di kawasan Timur Indonesia, suhunya dinilai sudah rendah sebelum Aphelion. Sehingga sebelum Aphelion muncul, sudah menunjukkan perubahan suhu di bawah normal.

Ia menduga bahwa hampir semua kawasan bertipe monsunal mengalami fenomena suhu rendah. Tetapi, menurunnya suhu ini terjadi setelah aphelion muncul. Dia menjelaskan tidak ada penurunan suhu sebelum kemunculan aphelion di bulan Juli.

"Jadi aphelion dulu muncul, baru suhu drop, bukan karena suhunya drop baru aphelion muncul,” imbuh Eddy.

Meski begitu, dia menerangkan evolusi pergerakan semu Matahari terhadap Bumi ini akan diikuti dengan evolusi perubahan suhu di permukaan bumi. Polanya mirip, namun ada jeda waktu atau lag-time. 

Periset harus pertimbangkan semua aspek

Eddy mengkonfirmasi adanya tiupan udara dingin dari wilayah Australia. Udara dingin yang bertiup dari wilayah Kutub Selatan ini akibat dari fenomena Aphelion yang menyebabkan wilayah bumi bagian selatan tidak mendapatkan panas matahari.

Dia meminta periset untuk tidak hanya berfokus pada pergerakan massa uap air kering yang berasal dari Benua Australia menuju belahan bumi utara yang melintasi kawasan timur Indonesia saja, namun juga dengan sebab lainnya.

“Jadi kalau ada satu dua kawasan yang mengikuti pola itu, dugaan saya mekanismenya masih perlu dikaji dan diteliti. Apa ada pengaruh posisi Matahari terjauh dari Bumi yang menyebabkan suhu menjadi drop,” katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
Misrohatun H
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More