Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Monumen Holocaust untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa

5 Fakta Monumen Holocaust untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa
Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa, juga dikenal sebagai Monumen Holocaust, yang merupakan hamparan 2.711 tugu beton dengan ketinggian yang berbeda-beda yang terletak di Berlin, Jerman. (unsplash.com/Antoine Gravier)
Intinya Sih
  • Monumen Holocaust di Berlin dibangun untuk menghormati enam juta korban Yahudi, digagas oleh Lea Rosh dan Eberhard Jäckel, serta disetujui pemerintah Jerman pada 1999.
  • Desain karya arsitek Peter Eisenman menampilkan 2.711 pilar beton abu-abu dengan lantai bergelombang, menciptakan pengalaman emosional yang menggambarkan kehilangan arah dan ketidakpastian.
  • Pusat Informasi di bawah monumen menyajikan dokumentasi sejarah dan kisah pribadi korban, menjadikannya ruang refleksi mendalam sejak peresmian pada 10 Mei 2005.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Monumen adalah struktur, bangunan, atau patung yang didirikan untuk memperingati seseorang, kelompok, atau peristiwa bersejarah penting. Berfungsi sebagai simbol penghormatan, warisan budaya, dan sarana edukasi sejarah bagi generasi penerus, serta seringkali dilindungi oleh negara. Salah satu monumen yang sangat dilindungi karena nilai sejarahnya yang mendalam adalah Monumen Holocaust. Situs seluas 19.000 meter persegi ini terletak di kawasan Mitte, tepat di sebelah selatan Gerbang Brandenburg, Berlin, Jerman.

Namun, pesan apa sebenarnya yang ingin disampaikan melalui ribuan beton yang tampak tidak beraturan ini? Mari kita telusuri lebih dalam mengenai sejarah, filosofi desain, dan fakta-fakta menarik lainnya dari Monumen Holocaust ini dalam artikel berikut!

1. Monumen peringatan untuk kaum Yahudi yang terbunuh

Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa, juga dikenal sebagai Monumen Holocaust, yang merupakan hamparan 2.711 tugu beton dengan ketinggian yang berbeda-beda yang terletak di Berlin, Jerman.
Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa, juga dikenal sebagai Monumen Holocaust, yang merupakan hamparan 2.711 tugu beton dengan ketinggian yang berbeda-beda yang terletak di Berlin, Jerman. (commons.wikimedia.org/Alexander Blum)

Gagasan untuk membangun Monumen Holocaust pertama kali muncul pada akhir 1980-an atas inisiatif jurnalis Lea Rosh dan sejarawan Eberhard Jäckel. Mereka mendorong masyarakat Jerman Barat untuk memberikan penghormatan resmi bagi 6 juta warga Yahudi yang menjadi korban Holocaust. Melalui sebuah kelompok pendukung yang didirikan pada 1989, Lea Rosh berhasil menggalang dukungan luas dan donasi guna mewujudkan proyek peringatan bersejarah tersebut.

Dukungan tersebut akhirnya membuahkan hasil saat parlemen Jerman secara resmi menyetujui proyek ini melalui resolusi khusus. Pada 25 Juni 1999, pemerintah memutuskan untuk menggunakan desain karya arsitek Peter Eisenman. Untuk memastikan pengelolaan monumen berjalan dengan baik, dibentuklah sebuah yayasan federal bernama Yayasan Monumen bagi Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa.

2. Dirancang oleh arsitek asal New York, Peter Eisenman

Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa, juga dikenal sebagai Monumen Holocaust, yang merupakan hamparan 2.711 tugu beton dengan ketinggian yang berbeda-beda yang terletak di Berlin, Jerman.
Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa, juga dikenal sebagai Monumen Holocaust, yang merupakan hamparan 2.711 tugu beton dengan ketinggian yang berbeda-beda yang terletak di Berlin, Jerman. (commons.wikimedia.org/Ank Kumar)

Proses pemilihan desain monumen ini dimulai dengan kompetisi artistik pada tahun 1994 yang menarik perhatian besar, di mana lebih dari 500 proposal diajukan oleh peserta dari berbagai bidang. Setelah melalui beberapa tahap seleksi yang ketat, juri merekomendasikan dua desain utama, yaitu sebuah struktur baja dengan ukiran nama kamp pemusnahan karya Simon Ungers, dan sebuah lempengan beton raksasa berisi ukiran nama para korban karya Christine Jackob-Marks.

Namun, rekomendasi tersebut tidak berjalan mulus karena Kanselir Federal saat itu, Helmut Kohl, merasa kurang puas dengan desain yang terpilih. Ketidaksetujuan ini akhirnya membuat hasil kompetisi pertama dibatalkan. Sebagai gantinya, pemerintah memutuskan untuk mengadakan kompetisi baru yang lebih terbatas pada tahun 1996 dengan mengundang 25 arsitek dan pematung terpilih guna mencari desain yang dianggap lebih tepat. Hingga pada kompetisi kedua tahun 1997, desain karya arsitek Peter Eisenman akhirnya terpilih sebagai pemenang.

3. Lantai monumen sengaja dibuat tidak rata dan bergelombang

Seseorang berjalan di antara pilar-pilar beton Monumen Peringatan bagi Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa di Berlin.
Seseorang berjalan di antara pilar-pilar beton Monumen Peringatan bagi Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa di Berlin. (commons.wikimedia.org/Fluffigkatt)

Monumen Holocaust dirancang sebagai labirin terbuka tanpa pintu masuk utama, sehingga pengunjung dapat masuk dari segala sisi namun akan merasa kebingungan saat berada di dalamnya. Keunikan utamanya terletak pada 2.711 pilar beton abu-abu yang tersusun rapi dengan ketinggian beragam, mulai dari setinggi mata kaki hingga mencapai hampir 5 meter. Selain itu, lantai monumen dibuat miring dan bergelombang untuk menciptakan perasaan tidak stabil dan tidak aman bagi siapa pun yang berjalan di atasnya.

Saat pengunjung melangkah ke bagian tengah, permukaan tanah yang menurun dan pilar yang semakin menjulang akan memberikan kesan tertutup yang sangat masif. Arsitek Peter Eisenman sengaja merancang desain abstrak ini tanpa simbol atau nama apa pun di permukaan betonnya untuk memberikan kesan kaku. Hal ini melambangkan sebuah sistem birokrasi yang tampak teratur secara fisik, tetapi sebenarnya telah kehilangan akal sehat dan nilai-nilai kemanusiaan.

4. Menggunakan lapisan anti-grafiti pada blok-blok betonnya

Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa, juga dikenal sebagai Monumen Holocaust, yang merupakan hamparan 2.711 tugu beton dengan ketinggian yang berbeda-beda yang terletak di Berlin, Jerman.
Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa, juga dikenal sebagai Monumen Holocaust, yang merupakan hamparan 2.711 tugu beton dengan ketinggian yang berbeda-beda yang terletak di Berlin, Jerman. (commons.wikimedia.org/Ank Kumar)

Monumen Holocaust menggunakan lapisan pelindung khusus bernama Protectosil untuk menjaga kebersihan pilar betonnya dari aksi vandalisme atau grafiti. Cairan ini bekerja dengan cara menutup pori-pori beton sehingga cat semprot tidak dapat meresap ke dalam dan dapat dibersihkan dengan mudah. Meski berfungsi efektif melindungi estetika monumen, penggunaan lapisan ini sempat memicu kontroversi etika yang sangat besar karena diproduksi oleh perusahaan Degussa.

Kontroversi tersebut muncul karena Degussa diketahui sebagai perusahaan induk yang dahulu memproduksi gas beracun Zyklon B untuk kamar gas Nazi. Fakta kelam ini sempat menghentikan pembangunan monumen selama beberapa bulan karena perdebatan mengenai kepantasan menggunakan produk dari perusahaan yang terlibat dalam genosida. Namun, pemerintah Jerman akhirnya memutuskan untuk tetap menggunakan lapisan tersebut dengan pertimbangan biaya yang sangat besar jika harus dibongkar, serta pengakuan bahwa hampir seluruh industri besar Jerman di masa lalu memiliki keterkaitan dengan rezim Nazi.

5. Ada Pusat Informasi di bawah hamparan blok beton tersebut

Pusat Informasi bawah tanah di Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa di Berlin, Jerman.
Pusat Informasi bawah tanah di Monumen untuk Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa di Berlin, Jerman. (commons.wikimedia.org/Fluffigkatt)

Pusat Informasi ini terletak secara tersembunyi di bawah pilar-pilar beton agar tidak mengganggu pemandangan utama monumen di atasnya. Di dalamnya terdapat empat ruangan tematik yang menyajikan data sejarah konkret, mulai dari garis waktu peristiwa hingga dokumentasi pribadi para korban. Pengunjung dapat melihat benda-benda menyentuh seperti surat terakhir dari kereta kematian dan foto-foto kenangan yang memberikan wajah kemanusiaan pada sejarah kelam tersebut.

Salah satu bagian paling emosional adalah Ruang Keluarga yang menceritakan nasib 15 keluarga Yahudi, serta Ruang Nama di mana identitas para korban dibacakan dengan lantang. Desain interiornya memiliki langit-langit beton bergelombang yang menciptakan suasana sunyi dan mencekam seperti di dalam makam bawah tanah. Tempat ini melengkapi area pilar yang abstrak dengan memberikan edukasi nyata mengenai bukti-bukti sejarah pemusnahan massal di Eropa.

Sejak diresmikan pada 10 Mei 2005 untuk memperingati 60 tahun berakhirnya Perang Dunia II, Monumen Holocaust terus menjadi pusat perhatian sekaligus diskusi publik yang dinamis. Meski sempat menuai kritik karena desainnya yang dianggap terlalu abstrak dan fokus pada satu kelompok korban, keberadaannya justru mendorong pembangunan monumen peringatan lain bagi kelompok Sinti, Roma, dan korban penganiayaan lainnya di Berlin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More