10 Cuaca yang Pengaruhi Jalannya Perang, Tsunami hingga Cuaca Ekstrem

Dalam perang, para jenderal biasanya mengendalikan keadaan pertempuran. Itu kenapa, jalur pasokan, logistik, dan taktik perang direncanakan dengan cermat. Namun, semua ini tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan. Sering kali, cuaca mengacaukan rencana terbaik sekalipun, dan memaksa para komandan untuk cari strategi lain atau kalah dalam pertempuran.
Namun terkadang, para komandan perang mampu memanfaatkan cuaca untuk mengubah situasi buruk menjadi keuntungan bagi mereka. Bahkan bisa dibilang kalau cuaca mampu menjadi faktor penentu. Dari salah satu tsunami yang menghancurkan pasukan invasi Persia di Yunani, hingga kabut yang menyelamatkan Jenderal George Washington dan Amerika Serikat dari kehancuran, yang hanya dua bulan setelah Deklarasi Kemerdekaan. Berikut adalah cuaca yang mengubah alur dalam perang.
1. Pengepungan Potidaea (479 SM), ketika tsunami menenggelamkan pasukan Akhemeniyah Persia

Sejarawan dan ahli etnografi Yunani, Herodotus, menceritakan dalam bukunya yang berjudul The Histories bahwa pada tahun 479 SM, pasukan Satrap Persia Artabazus (Akhemeniyah) mengepung Potidaea, sebuah kota di Yunani Utara di Semenanjung Khalkidhiki. Potidaea menempati titik tersempit di semenanjung, yang menurut Herodotus, suka mengalami banjir. Namun, tiga bulan setelah pengepungan, daerah itu menjadi rawa yang dapat dilewati.
Herodotus menulis bahwa ketika pasukan Persia mencoba untuk melewati rawa itu menuju Pallene (semenanjung di selatan Potidaea), mereka menghadapi peristiwa cuaca yang tak terduga. Ketika mereka hampir sampai di tengah rawa, banjir besar (tsunami) menyapu pasukan Persia dan menenggelamkan sebagian besar dari mereka. Penduduk Potidaea membunuh pasukan Persia yang tersisa setelah keluar dari kapal. Para pengepung Persia terpaksa meninggalkan pengepungan dan mundur ke Thessaly di Yunani Utara-Tengah.
Herodotus memberikan petunjuk tentang penyebab tsunami tersebut. Penduduk Potidae mengatakan bahwa bangsa Persia telah menyinggung Dewa Poseidon dengan merusak kuil dan patungnya di pinggiran kota. Nah, sebagai dewa laut dan gempa bumi, Poseidon sepatutnya tidak diperlakukan seperti itu. Penduduk Potidaea pun percaya kalau Poseidon mengirim bencana kepada bangsa Persia sebagai pembalasan.
Dikutip BBC, para ilmuwan yang meneliti kejadian tersebut, mengonfirmasi bahwa gempa bumi terjadi kala itu dan menyebabkan tsunami. Peristiwa tersebut menyelamatkan kota dari penjarahan Persia. Jadi, meskipun kaum Potidaea bukanlah penyebab pasti terjadinya tsunami, tapi bencana ini menyelamatkan mereka.
2. Pengepungan Konstantinopel (860), ketika badai besar mengakhiri pengepungan yang dilakukan Bangsa Rus Viking

Kota Konstantinopel yang merupakan ibu kota Bizantium, dikenal karena pengepungan terakhirnya pada tahun 1453. Akibat pengepungan tersebut, kota itu jatuh ke tangan Turki Utsmaniyah (Ottoman). Namun, kota itu pernah selamat dari berbagai pengepungan sebelumnya, termasuk pengepungan oleh Bangsa Rus (Viking). Namun, ada satu cerita yang menyebutkan bahwa pengepungan berakhir dengan campur tangan Tuhan dan cuaca buruk.
Sumber yang dimaksud adalah Chronicon Bruxellense (Kronik Brussel), yang menurut jurnal Studia Ceranea, berisi informasi yang bertentangan dengan sumber-sumber sebelumnya atau bisa saja dihilangkan. Meskipun ada klaim bahwa penulisnya merupakan saksi mata. Pengepungan Konstantinopel oleh Bangsa Rus, menurut Patriark Photios dari Konstantinopel, berakhir ketika "pakaian Bunda Maria" diletakkan di dinding.
Kemudian, para prajurit Rus tiba-tiba mengemasi perkemahan mereka dan pergi. Namun, catatan Chronicon Bruxellense (Kronik Brussel) dan Symeon Logothete menambahkan bahwa kerudung Perawan Maria tidak hanya diletakkan di dinding. Sebaliknya, Kaisar Michael III mencelupkan kerudungnya ke perairan Bosporus. Kemudian terjadi badai yang menghancurkan semua kapal Bangsa Rus.
Namun, tidak diketahui pasti apakah kisah tentang kerudung Bunda Maria itu benar adanya atau tidak. Di sisi lain, Gereja Ortodoks justru memercayai kisah tersebut. Mengingat lukisan dinding dari adegan itu menghiasi gereja Moskow.
3. Tanduk Hattin atau Pertempuran Hattin (1187), ketika musim panas mengalahkan tentara salib lewat rumput kering yang dibakar pasukan Sultan Saladin

Pertempuran Tanduk Hattin mempertemukan Sultan Saladin (Shalahuddin al-Ayyubi) melawan Raja Guy dari Kerajaan Salib Yerusalem. Pada tahun 1187, pasukan salib berbaris untuk membebaskan kastil di Tiberias. Namun, alih-alih menyerang, Raja Guy memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di tempat yang disebut Tanduk Hattin. Di sana, Sultan Saladin berhasil menjebaknya dan berhasil memanfaatkan teriknya musim panas.
Nah, karena panas yang menyengat, rumput di sekitar perkemahan salib sangat kering. Jadi, tentara Sultan Saladin membakar rumput-rumput tersebut. Asap tebal dari bakaran rumput ini menyelimuti perkemahan salib sehingga pasukan salib tidak bisa melihat bahwa Sultan Saladin dan pasukannya sedang mengepung mereka di malam hari.
Pertempuran sebenarnya baru dimulai sekitar tengah hari—bagian terpanas pada hari itu. Pasukan salib menyerang, berharap mencapai Danau Tiberias untuk mengisi persediaan air, tetapi pasukan Sultan Saladin memblokir jalan mereka. Nah, karena terbebani oleh baju zirah mereka, panas terik, kurang tidur, dan kelelahan yang luar biasa, membuat para tentara salib tidak punya peluang untuk melawan para pasukan pemanah Sultan Saladin. Keadaan semakin memburuk ketika relik Salib Sejati (serpihan kayu yang diyakini berasal dari salib tempat Yesus Kristus disalibkan) direbut oleh pasukan Sultan Saladin. Hal ini semakin menghancurkan semangat pasukan tentara salib. Akhirnya, Raja Guy dan sebagian besar pasukannya menyerah lalu ditawan.
Dengan kemenangan itu, Sultan Saladin mengepung Ascalon dan kemudian merebut Yerusalem. Ia berhasil mengembalikan kota itu ke tangan umat Islam. Namun hal itu juga memicu Perang Salib Ketiga, di mana Sultan Saladin akan menghadapi lawan yang jauh lebih tangguh ketimbang Raja Guy.
4. Pertempuran Crécy (1346), ketika hujan badai merusak busur panah pasukan Philip VI dari Prancis

Kematian Philip IV dari Prancis pada tahun 1314, disusul oleh ketiga putranya yang juga meninggal secara beruntun. Takhta kerajaan pun kosong tanpa adanya ahli waris. Adapun, kerabat terdekat raja adalah keponakannya, yaitu Edward III dari Inggris, putra dari saudara perempuan almarhum sang raja, Isabella.
Namun, Philippe de Valois membantah klaim tersebut. Ia punya alasan bahwa "loi salique" Prancis (hukum salik), mencegah perempuan mewarisi takhta Prancis. Ia pun mengadopsi hukum tersebut dan tidak mengizinkan perempuan diwariskan takhta tersebut. Bangsawan Prancis memihak kepadanya. Ia pun menjadi Raja Philip VI dari Prancis.
Namun, Edward III tidak menerima hal tersebut. Jadi pada tahun 1346, ia menyerang Prancis dengan pasukan 12.000 orang untuk merebut takhta. Lawannya sendiri adalah pasukan Prancis yang berjumlah 30.000 orang, yang termasuk sejumlah besar tentara bayaran dari Jerman dan Italia.
Pasukan Prancis menyerang pasukan Edward III di dekat kota Crécy. Philip VI memulainya dengan serangan panah, tapi pasukannya kurang beruntung ketika hujan badai tiba-tiba melanda. Tali busur panah mereka pun basah dan tidak dapat menembakan panah. Alhasil, para pemanah busur panjang dari Inggris (pasukan Edward III), yang berhasil menjaga tali busurnya tetap kering, bisa menghancurkan musuh tersebut.
Lalu ketika para pasukan Prancis menyerang (pasukan Philip VI) dengan menyerbu bukit berlumpur menuju pasukan Inggris, mereka lumpuh karena busur panjang Inggris berujung baja berhasil menembus baju besi (zirah) mereka. Pertempuran itu pun berubah menjadi bencana bagi pasukan Prancis, yang kemudian kehilangan pelabuhan Calais—sebuah titik penting untuk persiapan invasi Inggris ke Prancis di masa mendatang.
5. Senin Hitam atau Black Monday (1360), ketika badai dan cuaca ekstrem membuat Raja Edward III dari Inggris mengakhiri invasnya ke Paris

Pada tahun 1359, Edward III dari Inggris melanjutkan kemenangannya di Crécy dengan invasi besar-besaran lainnya ke Prancis. Kali ini ia menargetkan Paris, sebagaimana yang ditulis Historic UK. Pada 13 April 1360, bertepatan dengan Minggu Paskah—pasukannya, yang baru saja menjarah pinggiran Paris, mengepung kota Chartres di Prancis.
Malam itu, upaya Edward III berantakan hanya dalam waktu 30 menit saja. Hal ini terjadi ketika cuaca buruk tiba-tiba melanda perkemahannya. Awalnya, suhu turun hingga di bawah titik beku, dan pasukan Inggris tidak punya persiapan dalam menghadapi cuaca dingin ini. Kemudian hujan turun, dan berubah menjadi hujan es besar serta angin kencang.
Badai tersebut menghancurkan perkemahan Inggris, menerbangkan tenda-tenda dan menakut-nakuti kuda-kuda. Sampai akhirnya kuda-kuda yang mengamuk di sekitar perkemahan, menginjak-injak pasukan yang ada di dekatnya. Sementara itu, hujan es juga menelan korban jiwa. Secara keseluruhan, pasukan Inggris kehilangan 1.000 orang dan 6.000 kuda—tiga kali lipat dari perkiraan korban jiwa dalam Pertempuran Crécy.
Kronik Inggris (catatan sejarah Inggris) menjelaskan bahwa Edward III dan pasukannya berlutut dan memohon belas kasihan kepada Tuhan, mengingat hari itu adalah Minggu Paskah. Edward III merasa kalau Tuhan ingin dia menghentikan perang dan memutuskan untuk bernegosiasi dengan Prancis. Pada Mei tahun itu, kedua pihak menandatangani Perjanjian Bretigny. Dalam perjanjian ini, Prancis secara resmi menyerahkan pelabuhan Calais dan wilayah barat daya Aquitaine kepada Inggris sebagai imbalan atas pelepasan takhta Prancis oleh Edward III. Edward III sendiri juga membebaskan Raja Prancis Jean II yang ditawan.
6. Pengepungan Wina (1529), ketika pasukan Ottoman memilih pergi akibat cuaca dingin ekstrem di medan perang

Pengepungan Wina biasanya merujuk pada serangan Turki tahun 1683 terhadap ibu kota Austria, tetapi sebelum itu, kota ini juga selamat dari pengepungan Ottoman pada tahun 1529. Menurut sejarawan Karl August Schimmer dalam bukunya yang berjudul The Sieges of Vienna by the Turks, para pembela Wina pada tahun 1529 menghadapi pasukan Ottoman yang berjumlah 300.000 orang di bawah Sultan Suleiman Agung. Namun, terlepas dari peluang yang ada, Karl August Schimmer menjelaskan bahwa keadaan tidak separah yang terlihat bagi para pembela. Pasalnya, pasukan Ottoman meninggalkan artileri terberat mereka, yang mereka gunakan untuk menembus tembok Wina, di Hongaria.
Yap, hujan di akhir musim panas saat itu memang sangat deras. Jadi tidak mungkin untuk melintasi jalanan berlumpur dalam serangan tersebut. Sebaliknya, pasukan Ottoman terpaksa menggali terowongan di balik tembok Wina. Bisa dibilang, taktik ini lebih mengutamakan keterampilan ketimbang jumlah pasukan. Namun, para pembela Wina melakukan penggalian balik dan meruntuhkan terowongan Ottoman.
Cuaca semakin memburuk bagi para penyerang, karena awal musim gugur tahun 1529, lebih dingin dari yang diperkirakan dan hujan deras sering kali membuat cuaca di malam hari berada di titik beku. Alhasil, pasukan Ottoman yang terbiasa dengan cuaca hangat, tidak siap menghadapi malam yang teramat dingin. Di tambah lagi, penyakit dan kekurangan makanan merenggut banyak korban di antara para pasukan Ottoman. Sultan Suleiman Agung akhirnya terpaksa meninggalkan medan perang. Namun, ia memerintahkan pasukannya untuk membakar perkemahan, beserta dengan semua tawanan mereka.
7. Pertempuran Long Island (1776), ketika kabut tebal membantu pasukan George Washington untuk melarikan diri dari Inggris

Pada Agustus 1776, Amerika Serikat yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya, terpaksa berperang melawan Inggris di sekitar Kota New York dan Brooklyn (yang pada saat itu merupakan wilayah terpisah). Jenderal George Washington, sebagaimana yang dilansir Mt. Vernon Museum, berharap pasukannya bisa mempertahankan bagian barat Long Island melawan Jenderal Inggris William Howe. George Washington menempatkan pasukannya untuk menjaga pintu masuk ke Brooklyn, tetapi ia lalai untuk menjaga jalan yang disebut Jamaica Pass. Akibatnya, Howe menyerang lewat jalan tersebut untuk mengepung pasukan George Washington di dekat East River.
William Howe kemudian melancarkan pengepungannya pada 27 Agustus, dengan serangan tiga arah yang memaksa pasukan Amerika mundur ke posisi utama mereka di Brooklyn Heights. Dari sini, tidak ada tempat untuk melarikan diri selain East River. Namun, dalam keadaan terpuruk, George Washington justru mendapat keberuntungan.
Nah, William Howe memutuskan untuk tidak menyerang posisi Amerika—tindakan yang bisa mengakhiri perang saat itu juga, meskipun dengan banyak korban jiwa di pihak Inggris. Namun, Howe memilih untuk bertahan dan membuat George Washington kelaparan. George Washington, di pihak lain, tidak menyerah. Ia memerintahkan pasukannya untuk mundur di malam hari saat Inggris menutup jebakannya.
Di sisi lain, berkat kabut tebal, 9.000 tentara Kontinental berhasil menyelinap ke Manhattan tanpa gangguan. George Washington, seperti seorang pemimpin sejati, adalah orang Amerika terakhir yang berhasil melarikan diri. Nah, saat kabut menghilang pada pagi hari, tepatnya 30 Agustus, Inggris baru mengetahui kalau semua pasukan Amerika sudah pergi.
8. Invasi Napoleon ke Rusia (1812), ketika musim dingin membuat pasukan Napoleon kelaparan dan tidak siap untuk bertempur melawan musuh

Banyak yang mengira kalau kekalahan Napoleon dalam invasi Rusia tahun 1812 disebabkan oleh musim dingin. Namun, dikutip Russia Beyond, musim dingin di Rusia hanyalah langkah cerdas untuk menutupi kesalahan taktisnya sendiri melawan tentara Rusia.
Tentara Prancis kalah dalam pertempuran karena tiga alasan: kekurangan pasokan makanan, bergantung pada jalur perdagangan yang panjang, dan menghadapi bukan hanya tentara utama Rusia, tetapi juga pasukan gerilya yang terorganisir serta terdiri dari petani dan Bangsa Cossack. Dengan kata lain, Napoleon tidak siap untuk menghadapi tantangan logistik di musim dingin, meskipun ia tahu cuaca yang akan dihadapinya.
Meskipun musim dingin bukan satu-satunya penyebab kekalahan Napoleon, perannya juga tidak bisa diabaikan. Seperti yang ditulis oleh Jenderal Prancis Henri de Jomini, pasokan makanan tentara Prancis di negaranya sebenarnya cukup, bahkan untuk bertahan dalam kondisi siap bertempur meskipun cuaca dingin. Namun, di Rusia, tentara Prancis tidak bisa bertahan hidup dari hasil bumi setempat, sehingga tentara Prancis kekurangan gizi, dan kondisi fisik mereka yang lemah itu tidak memungkinkan untuk bertempur.
9. Pertempuran Suomussalmi (1939), ketika musim dingin ekstrem memukul mundur tentara Soviet yang dipersenjatai dengan lengkap

Uni Soviet menginvasi Finlandia pada tahun 1939. Namun, rakyat Finlandia tak tinggal diam dan melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan mereka di bawah pimpinan Marsekal Carl Gustaf Emil Mannerheim. Keberhasilan rakyat Finlandia terjadi berkat kelihaian mereka dalam menghadapi cuaca musim dingin yang ekstrem pada tahun 1939. Sebab, suhu pada saat itu mencapai -34 derajat Celcius, menurut buku William Trotter berjudul A Frozen Hell.
Keunggulan Finlandia sendiri sangat terlihat di front Arktik di Finlandia timur. Di sini, rakyat Finlandia, tanpa satu pun senjata anti-tank, menghadapi tentara Soviet yang dipersenjatai lengkap dengan tank dan kendaraan lapis baja. Namun, terlepas dari semua peralatan canggih tentara Soviet, Soviet harus menerima kekalahan dalam Pertempuran Suomussalmi.
Seperti yang dijelaskan William Trotter, tentara Soviet tidak siap untuk perang Arktik. Makanan dan pakaian mereka tidak mencukupi. Salju dan sulitnya medan jalan membuat pergerakan kendaraan dan tank hampir mustahil untuk dikerahkan. Selain itu, seragam khaki yang dikenakan tentara Soviet membuat mereka menjadi sasaran empuk bagi pasukan ski Finlandia yang bergerak lincah dan mengenakan pakaian serba putih mirip salju.
Di Suomussalmi, rakyat Finlandia memanfaatkan keterampilan masing-masing. Penembak Finlandia ditempatkan untuk memblokir jalan, memaksa tentara Soviet untuk menerobos garis pertahanan, atau mengambil jalan memutar lewat hutan bersalju. Di sana, pasukan ski Finlandia yang dipersenjatai dengan berbagai macam granat dan bahan peledak, menyerbu tentara Soviet dan kemudian bersembunyi dalam salju. Dengan cara ini, hanya dengan beberapa batalion Finlandia, mampu menghancurkan seluruh divisi Soviet, sehingga Finlandia mendapat julukan "the White Death".
10. Perang Vietnam (1955—1975), ketika musim hujan dan kemarau menjadi masalah bagi tentara Amerika di hutan Vietnam

Ketika Amerika Serikat keluar sebagai pemenang dari Perang Dunia II, rasa tak terkalahkan menyelimuti negara adidaya terkemuka di dunia ini. Namun, hal itu hancur ketika Amerika Serikat terlibat dalam konflik yang tidak siap mereka hadapi. Yap, hal ini berkaitan dengan cuaca di Vietnam.
Vietnam adalah wilayah yang sangat berbeda dari Perang Dunia II lainnya. Alih-alih menghadapi pasukan musuh yang besar di tempat terbuka, Amerika Serikat justru harus menghadapi pasukan gerilya musuh yang terorganisir dengan baik. Mereka bertempur di hutan lebat Vietnam, di mana cuaca dan medan hampir merusak setiap keuntungan bagi Amerika.
Vietnam punya dua musim yang mirip seperti Indonesia—musim hujan dan musim kemarau. Selama musim hujan, angin kencang dan hujan lebat membuat Amerika kesulitan memberikan pasokan lewat udara untuk tentara di darat, baik dari pesawat maupun helikopter. Di lapangan, cuaca panas dan lembap juga menciptakan penyakit seperti malaria.
Menurut Australian Department of Veterans' Affairs, hujan juga membuat kendaraan lapis baja Amerika—salah satu keunggulan persenjataan Amerika di Vietnam—sama sekali tidak bisa digunakan di medan yang basah dan berlumpur. Musim kemarau pun menciptakan badai debu, menyebabkan berbagai macam infeksi mata dan telinga bagi para tentara yang ditugaskan bekerja di dalam kendaraan logam, yang suhunya bisa melebihi 37 derajat Celcius. Mengingat kondisi tersebut, tidak heran jika dukungan terhadap perang tersebut sangat rendah di Amerika.
Dalam pertempuran di medan perang, cuaca sering kali menjadi penentu. Selain taktik yang sempurna, kondisi lingkungan juga sangat memengaruhi. Ada yang bilang, Tuhan sering kali berbicara melalui alam (cuaca). Itulah kenapa hal ini sering kali tidak dapat dipahami.


















