Gunung Anak Krakatau tertutup kabut tebal karena cuaca mendung, Sabtu (27/8/2022) sore. (IDN Times/Rohmah Mustaurida)
Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradient temperatur dan wind shear stratosfer.
“Kombinasi tersebut membiaskan energi suara melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung, di mana bentuk topografi cekungan bertindak sebagai acoustic cavity yang memantulkan kembali serta mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik tersebut secara lokal,” jelasnya lebih dalam.
Gelombang tersebut kemudian dapat menempuh jarak yang sangat jauh. Kondisi atmosfer, seperti perbedaan suhu dan arah/kecepatan angin pada ketinggian tertentu, dapat membuat gelombang suara itu membelok dan terus merambat dengan kehilangan energi yang relatif kecil.
Menariknya, Bandung berada di sebuah cekungan yang dikelilingi pegunungan. Kondisi topografi ini bisa membuat gelombang tekanan yang sampai ke wilayah Bandung memantul dan terkumpul, sehingga efeknya terasa lebih kuat di lokasi tertentu.
Akibatnya, benda-benda ringan seperti kaca jendela dapat bergetar atau beresonansi, lalu manusia mendengarnya sebagai bunyi dentuman.