Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dentuman Bandung Diduga Infrasound Erupsi dari Gunung Anak Krakatau
Erupsi Gunung Anak Krakatau (Instagram/krakatau_cal_cal)
  • Warga Bandung melaporkan dentuman pada Sabtu dini hari, disertai getaran pada jendela dan pintu rumah.
  • Dr. Daryono menduga suara berasal dari infrasound erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat melalui atmosfer, bukan gempa atau ledakan lokal.
  • BMKG tidak menemukan aktivitas gempa, petir, maupun dinamika atmosfer pemicu dentuman di Bandung Raya dan menyebut fenomena ini skyquake atau gempa langit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada Sabtu dini hari (05/09/2026), media sosial diramaikan oleh postingan pengguna yang berada di Bandung, Jawa Barat, mengaku mendengar suara gemuruh, sampai membuat jendela rumah hingga pintu bergetar.

Dr. Daryono (Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) berpendapat bahwa dentuman diduga bukan berasal dari gempa atau ledakan yang terjadi di sekitar Bandung, melainkan suara berfrekuensi sangat rendah (infrasound) dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Merambat melalui atmosfer

Daryono menjelaskan bahwa dentuman terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi amat rendah (infrasound).

“Ini merambat melalui troposfer dan stratosfer; gelombang tekanan ini terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide) akibat refraksi gradient temperatur serta geser angin (wind shear),” ujarnya dalam keterangannya.

Redaman atenuasi yang minim mampu membentur permukaan ruang jauh di Bandung untuk memicu resonansi mekanis pada struktur ringan, seperti kaca jendela tanpa melibatkan propagasi gelombang seismik tanah.

Ketika Gunung Anak Krakatau meletus, energi yang sangat besar dari panas dan tekanan letusan dapat menghasilkan gelombang tekanan di udara. Gelombang ini berbeda dengan gelombang gempa karena merambat melalui atmosfer, bukan melalui tanah.

Kaca jendela yang bergetar

Gunung Anak Krakatau tertutup kabut tebal karena cuaca mendung, Sabtu (27/8/2022) sore. (IDN Times/Rohmah Mustaurida)

Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradient temperatur dan wind shear stratosfer.

“Kombinasi tersebut membiaskan energi suara melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung, di mana bentuk topografi cekungan bertindak sebagai acoustic cavity yang memantulkan kembali serta mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik tersebut secara lokal,” jelasnya lebih dalam.

Gelombang tersebut kemudian dapat menempuh jarak yang sangat jauh. Kondisi atmosfer, seperti perbedaan suhu dan arah/kecepatan angin pada ketinggian tertentu, dapat membuat gelombang suara itu membelok dan terus merambat dengan kehilangan energi yang relatif kecil.

Menariknya, Bandung berada di sebuah cekungan yang dikelilingi pegunungan. Kondisi topografi ini bisa membuat gelombang tekanan yang sampai ke wilayah Bandung memantul dan terkumpul, sehingga efeknya terasa lebih kuat di lokasi tertentu.

Akibatnya, benda-benda ringan seperti kaca jendela dapat bergetar atau beresonansi, lalu manusia mendengarnya sebagai bunyi dentuman.

BMKG memperkirakan adanya gempa langit

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tidak menemukan adanya aktivitas gempa, petir, maupun dinamika atmosfer di Bandung Raya yang dapat menjelaskan sumber dentuman tersebut. Mereka mendefinisikan fenomena tersebut sebagai skyquake atau dentuman langit yang juga dikenal sebagai gempa langit.

Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Dr. Suhaidi Ahadi mengatakan fenomena tersebut masih menjadi misteri karena berbagai instrumen pemantauan BMKG tidak menunjukkan adanya aktivitas alam signifikan di Bandung Raya yang bisa menjadi sumber suara dentuman.

“Data rekaman BMKG, baik data seismik, data aktivitas petir atau dinamika atmosfer, data perawanan atau perkembangan awan tidak ada yang menunjukkan aktivitas yang memungkinkan adanya dentuman,” imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article