Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Unik Guanajuato di Meksiko, Inspirasi Kota Arwah di Film Coco
fakta menarik kota Guanajuato yang jadi inspirasi kota para arwah di film Coco (commons.wikimedia.org/Carlos ZGZ)
  • Guanajuato, kota bersejarah di Meksiko, menjadi inspirasi visual utama bagi Land of the Dead dalam film Coco karena arsitekturnya yang bertingkat dan penuh warna mengikuti kontur perbukitan.

  • Kota ini memiliki jaringan terowongan bawah tanah peninggalan masa tambang perak serta tradisi Día de los Muertos yang merayakan kematian dengan hangat dan penuh makna kehidupan.

  • Museo de las Momias dan tradisi musik jalanan seperti Callejoneadas memperkuat identitas Guanajuato sebagai kota yang memadukan sejarah, seni, dan penghormatan terhadap kehidupan serta kematian.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi kamu yang pernah menonton film animasi Coco (2017), tentu masih ingat bagaimana megah dan magisnya gambaran Land of the Dead. Kota para arwah ini terasa penuh warna, padat bangunan, sekaligus hangat, meskipun dihuni oleh roh orang-orang yang telah meninggal. Nyatanya, visual tempat satu ini tidak sepenuhnya lahir dari imajinasi semata.

Para animator Pixar rupanya terinspirasi dari beberapa kota di Meksiko, salah satunya Guanajuato. Kota bersejarah ini memang dikenal unik, penuh warna, dan kaya budaya. Bahkan, jika diamati lebih saksama, banyak detail Guanajuato yang terasa sangat dekat dengan suasana Land of the Dead. Nah, berikut lima fakta menarik Guanajuato yang menjadi inspirasi kota yang dihuni para arwah di film Coco!

1. Kota berwarna-warni yang dibangun bertingkat

perbandingan Guanajuato di dunia nyata dengan Land of The Dead di film animasi Coco (pexels.com/Alan Vega | dok. Pixar/Coco)

Salah satu ciri paling mencolok dari Guanajuato adalah deretan bangunannya yang berwarna cerah dan dibangun bertingkat mengikuti kontur perbukitan. Rumah-rumah di kota ini tidak berdiri di lahan datar, melainkan menyesuaikan medan yang naik turun, sehingga banyak bangunan tampak saling berhimpitan dan berlapis. Karena itu, pemandangan Guanajuato dari kejauhan terlihat padat dan berwarna, dengan struktur kota yang tumbuh ke atas alih-alih melebar.

Visual semacam ini mengingatkan pada penggambaran Land of the Dead dalam Coco, yang juga menampilkan kota berlapis dengan bangunan warna-warni tersusun vertikal. Tentu saja, versi dalam film dibuat lebih dramatis dan artistik untuk kebutuhan animasi. Namun, Guanajuato menunjukkan bahwa konsep kota bertingkat seperti itu bukanlah sepenuhnya rekaan. Dengan mengamati tata kotanya yang sangat unik, wajar jika Pixar terinspirasi dari kota nyata satu ini, lalu menerjemahkannya ke dalam dunia fantasi yang lebih ekspresif.

2. Kota tambang yang tumbuh di bawah tanah

salah satu lorong bawah tanah di kota Guanajuato dan scene saat Imelda membuat pengakuan bahwa dirinya mencintai musik pada Miguel di sebuah lorong sempit (commons.wikimedia.org/Comisión Mexicana de Filmaciones | dok. Pixar/Coco)

Guanajuato dulunya merupakan kota tambang perak yang sangat vital bagi Spanyol. Aktivitas pertambangan ini membuat banyak terowongan digali di bawah kota, yang lambat laun berkembang menjadi jalur penghubung antarkawasan. Hingga kini, jaringan jalan bawah tanah tersebut masih difungsikan, baik untuk kendaraan maupun pejalan kaki. Jadi, kehidupan Guanajuato memang tak sepenuhnya berlangsung di permukaan. Ada “lapisan lain” kota yang berjalan diam-diam di bawahnya.

Konsep kota bertingkat ini terasa selaras dengan narasi Coco. Land of the Dead digambarkan sebagai dunia yang penuh lorong, jalan sempit, dan ruang-ruang tersembunyi di balik gemerlap kota. Salah satu contohnya terlihat pada adegan saat Imelda akhirnya mengakui kecintaannya pada musik dan menyanyikan sepenggal lagu "La Llorona" kepada Miguel, bukan di ruang terbuka, melainkan di area sempit yang lebih privat, jauh dari keramaian. Adegan tersebut menegaskan bahwa emosi paling jujur justru muncul di ruang-ruang tersembunyi. Maka, ketika Guanajuato memiliki “kehidupan kedua” di bawah tanahnya, kesan mistis dan emosional itu terasa nyambung, seolah kota ini memang terbiasa menyimpan cerita penting di balik permukaannya.

3. Tradisi kematian yang diperlakukan dengan hangat

perayaan Día de los Muertos di kuburan kota Guanajuato (commons.wikimedia.org/Tomascastelazo)

Berbeda dari banyak budaya lain yang memandang kematian sebagai hal kelam, masyarakat Guanajuato dan Meksiko pada umumnya justru memperlakukannya dengan pendekatan yang lebih hangat. Tradisi Día de los Muertos bukan sekadar ritual mengenang orang meninggal, tapi juga perayaan kehidupan, keluarga, dan ingatan.

Hal inilah yang menjadi jantung cerita Coco. Kota para arwah tidak digambarkan menakutkan, melainkan penuh musik, tawa, dan interaksi sosial. Nyatanya, semangat tersebut memang hidup di masyarakat Guanajuato. Orang-orang datang ke pemakaman dengan bunga, makanan, dan cerita, bukan hanya kesedihan. Karena itulah, Land of the Dead terasa begitu “manusiawi”, sebab akarnya memang berasal dari budaya nyata yang masih dijalani hingga sekarang.

4. Museo de las Momias yang menguatkan nuansa dunia arwah

Guanajuato juga dikenal memiliki Museo de las Momias, museum yang menyimpan mumi-mumi asli dari abad ke-19 dan awal abad 20. Mumi-mumi ini terawetkan secara alami karena kondisi tanah dan iklim, bukan melalui proses pengawetan buatan seperti di Mesir. Meski terdengar menyeramkan, museum ini justru menjadi bagian dari identitas kota.

Keberadaan museum ini memperkuat hubungan Guanajuato dengan tema kematian yang tidak dihindari, melainkan diakui sebagai bagian dari kehidupan. Dalam konteks film animasi Coco, hal ini sejalan dengan bagaimana para arwah tetap “hidup” selama mereka dikenang. Jadi, meskipun mumi di Guanajuato adalah jasad nyata, pendekatan masyarakat terhadapnya tetaplah positif, yakni menghormati, bukan takut terhadapnya.

5. Kota tua yang sarat musik dan cerita

tradisi callejoneadas di jalanan kota Guanajuato (commons.wikimedia.org/Lameirasb)

Selain arsitektur dan sejarahnya, Guanajuato juga dikenal sebagai kota seni dan musik. Jalan-jalan sempitnya sering diisi pertunjukan musik jalanan, serenata, hingga cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Bahkan, ada tradisi callejoneadas, yaitu tur malam hari sambil menyanyi dan mendengarkan kisah-kisah lama kota.

Nuansa ini terasa sangat dekat dengan Coco, yang menjadikan musik sebagai jembatan antara dunia hidup dan dunia arwah. Di Land of the Dead, musik bukan sekadar hiburan, melainkan identitas dan pengikat keluarga. Guanajuato, dengan segala tradisi musiknya, menunjukkan bahwa kota nyata pun bisa hidup melalui nada, cerita, dan kenangan kolektif warganya.

Biarpun Coco adalah film animasi, dunia yang ditampilkannya terasa nyata karena memang berakar dari tempat sungguhan seperti Guanajuato. Kota ini membuktikan bahwa keindahan, sejarah, dan cara memaknai kematian bisa berpadu tanpa harus terasa muram. Jadi, ketika kamu melihat Land of the Dead yang penuh warna dan kehangatan, ingatlah bahwa di dunia nyata, Guanajuato sudah lebih dulu hidup dengan semangat yang serupa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team