Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Gempa Bumi Besar di NTT Sejak 1975—2026, Ini Sejarahnya
ilustrasi pasca gempa bumi (pexes.com/Hosny salah)
  • NTT rawan gempa karena berada di pertemuan sejumlah sumber aktif, termasuk Sesar Naik Flores, Sesar Naik Sawu, Sesar Semau, dan zona megathrust selatan.

  • Bencana paling mematikan terjadi di Flores pada 1992: gempa M7,5–M7,8 memicu tsunami hingga sekitar 26,2 meter.

  • Gempa terbaru M7,7 di Nagekeo pada 15 Agustus 2026 memicu peringatan tsunami, menewaskan puluhan orang, mengungsikan ribuan warga, serta diikuti banyak susulan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu wilayah Indonesia yang memiliki aktivitas kegempaan cukup tinggi. Kondisi ini tidak terlepas dari letak NTT yang berada di kawasan pertemuan sejumlah sumber gempa aktif, seperti Sesar Naik Flores, Sesar Naik Sawu, Sesar Semau, hingga zona megathrust di bagian selatan. Catatan BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi merusak dan tsunami telah beberapa kali terjadi di wilayah ini.

Sejumlah gempa dengan kekuatan besar tercatat mengguncang berbagai wilayah NTT, mulai dari Kupang, Alor, Flores, hingga Sumba. Nah, berikut sejarah gempa bumi besar di NTT sejak 1975—2026.

1. Gempa Kupang 1975

Pada 30 Juli 1975, wilayah Kupang dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan sekitar M6,1 dengan kedalaman sekitar 30 kilometer. Pusat gempa berada di wilayah utara Kota Kupang atau sekitar Laut Sawu. Guncangan tersebut dirasakan cukup kuat di Kupang hingga mencapai intensitas VII MMI. Pada tingkat ini, orang-orang dapat merasakan guncangan dengan kuat dan keluar dari rumah, sementara bangunan dengan konstruksi kurang baik dapat mengalami retak hingga kerusakan lebih berat.

Meski tidak dilaporkan menimbulkan korban jiwa, gempa tersebut menyebabkan retakan tanah serta kerusakan pada sejumlah bangunan. Peristiwa ini menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah kegempaan modern NTT. Khususnya, menunjukkan bahwa wilayah Kupang dan sekitarnya juga memiliki ancaman gempa yang perlu diwaspadai.

2. Gempa Alor Timur 1989

Aktivitas gempa kembali tercatat di NTT pada 15 Juli 1989 ketika gempa berkekuatan M6,4 mengguncang wilayah Alor Timur. Gempa tersebut tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Kedalaman yang relatif dangkal dapat membuat guncangan terasa lebih kuat di wilayah sekitar episentrum dan berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan.

Guncangan tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah dan fasilitas umum di wilayah terdampak. Peristiwa 1989 juga menjadi salah satu tanda bahwa kawasan Alor merupakan wilayah yang aktif secara seismik dan kembali mengalami gempa kuat pada tahun-tahun berikutnya.

3. Gempa Kalabahi, Alor 1991

Dua tahun berselang, gempa kembali mengguncang Alor. Pada 4 Juli 1991, wilayah Kalabahi dilanda gempa berkekuatan M6,2 dengan kedalaman sekitar 29 kilometer. Guncangannya terasa di Kalabahi hingga Dili dan menimbulkan dampak yang jauh lebih berat dibandingkan gempa Alor pada 1989.

Berdasarkan katalog gempa merusak BMKG, peristiwa tersebut menyebabkan 23 orang meninggal dunia dan 181 orang mengalami luka-luka. Sekitar 5.400 orang kehilangan tempat tinggal, sementara 1.150 bangunan di Kalabahi dilaporkan hancur. Catatan BMKG juga menyebutkan bahwa gempa ini berkaitan dengan kejadian tsunami, meskipun katalog tsunami mencatat tinggi gelombang di lokasi tersebut 0 meter.

4. Gempa dan Tsunami Flores 1992

Salah satu bencana gempa paling dahsyat dalam sejarah NTT terjadi pada 12 Desember 1992. Gempa besar mengguncang wilayah Flores dengan magnitudo sekitar M7,5–M7,8 dan kemudian memicu tsunami. Gempa ini berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust di utara Pulau Flores, salah satu sumber gempa aktif di kawasan tersebut.

Dampaknya sangat besar. Sekitar 2.500 orang dilaporkan meninggal dunia atau hilang, sementara ribuan bangunan mengalami kerusakan. BNPB mencatat tinggi maksimum tsunami mencapai sekitar 26,2 meter, sedangkan katalog tsunami BMKG mencatat gelombang mencapai sekitar 25 meter dan masuk hingga 300 meter ke daratan. Maumere menjadi salah satu wilayah yang mengalami kehancuran paling parah dalam bencana tersebut.

5. Gempa Alor 2004

ilustrasi gempa bumi (pexels.com/Doruk Aksel Anıl)

Pada 12 November 2004, gempa kembali mengguncang wilayah Alor dengan kekuatan sekitar M7,5 dan kedalaman sekitar 10 kilometer. Episentrum berada di sekitar wilayah Kalabahi. Gempa dangkal dengan kekuatan besar tersebut menyebabkan guncangan kuat di wilayah sekitar pusat gempa dan turut memengaruhi kawasan pesisir.

Peristiwa ini menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan. Katalog tsunami BMKG mencatat adanya kenaikan air laut hingga sekitar 100 meter ke daratan, sementara catatan historis mencatat puluhan korban meninggal dan ratusan orang mengalami luka-luka.

6. Gempa Alor 2015

Ancaman gempa di Alor kembali terlihat pada 4 November 2015. Saat itu, gempa berkekuatan M6,2 mengguncang wilayah Alor dengan kedalaman sekitar 89 kilometer. Mengingat pusat gempa berada cukup dalam, karakter dampaknya berbeda dibandingkan gempa dangkal yang terjadi di kawasan tersebut pada tahun-tahun sebelumnya.

Guncangan tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas publik. Meskipun tidak menimbulkan dampak sebesar gempa Alor 1991 atau 2004, kejadian ini tetap menunjukkan bahwa aktivitas seismik di NTT dapat terjadi berulang kali dengan kekuatan dan kedalaman yang berbeda.

7. Gempa Sumba Barat 2016

Pada 12 Februari 2016, gempa berkekuatan M6,6 mengguncang wilayah Sumba Barat dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Gempa tersebut termasuk gempa dangkal sehingga guncangannya dapat dirasakan cukup kuat di wilayah yang berada dekat dengan pusat gempa. Sejumlah bangunan permukiman mengalami kerusakan akibat guncangan tersebut.

8. Gempa Flores 2021

Flores kembali mengalami gempa kuat pada 14 Desember 2021. Gempa tersebut awalnya tercatat sekitar M7,4–M7,5 dengan pusat gempa di laut sebelah utara Flores, sekitar 113 kilometer barat laut Larantuka. BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami karena karakter gempa tersebut berpotensi memicu kenaikan muka air laut.

Tsunami kecil kemudian terdeteksi dengan ketinggian sekitar 0,07 meter. Meski jauh lebih kecil dibandingkan tsunami Flores 1992, gempa ini tetap berdampak pada masyarakat. Ribuan warga mengungsi dan ratusan rumah mengalami kerusakan.

9. Gempa Nagekeo 2024

Pada 25 Januari 2024, wilayah Kabupaten Nagekeo kembali diguncang gempa berkekuatan M5,6 dengan kedalaman sekitar 11 kilometer. Dibandingkan beberapa gempa besar sebelumnya, kekuatan gempa ini memang lebih rendah, tetapi pusatnya yang relatif dangkal membuat guncangan tetap berpotensi dirasakan dan menyebabkan kerusakan pada bangunan yang rentan.

Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa tersebut. Namun, sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan. Kejadian ini menjadi catatan tersendiri karena dua tahun kemudian, wilayah Nagekeo kembali menjadi pusat gempa dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

10. Gempa Nagekeo M7,7 pada 2026

Peristiwa paling baru sekaligus salah satu yang terbesar dalam rentang sejarah ini terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan magnitudo M7,7 dan kedalaman 15 kilometer. Episentrumnya berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Flores. Karena kekuatan dan kedalamannya, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah pesisir.

Peringatan tsunami kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan kondisi yang memungkinkan. Namun, gempa utama menimbulkan dampak besar dan diikuti banyak gempa susulan. BNPB melaporkan ribuan warga mengungsi dan puluhan orang meninggal dunia dalam pembaruan penanganan bencana. Sementara itu, BMKG mencatat aktivitas gempa susulan masih berlangsung setelah gempa utama.

Itulah rangkaian gempa bumi besar di NTT sejak 1975—2026 yang tercatat mengguncang berbagai wilayah dengan kekuatan dan dampak yang beragam. Bagaimana menurutmu?

Curated For You

Editorial Team

Related Article