Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi cerai, perceraian, bercerai, berpisah, perpisahan, pasangan (unsplash.com/Hutomo Abrianto)
  • Studi Norwegia 2025 menemukan variasi genetik menjelaskan sekitar 9% variasi risiko perpisahan pada perempuan dan 3,5% pada laki-laki dalam kelompok penelitian.
  • Kecenderungan genetik terkait pendidikan, kesejahteraan subjektif, neurotisisme, dan usia lebih tua saat hubungan seksual pertama dikaitkan dengan risiko perpisahan lebih rendah.
  • Studi adopsi dan registrasi Swedia mendukung keterkaitan genetik antargenerasi, tetapi lingkungan pengasuhan, kondisi sosial, pengalaman hidup, dan ekonomi tetap memengaruhi perceraian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama ini, perceraian sering dikaitkan dengan masalah ekonomi, perselingkuhan, perbedaan prinsip, hingga komunikasi yang buruk antara pasangan. Namun, pernahkah kamu berpikir bahwa faktor genetik juga mungkin ikut berperan dalam menentukan apakah sebuah hubungan bisa bertahan lama?

Hal ini ternyata menjadi perhatian para peneliti yang mencoba memahami hubungan antara genetika dan risiko perpisahan. Penelitian tersebut menemukan bahwa kecenderungan genetik seseorang memiliki kaitan dengan kemungkinan mengalami keretakan hubungan. Meski begitu, bukan berarti seseorang yang memiliki orangtua bercerai pasti akan mengalami hal serupa, ya. Ada banyak faktor lain, termasuk lingkungan sosial dan pengalaman hidup, yang turut memengaruhi perjalanan sebuah hubungan.

Penelitian mengenai keterkaitan genetika dan perceraian ini dilakukan oleh sosiolog Ruth Eva Jørgensen dalam penelitian doktoralnya di University of Oslo, Norwegia. Ia menggunakan pendekatan genetika untuk memahami mengapa pola keretakan hubungan terkadang terlihat berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berikut beberapa temuan menarik dari penelitian yang menyatakan bahwa gen ikut berperan dalam perceraian.

1. Genetika ternyata ikut memengaruhi risiko perceraian

ilustrasi cerai, perceraian, bercerai, berpisah, perpisahan, pasangan (unsplash.com/engin akyurt)

Menurut penelitian dalam Sociological Science yang diterbitkan pada 20 Januari 2025, terdapat komponen genetik yang berkaitan dengan risiko seseorang mengalami perpisahan dalam hubungan. Penelitian ini dipimpin oleh Ruth Eva Jørgensen bersama Rosa Cheesman, Ole A. Andreassen, dan Torkild Hovde Lyngstad. Mereka menggabungkan data genetika dari Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa) dengan data kependudukan Norwegia untuk melihat keterkaitan antara faktor genetik dan keretakan hubungan.

Hasilnya cukup menarik. Para peneliti menemukan bahwa variasi genetik yang dianalisis dapat menjelaskan sekitar 9 persen variasi risiko perpisahan pada perempuan dan 3,5 persen pada laki-laki. Angka tersebut menunjukkan adanya perbedaan kecil antara perempuan dan laki-laki dalam pengaruh genetik terhadap keretakan hubungan. Namun, perlu dipahami bahwa persentase tersebut bukan berarti perempuan memiliki kemungkinan bercerai sebesar 9 persen atau laki-laki sebesar 3,5 persen. Angka itu menggambarkan seberapa besar variasi risiko perpisahan dalam kelompok penelitian yang dapat dijelaskan oleh variasi genetik yang diukur.

2. Ada empat kecenderungan genetik yang berkaitan dengan risiko perpisahan lebih rendah

ilustrasi DNA, gen, genetika, molekul (vecteezy.com/manassanant pamai)

Selain menghitung pengaruh genetika secara keseluruhan, para peneliti juga melihat hubungan antara kecenderungan genetik terhadap karakteristik tertentu dan risiko keretakan hubungan. Mereka menggunakan metode yang disebut polygenic score (PGS), yaitu pengukuran yang menggabungkan banyak variasi genetik kecil yang sebelumnya dikaitkan dengan karakteristik tertentu. Dengan metode ini, peneliti dapat melihat apakah kecenderungan genetik terhadap sifat tertentu memiliki hubungan dengan kemungkinan seseorang mengalami perpisahan.

Hasil penelitian menunjukkan empat kecenderungan yang berkaitan dengan kemungkinan keretakan hubungan lebih rendah, yaitu pendidikan, kesejahteraan subjektif (subjective well-being), neurotisisme, dan usia yang lebih tua saat melakukan hubungan seksual pertama kali. Menariknya, penelitian ini melihat kecenderungan genetik terhadap karakteristik tersebut, bukan semata-mata kondisi yang benar-benar dialami seseorang. Jadi, kecenderungan genetik terhadap pendidikan tinggi, misalnya, gak otomatis berarti orang tersebut benar-benar menempuh pendidikan tinggi.

Temuan mengenai neurotisisme juga cukup menarik untuk diperhatikan. Neurotisisme merupakan kecenderungan kepribadian yang berkaitan dengan emosi negatif, seperti gampang merasa cemas, khawatir, atau rentan mengalami tekanan emosional. Jørgensen menduga orang dengan kecenderungan neurotisisme lebih tinggi mungkin memiliki kebutuhan lebih besar terhadap rasa aman yang diberikan pasangan. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut masih berupa kemungkinan penjelasan dan belum dapat dibuktikan secara langsung melalui penelitian tersebut.

3. Lingkungan dan kondisi sosial tetap berperan dalam perceraian

ilustrasi pasangan yang harmonis (unsplash.com/Matheus Ferrero)

Meskipun genetika memiliki keterkaitan dengan risiko perpisahan, Jørgensen menekankan bahwa gen tidak bekerja sendirian. Pengaruh genetika sangat bergantung pada lingkungan, kesempatan, serta kondisi sosial tempat seseorang menjalani kehidupannya. Ia menjelaskan bahwa satu abad lalu, angka perpisahan jauh lebih rendah karena struktur sosial dan aturan hukum pada masa itu berbeda. Artinya, perubahan kondisi masyarakat dapat memengaruhi bagaimana kecenderungan genetik seseorang muncul dalam kehidupan nyata.

Temuan ini juga menjadi pengingat bahwa perceraian gak bisa dijelaskan hanya melalui faktor keturunan. Pendidikan, kondisi ekonomi, pengalaman masa kecil, karakter pasangan, hingga aturan sosial dapat ikut memengaruhi keberlangsungan hubungan. Bahkan, seseorang dengan kecenderungan genetik tertentu belum tentu mengalami keretakan rumah tangga apabila kondisi lingkungan dan kehidupannya berbeda. Karena itu, Jørgensen mengingatkan bahwa menganggap perceraian sudah ditentukan oleh gen merupakan penafsiran yang keliru atau deterministik.

4. Anak dari orangtua yang bercerai memiliki keterkaitan genetik dengan risiko serupa

ilustrasi kumpul keluarga (magnific.com/Drazen Zigic)

Temuan mengenai hubungan genetika dan perceraian juga pernah diteliti melalui pendekatan berbeda. Penelitian dalam Psychological Science pada 2018 berjudul Genetics, the Rearing Environment, and the Intergenerational Transmission of Divorce: A Swedish National Adoption Study meneliti apakah pola perceraian dapat diteruskan dari orangtua kepada anak karena faktor genetika maupun lingkungan pengasuhan. Penelitian yang melibatkan Jessica E. Salvatore dan sejumlah peneliti lainnya tersebut menggunakan data adopsi nasional Swedia.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak adopsi memiliki kemiripan riwayat perceraian dengan orangtua biologis, bukan orangtua angkatnya. Temuan ini memperlihatkan adanya kontribusi faktor genetik dalam keterkaitan perceraian antargenerasi. Meski demikian, penelitian tersebut juga menemukan indikasi bahwa lingkungan pengasuhan memiliki pengaruh, terutama melalui kemiripan antara anak dan ibu yang membesarkannya.

Artinya, apabila orangtua mengalami perceraian, anak mungkin memiliki sejumlah kecenderungan yang secara genetik berkaitan dengan risiko serupa. Namun, hal ini bukan berarti anak pasti akan mengalami perceraian ketika dewasa. Pengalaman hidup, pola pengasuhan, dan lingkungan tempat seseorang tumbuh tetap perlu diperhitungkan untuk memahami bagaimana hubungan percintaan dan pernikahannya berkembang.

5. Penelitian lain juga menemukan hubungan antara risiko genetik dan perceraian

ilustrasi cerai (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

Penelitian lain dalam Clinical Psychological Science yang diterbitkan pada 2024 turut memperkuat pembahasan mengenai keterkaitan genetika dan perceraian. Penelitian berjudul Family Genetic-Risk Profiles Associated With Divorce tersebut menggunakan data registrasi nasional Swedia yang mencakup 2.828.777 orang. Para peneliti menganalisis profil risiko genetik keluarga yang berkaitan dengan 10 gangguan psikiatri, termasuk depresi, gangguan kecemasan, bipolar, skizofrenia, ADHD, dan gangguan penggunaan alkohol.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang pernah bercerai memiliki skor risiko genetik keluarga lebih tinggi untuk seluruh kelompok gangguan yang diteliti dibandingkan mereka yang tetap menikah atau belum pernah menikah. Skor tersebut juga cenderung lebih tinggi pada perempuan yang bercerai dibandingkan laki-laki yang bercerai. Selain itu, peningkatan skor terlihat pada kelompok yang mengalami perceraian berulang. Meski demikian, penelitian ini mengamati keterkaitan statistik, bukan membuktikan bahwa gangguan psikiatri atau faktor genetik tertentu secara langsung menyebabkan perceraian.

Temuan penelitian yang menyatakan bahwa gen ikut berperan dalam perceraian memperlihatkan bahwa genetika memang layak diperhitungkan ketika membahas keberlangsungan hubungan. Meski begitu, faktor keturunan tetap berinteraksi dengan lingkungan dan pengalaman hidup seseorang. Jadi, kamu gak perlu langsung khawatir apabila memiliki orangtua yang pernah bercerai. Riwayat keluarga gak menentukan secara mutlak bagaimana kehidupan pernikahanmu kelak.

Referensi

“Is divorce hereditary?” Sciencenorway. Diakses November 2026.

“Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa).” Norwegian Institute of Public Health (NIPH). Diakses November 2026.

“The Genetics of Partnership Dissolution.” Sociological Science. Diakses November 2026.

“Genetics, the Rearing Environment, and the Intergenerational Transmission of Divorce: A Swedish National Adoption Study.” Psychological Science. Diakses November 2026.

“Family Genetic-Risk Profiles Associated With Divorce.” Clinical Psychological Science. Diakses November 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article