BRIN Peringatkan Ancaman Begomovirus pada Cabai dan Tomat

BRIN memperingatkan ancaman Begomovirus terhadap produktivitas cabai dan tomat di Indonesia.
Kutu kebul berperan membawa virus, sehingga pemantauan serangga dan kondisi pertanaman perlu dilakukan.
Pengendalian terpadu mencakup deteksi dini, benih sehat, sanitasi lahan, serta varietas tahan atau toleran virus.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan ancaman Begomovirus terhadap produktivitas tanaman sayuran di Indonesia, terutama cabai dan tomat. Virus ini dapat menyebabkan daun menguning, keriting, hingga munculnya pola mosaik yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Jika tidak ditangani, infeksi tersebut berpotensi menurunkan kualitas dan hasil panen petani.
Ancaman Begomovirus menjadi perhatian karena penyebarannya berkaitan erat dengan keberadaan kutu kebul (Bemisia tabaci) yang berperan sebagai serangga pembawa virus. Serangga ini dapat memindahkan virus dari tanaman terinfeksi ke tanaman lain, sehingga penyakit berpotensi menyebar di area pertanian. Kondisi tersebut membuat pengendalian Begomovirus tidak cukup hanya berfokus pada tanaman yang sudah menunjukkan gejala.
Melalui Webinar HortiActive #31 bertema Mewaspadai Serangan Begomovirus pada Komoditas Sayuran di Indonesia pada Rabu (28/10/2026), BRIN menekankan pentingnya pengendalian penyakit secara terpadu. Strateginya mencakup deteksi dini, pemantauan serangga pembawa virus, penggunaan benih sehat, hingga pengembangan varietas tanaman yang tahan atau toleran terhadap infeksi. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kehilangan hasil panen sekaligus menjaga keberlanjutan produksi sayuran di Indonesia.
1. Apa itu Begomovirus dan bagaimana gejalanya pada tanaman?
Begomovirus merupakan kelompok virus tanaman yang dapat menginfeksi berbagai komoditas sayuran, termasuk cabai dan tomat. Serangannya dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan memengaruhi hasil panen, terutama apabila infeksi terjadi ketika tanaman masih dalam tahap pertumbuhan. Karena itu, penyakit ini menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam budidaya hortikultura.
Salah satu gejala yang dapat dikenali adalah perubahan warna daun menjadi kuning. Tanaman yang terinfeksi juga dapat menunjukkan pola mosaik pada permukaan daun, disertai bentuk daun yang keriting atau mengalami perubahan dari kondisi normal. Gejala tersebut menjadi tanda awal yang perlu diperhatikan petani ketika melakukan pemantauan tanaman.
Namun, kemunculan gejala saja belum cukup untuk memahami seluruh perkembangan penyakit. Dalam pembahasan BRIN, infeksi Begomovirus dipengaruhi hubungan antara virus, tanaman inang, serta berbagai faktor yang menentukan perkembangan penyakit. Karena itu, pemahaman terhadap kondisi tanaman dan lingkungan pertanaman menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pengendalian yang sesuai.
2. Kutu kebul menjadi salah satu penyebab penyebaran virus

ilustrasi kutu kebul (pixels.com/Petr Ganaj) Penyebaran Begomovirus pada tanaman sayuran berkaitan dengan keberadaan kutu kebul atau Bemisia tabaci. Serangga ini berperan sebagai vektor, yakni organisme yang membawa dan menularkan virus dari tanaman yang sudah terinfeksi ke tanaman lainnya. Keberadaannya menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan penyakit di lahan pertanian.
Hubungan antara virus, tanaman, dan serangga pembawanya menjadi perhatian dalam kajian BRIN. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura BRIN, Catur Hermanto, menjelaskan kompleksitas patosistem Begomovirus pada tanaman sayuran di Indonesia. Pembahasan tersebut menyoroti bagaimana interaksi berbagai komponen dapat memengaruhi perkembangan penyakit.
Karena penyebarannya melibatkan serangga vektor, pengendalian Begomovirus tidak cukup hanya dilakukan setelah tanaman menunjukkan gejala. Petani juga perlu memantau keberadaan kutu kebul serta memperhatikan kondisi lingkungan pertanaman. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membatasi penyebaran virus sebelum berdampak lebih luas terhadap produksi.
3. Serangan Begomovirus menjadi perhatian di Malang Raya
Selain membahas karakteristik virus, BRIN turut menyoroti kondisi serangan Begomovirus di lapangan. Salah satu wilayah yang menjadi pembahasan adalah Malang Raya, Jawa Timur, yang memiliki aktivitas budidaya berbagai komoditas sayuran. Pengalaman pengendalian penyakit di wilayah tersebut menjadi bagian dari diskusi mengenai tantangan yang dihadapi petani.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Ahli Madya UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Timur, Prasetyo, memaparkan kondisi serangan Begomovirus pada tanaman sayuran di Malang Raya. Pembahasannya mencakup pengenalan gejala penyakit, pemantauan kondisi pertanaman, serta langkah pengendalian yang disesuaikan dengan situasi di lapangan.
Pendekatan tersebut penting karena kondisi serangan penyakit tidak selalu sama di setiap wilayah. Keberadaan serangga vektor, karakteristik tanaman, dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi perkembangan penyakit. Karena itu, strategi pengendalian perlu mempertimbangkan hasil pemantauan di lapangan agar tindakan yang dilakukan lebih sesuai dengan kebutuhan pertanaman.
4. BRIN dorong pengembangan varietas sayuran tahan virus

ilustrasi tanaman tomat (pexels.com/ROMAN ODINTSOV) Selain pemantauan penyakit, pengembangan varietas tanaman tahan atau toleran Begomovirus menjadi salah satu strategi yang mendapat perhatian BRIN. Pendekatan ini bertujuan mengurangi kerentanan tanaman terhadap infeksi, sehingga risiko kehilangan hasil panen dapat ditekan. Pengembangan varietas juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi hortikultura.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menekankan pentingnya penguatan riset terhadap sumber daya genetik tanaman yang memiliki sifat ketahanan terhadap virus. Menurutnya, pengendalian Begomovirus berkaitan langsung dengan produktivitas sayuran yang berperan dalam mendukung ketahanan pangan serta kebutuhan gizi masyarakat.
Pengembangan varietas tahan virus juga dibahas dari perspektif industri perbenihan. Crop Breeding Manager Group Pepper PT Benih Citra Asia, Muhammad Ichsan Tarigan, menjelaskan strategi perakitan dan peredaran bibit sayuran tahan virus. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa pemuliaan tanaman perlu diikuti sistem distribusi benih agar varietas unggul dapat dimanfaatkan oleh petani.
Meski demikian, penggunaan varietas tahan atau toleran virus bukan satu-satunya langkah yang diperlukan. BRIN menekankan bahwa pendekatan tersebut tetap perlu dipadukan dengan pengelolaan kesehatan tanaman dan pengendalian serangga vektor. Kombinasi berbagai strategi menjadi dasar untuk menekan risiko penyebaran penyakit secara lebih berkelanjutan.
5. Pengendalian terpadu menjadi kunci menjaga hasil panen
BRIN menekankan bahwa pengendalian Begomovirus membutuhkan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai aspek budidaya tanaman. Langkah tersebut mencakup deteksi dini terhadap gejala penyakit, pemantauan populasi kutu kebul, penggunaan benih sehat, serta penerapan sanitasi lahan. Setiap langkah memiliki peran berbeda dalam membantu mengurangi risiko penyebaran virus.
Deteksi dini memungkinkan petani mengenali potensi masalah sebelum penyakit berkembang lebih luas. Sementara itu, pemantauan kutu kebul diperlukan untuk memahami keberadaan serangga yang dapat membawa virus antartanaman. Sanitasi lahan dan penggunaan benih sehat turut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi pertanaman.
Dalam penerapannya, strategi pengendalian juga membutuhkan kerja sama antara peneliti, petugas perlindungan tanaman, dan industri perbenihan. Peneliti berperan dalam memahami karakteristik virus serta mengembangkan varietas tahan, sedangkan petugas lapangan membantu pemantauan dan pengendalian penyakit. Industri perbenihan turut berperan dalam menyediakan varietas yang dapat digunakan petani.
Melalui pendekatan tersebut, BRIN berharap risiko kehilangan hasil akibat serangan Begomovirus dapat ditekan. Pengendalian penyakit tanaman tidak hanya penting untuk menjaga produktivitas cabai dan tomat, tetapi juga mendukung keberlanjutan produksi sayuran serta ketahanan pangan nasional.





![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Jadi Siapa Kamu di Upin & Ipin Kehidupan Sebelumnya?](https://image.idntimes.com/post/20250530/img-20250530-203717-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-d39800576cc5d4ebd91a012aa51130f5.jpg)

















