Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gunung Api Indonesia Erupsi Bersamaan, Apakah Saling Terhubung?
ilustrasi erupsi gunung api (unsplash.com/Ben Turnbull)

Aktivitas vulkanik di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah empat gunung api mengalami erupsi pada waktu yang hampir bersamaan pada awal September 2026. Empat gunung tersebut antara lain Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara. Fenomena ini tentu memunculkan pertanyaan apakah erupsi yang terjadi di sejumlah wilayah tersebut saling berkaitan?

Indonesia sendiri berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, wilayah yang dikenal memiliki aktivitas vulkanik dan gempa bumi yang tinggi. Namun, apakah posisi Indonesia di Ring of Fire berarti erupsi satu gunung dapat memicu gunung api lain yang berada jauh darinya? Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan beberapa gunung api bisa erupsi dalam waktu yang berdekatan? Berikut penjelasan ilmiahnya.

1. Indonesia memang punya banyak gunung api aktif

ilustrasi erupsi gunung api (pexels.com/Jeffry Surianto)

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia. Mengutip dari Badan Geologi Kementerian ESDM, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif yang tersebar dari Sumatra hingga Maluku Utara dan Sulawesi bagian utara. Kondisi ini tidak terlepas dari posisi Indonesia yang berada di kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif.

Badan Geologi menyebut pergerakan dan tumbukan lempeng bisa menyebabkan proses penunjaman atau subduksi, ketika salah satu lempeng bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya. Proses tersebut dapat memicu pelelehan batuan di bawah permukaan dan menghasilkan magma yang kemudian bergerak menuju permukaan Bumi. Dilansir United States Geological Survey (USGS), sebagian besar gunung api aktif dunia memang berada di sekitar batas lempeng tektonik.

Karena proses tektonik tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, terbentuklah rangkaian gunung api di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, Indonesia juga dikenal sebagai bagian dari kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang memiliki aktivitas vulkanik dan kegempaan tinggi. Namun, berada dalam satu kawasan Ring of Fire bukan berarti seluruh gunung api di Indonesia berada dalam satu sistem atau otomatis saling memicu ketika salah satunya erupsi.

2. Erupsi bersamaan belum tentu saling memicu

ilustrasi erupsi gunung api (unsplash.com/Sebastian Alvarado Rojas)

Erupsi beberapa gunung api dalam waktu yang berdekatan tidak otomatis berarti gunung-gunung tersebut saling memicu. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), enam gunung api yang erupsi hampir bersamaan pada 31 Agustus 2026 mengalami dinamika vulkanik yang independen serta tidak saling memicu. Keenam gunung tersebut adalah Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung.

Fenomena serupa kembali terjadi pada 6 September 2026 ketika Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu dilaporkan mengalami erupsi pada hari yang sama. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 127 gunung api aktif sehingga beberapa gunung dapat mengalami erupsi pada waktu yang berdekatan tanpa berarti memiliki hubungan langsung. Artinya, waktu erupsi yang hampir bersamaan belum cukup untuk membuktikan adanya hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya.

PVMBG juga menerangkan bahwa aktivitas setiap gunung perlu dipantau berdasarkan berbagai parameter, termasuk kegempaan, deformasi, kondisi kawah, dan perubahan emisi gas vulkanik. Data-data tersebut membantu para ahli mengetahui apakah perubahan aktivitas suatu gunung memang berkaitan dengan proses di dalam tubuh gunung tersebut. Jadi, meski beberapa gunung api dapat erupsi bersamaan, bukan berarti satu erupsi sedang “menularkan” aktivitas vulkanik kepada gunung lainnya.

3. Setiap gunung api punya sistem magma sendiri

ilustrasi erupsi gunung api (unsplash.com/Soliman Cifuentes)

Setiap gunung api memiliki sistem magma yang berbeda di bawah permukaan Bumi. Menurut USGS, belum ada bukti pasti bahwa erupsi satu gunung dapat secara langsung memicu erupsi gunung lain yang letaknya jauh. Namun, beberapa gunung yang berdekatan memang dapat memiliki hubungan jika berada di dalam sistem magma yang sama.

Mengutip dari Smithsonian Institution Global Volcanism Program, hubungan antargunung seperti ini perlu dibuktikan melalui penelitian geologi dan tidak bisa disimpulkan hanya karena waktu erupsinya berdekatan. Karena itu, empat gunung api yang erupsi pada awal September 2026 tidak bisa dianggap saling memicu hanya berdasarkan waktu kejadian. Jadi, erupsi yang berlangsung hampir bersamaan bisa saja terjadi karena masing-masing gunung sedang mengalami aktivitas vulkanik masing-masing.

Aktivitas erupsi beberapa gunung api di Indonesia menunjukkan bahwa wilayah kita memang memiliki aktivitas vulkanik yang tinggi. Meski terjadi dalam waktu yang berdekatan, erupsi Anak Krakatau, Semeru, Ibu, dan Ili Lewotolok belum berarti saling memicu karena setiap gunung memiliki sistem vulkanik sendiri. Kendati demikian, kalau menurutmu, apakah erupsi beberapa gunung api yang terjadi hampir bersamaan ini hanya kebetulan atau ada faktor lain yang masih perlu diteliti?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article