Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Jingkieng Jri, Jembatan Akar Hidup Purba di India
ilustrasi Jingkieng Jri di India (wikimedia.org/Yoav Daniel Bar-Ness)
  • Jingkieng Jri di Meghalaya, India, adalah jembatan akar hidup hasil rekayasa suku Khasi yang memanfaatkan akar pohon beringin karet untuk membentuk struktur penyeberangan alami.

  • Proses pembentukan jembatan ini memakan waktu 10–15 tahun hingga akar tumbuh kuat menancap di tanah seberang dan mampu menopang beban manusia secara stabil.

  • Berbeda dari jembatan buatan, Jingkieng Jri makin kokoh seiring usia karena proses fusi alami akar serta ketahanannya terhadap cuaca ekstrem, membuatnya bisa bertahan hingga ratusan tahun.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika berbicara tentang sebuah jembatan yang kokoh, hal pertama yang terlintas di pikiran kita pasti adalah struktur megah yang terbuat dari campuran semen, besi baja, atau balok kayu tebal. Jembatan-jembatan modern tersebut sengaja dibangun manusia untuk mempermudah mobilitas melewati sungai yang deras. Namun, ada sebuah jembatan penyeberangan raksasa yang sama sekali tidak menggunakan bahan bangunan mati, melainkan sengaja "ditumbuhkan" secara biologis dari akar pohon yang masih hidup.

Fenomena arsitektur hijau yang menakjubkan ini nyata adanya dan dikenal dengan nama Jingkieng Jri atau jembatan akar hidup. Terletak di pedalaman hutan tropis Meghalaya, India Timur Laut, jembatan ini merupakan buah dari kecerdasan rekayasa hayati yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat suku Khasi. Penasaran bagaimana sebuah pohon bisa diubah fungsinya menjadi infrastruktur jembatan yang super kokoh? Yuk, simak pembahasan berikut untuk mengenal lebih dekat fakta sains di balik keunikan Jingkieng Jri!

1. Memanfaatkan karakteristik unik dari akar pohon beringin karet

ilustrasi Jingkieng Jri di India (wikimedia.org/Yoav Daniel Bar-Ness)

Rahasia di balik kokohnya jembatan hidup ini terletak pada pemilihan spesies pohon yang sangat tepat. Masyarakat suku Khasi memanfaatkan pohon beringin karet atau Ficus elastica yang tumbuh subur di sepanjang pinggiran sungai deras wilayah Meghalaya, India.

Melansir laman Useful Tropical Plants, pohon Ficus elastica memiliki karakteristik biologis yang sangat unik, yaitu mampu memproduksi akar udara (aerial roots) dalam jumlah banyak dari bagian batang atasnya. Akar udara ini memiliki sifat yang sangat fleksibel, kenyal, dan mudah dibentuk saat masih muda. Fleksibilitas inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat adat untuk ditarik, dijalin, dan diarahkan melintasi sungai menggunakan bantuan batang bambu atau pohon pinang yang dilubangi sebagai pemandu arah tumbuh akar.

2. Membutuhkan waktu belasan tahun untuk bisa digunakan

ilustrasi Jingkieng Jri di India (wikimedia.org/Yoav Daniel Bar-Ness)

Berbeda dengan jembatan konvensional yang bisa selesai dibangun dalam hitungan bulan menggunakan alat berat, Jingkieng Jri adalah sebuah mahakarya yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Sains biologi membuktikan bahwa pertumbuhan sel tumbuhan membutuhkan waktu yang linier dan alami.

Dilansir laman ToppersNote, proses mengarahkan akar udara dari satu sisi tebing sungai hingga mencapai tanah di seberangnya rata-rata memakan waktu sekitar 10-15 tahun. Selama periode tersebut, akar-akar kecil akan terus tumbuh memanjang, menembus tanah di seberang sungai, dan mulai menancapkan sistem kedutaan nutrisinya sendiri. Setelah akar tersebut berhasil mencengkeram tanah dengan kuat, barulah jembatan ini perlahan-lahan mengeras dan dinilai cukup stabil untuk mulai dilewati oleh manusia.

3. Semakin tua usianya, justru akan semakin kokoh

ilustrasi Jingkieng Jri di India (wikimedia.org/Subhadra Devi)

Inilah fakta sains yang paling mencengangkan sekaligus membedakan Jingkieng Jri dengan seluruh jembatan buatan manusia di dunia. Jika jembatan beton atau besi akan mengalami korosi, pelapukan, dan berkurang kekuatannya seiring bertambahnya usia, hal itu tidak berlaku bagi jembatan akar hidup.

Melansir UNESCO World Heritage Centre, karena jembatan ini terdiri dari jaringan sel tumbuhan yang aktif membelah, akar-akar yang saling dijalin tersebut akan mengalami proses fusi alami yang disebut inosculation (penyatuan dua batang/akar yang saling bergesekan). Seiring berjalannya waktu, diameter akar akan terus menebal, mengeras, dan sistem ikatannya menjadi jauh lebih masif. Jembatan akar yang sudah matang dan berusia puluhan tahun bahkan terbukti secara mekanis mampu menahan beban hingga 50 orang dewasa sekaligus di atasnya secara bersamaan.

4. Solusi cerdas melawan cuaca ekstrem dan pembusukan

ilustrasi Jingkieng Jri di India (wikimedia.org/Yoav Daniel Bar-Ness)

Wilayah Cherrapunji dan Mawsynram di Meghalaya secara geografis memegang rekor sains sebagai tempat paling basah di Bumi dengan curah hujan tahunan yang sangat ekstrem. Jika masyarakat membangun jembatan dari kayu biasa atau struktur besi, tingkat kelembapan yang tinggi akan membuat material tersebut cepat busuk atau berkarat dalam hitungan tahun.

Di sinilah letak kejeniusan sains purba suku Khasi. Laman UNESCO World Heritage Centre menjelaskan dengan membiarkan sistem jembatan tetap hidup secara biologis, sirkulasi air dan nutrisi di dalam pembuluh xilem dan floem akar tetap berjalan lancar. Struktur sel hidup ini membuat jembatan memiliki daya tahan alami yang luar biasa terhadap pembusukan akibat air hujan yang konstan. Alih-alih hanyut atau hancur saat musim muson tiba, jembatan akar hidup justru memanfaatkan limpahan air tersebut untuk tumbuh subur dan mencengkeram tanah lebih dalam sebagai jangkar alami.

5. Memiliki umur fungsional yang bisa bertahan hingga ratusan tahun

ilustrasi Jingkieng Jri di India (wikimedia.org/Yoav Daniel Bar-Ness)

Karena sifatnya yang adaptif dan terus memperbarui sel-selnya yang rusak secara mandiri (self-healing), umur fungsional dari Jingkieng Jri bener-bener berada di luar nalar infrastruktur biasa. Jembatan hidup yang dirawat dengan baik oleh komunitas adat dikonfirmasi bisa hidup dan terus digunakan hingga usia beberapa abad.

Melansir laman resmi Meghalaya, beberapa jembatan akar hidup yang paling terkenal di Meghalaya, seperti jembatan akar ganda (Double Decker Root Bridge) di Umshiang, diperkirakan oleh para peneliti telah berusia lebih dari 180 tahun dan masih berfungsi dengan sangat baik hingga hari ini. Keberadaan jembatan purba ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi ramah lingkungan berbasis bio-arsitektur mampu menjadi solusi jangka panjang yang selaras dengan kelestarian alam tanpa merusak ekosistem hutan sekitar.

Ternyata, alasan di balik kehebatan Jingkieng Jri sebagai jembatan akar hidup, mencakup keunikan biologis pohon beringin karet, proses fusi akar yang makin kuat seiring waktu, hingga adaptasinya yang luar biasa terhadap cuaca paling ekstrem di Bumi. Hal tersebut membuktikan bahwa sejak zaman purba, manusia telah mampu bekerja sama dengan sains alam untuk menciptakan inovasi kehidupan yang jenius tanpa harus merusak lingkungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article