Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Kambing Lebih Suka Makan Daun daripada Rumput?
Potret kambing memakan semak (pixabay.com/JACLOU-DL)
  • Kambing tergolong hewan browser yang lebih suka memakan daun, pucuk, dan semak dibandingkan rumput karena adaptasi ekologis serta kemampuan fisik seperti leher lentur dan bibir fleksibel.
  • Daun muda mengandung protein dan nutrisi lebih tinggi daripada rumput tua, sehingga kambing secara naluriah memilih sumber makanan dengan kualitas gizi terbaik untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya.
  • Kebiasaan makan daun juga dipengaruhi sejarah evolusi di lingkungan kering, struktur mulut yang mendukung seleksi daun, serta kepekaan terhadap variasi rasa dan kandungan kimia tanaman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau kamu pernah memperhatikan kambing di ladang, ada satu hal yang cukup mencolok. Saat dilepas di area berumput, mereka sibuk meraih daun semak, pucuk tanaman, atau ranting muda. Rumput terhampar luas di bawah kakinya, tapi yang diburu malah daun di ketinggian. Pemandangan ini sering bikin orang bertanya-tanya.

Mengapa mereka tampak lebih selektif dibandingkan dengan hewan ternak lain? Apakah ini sekadar soal selera atau ada mekanisme alami yang bekerja di baliknya? Untuk memahami kebiasaan kambing lebih suka makan daun daripada rumput, mari telusuri penjelasan di bawah ini.

1. Kambing bukan “grazer”, tapi “browser”

Kambing (pixabay.com/byss)

Dalam dunia hewan pemamah biak, ada dua tipe pemakan tumbuhan, yaitu grazer dan browser. Sapi dan domba termasuk grazer karena fokus pada rumput. Sementara kambing masuk kategori browser, hewan yang lebih suka memakan daun, pucuk, atau semak-semak. Pola ini bukan kebetulan, melainkan adaptasi ekologis.

Sebagai browser, kambing memiliki leher lentur dan bibir yang lincah. Mereka bisa memilah daun tertentu dengan presisi tinggi. Bahkan, dengan gerakan kecil nan cekatan, kambing dapat menyelipkan moncongnya di antara ranting dan duri untuk mengambil pucuk yang paling segar.

2. Daun kaya akan nutrisi

Kambing (unsplash.com/Ed Wingate)

Daun, terutama yang masih muda, umumnya mengandung protein yang lebih kaya dibandingkan dengan rumput tua. Kandungan nutrisi inilah yang bikin kambing tertarik. Mereka secara naluriah memburu sumber makanan dengan kualitas terbaik demi memenuhi kebutuhan tubuh.

Dilansir laman Food and Agriculture Organization (FAO), kambing mampu memanfaatkan beragam vegetasi, termasuk daun dan semak dengan nilai gizi yang melampaui rumput kering. Artinya, pilihan terhadap daun bukan semata-mata perkara rasa. Ada pertimbangan pemenuhan energi maupun asupan nutrisi yang seimbang di balik kebiasaan itu.

3. Struktur mulut kambing mendukung seleksi daun

Kambing (pexels.com/Pixabay)

Coba perhatikan bentuk mulut kambing. Bibir atasnya terbelah dan sangat fleksibel. Struktur ini memudahkan kambing menjepit daun kecil atau pucuk muda dengan akurat. Gigi seri bawah yang tajam juga membantu memotong daun dan ranting lunak. Berbeda dengan sapi yang mencabut rumput sekaligus, kambing cenderung memilih satu per satu.

4. Insting bertahan hidup di lingkungan kering

Kambing gunung (pexels.com/Artur Roman)

Secara historis, leluhur kambing domestik, Capra aegagrus, hidup di wilayah pegunungan berbatu dan kering di Asia Barat. Padang rumput luas jarang ditemukan. Sebaliknya, semak dan daun pohon menjadi sumber pakan utama. Adaptasi ini pun terbawa hingga ke kambing modern.

Di lingkungan keras, tanaman semak sering lebih tahan daripada rumput. Daunnya tetap tersedia meski tanah kurang subur. Karena itu, insting mencari daun menjadi bagian dari perilaku alami kambing.

5. Variasi rasa dan kandungan kimia tanaman

Kambing (pexels.com/Tatiana Travel)

Kambing juga peka terhadap rasa dan kandungan kimia tanaman, seperti tanin dan alkaloid. Mereka bisa mengatur konsumsi agar tidak berlebihan pada satu jenis tanaman saja. Pola ini berguna untuk menghindari keracunan sekaligus menjaga keseimbangan nutrisi.

Daun dan pucuk tanaman menawarkan variasi rasa yang lebih kompleks alih-alih rumput datar. Ada sensasi pahit, manis, sampai sedikit sepat dari senyawa alami tumbuhan. Kombinasi inilah yang membantu kambing mendapatkan asupan mineral yang berbeda.

6. Rumput bukan tidak disukai, hanya bukan prioritas

Kambing (unsplash.com/Richard Lin)

Bukan berarti kambing anti rumput. Mereka tetap memakannya, apalagi jika pilihan daun terbatas. Namun, ketika diberi opsi, daun dan semak hampir selalu jadi target utama. Makanya, peternak kerap mengombinasikan rumput dengan daun leguminosa serta hijauan lain supaya pola pakan mendekati kebiasaan alami kambing.

Jadi, kenapa kambing lebih suka makan daun daripada rumput? Jawabannya ada pada sejarah evolusi, struktur tubuh, serta kebutuhan nutrisinya. Sekarang, kamu tak perlu lagi bingung kalau menemui kondisi kambing yang ogah makan rumput. Ini dikarenakan mereka merupakan hewan browser atau pemakan daun, pucuk, atau semak-semak.

Referensi

Mahdy, M. A., Mohamed, S. A., & Abdalla, K. E. (2020). Morphological investigations on the lips and cheeks of the goat (Capra hircus): A scanning electron and light microscopic study. Microscopy Research and Technique, 83(9), 1095-1102. Diakses Februari 2026.

Cellier, M., Nielsen, B. L., Duvaux-Ponter, C., Freeman, H. B., Hannaford, R., Murphy, B., ... & Zobel, G. (2022). Browse or browsing: Investigating goat preferences for feeding posture, feeding height and feed type. Frontiers in Veterinary Science, 9, 1032631. Diakses Februari 2026.

Dias-Silva, T. P., & Abdalla Filho, A. L. (2021). Sheep and goat feeding behavior profile in grazing systems. Acta Scientiarum. Animal Sciences, 43, e51265. Diakses Februari 2026.

Luginbuhl, J. M., Poore, M., Mueller, P., & Green, J. (2000). Forage needs and grazing management for meat goats in the humid southeast. Animal Science Facts Series). North Carolina State Extension. Diakses Februari 2026.

Provenza, F. D., Burritt, E. A., Clausen, T. P., Bryant, J. P., Reichardt, P. B., & Distel, R. A. (1990). Conditioned flavor aversion: a mechanism for goats to avoid condensed tannins in blackbrush. The American Naturalist, 136(6), 810-828. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team