ilustrasi tangan (pexels.com/Pixabay)
Seorang kerabat kecil yang kurang dikenal mungkin menjadi pengecualian yang membuktikan aturan tersebut. H. floresiensis–yang disebut "hobbits" dari Indonesia–hanya memiliki preferensi yang sangat ringan terhadap salah satu tangan, sekitar setara dengan simpanse modern (Pan troglodytes).
Hal ini dapat mendukung hipotesis para peneliti bahwa otak yang besar dan berjalan tegaklah yang mendorong preferensi tangan. Lagipula, hobbit-hobbit ini masih memiliki otak yang relatif kecil dan belum sepenuhnya meninggalkan kebiasaan memanjat pohon mereka
Secara keseluruhan, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan untuk sangat menyukai salah satu tangan terjadi dalam dua tahap.
Pertama, nenek moyang kita mulai berjalan tegak, yang membebaskan anggota tubuh depan mereka untuk melakukan tugas lain dan memungkinkan tangan berevolusi menjadi alat sensitif untuk kontrol motorik halus yang kita andalkan saat ini.
Hewan lain dapat memiliki preferensi terhadap mata atau anggota tubuh di satu sisi daripada sisi lainnya, dan penelitian menunjukkan bahwa mereka yang demikian cenderung lebih unggul dalam tugas-tugas bertahan hidup. Mungkin nenek moyang manusia purba juga memperoleh keunggulan dari bias tangan bebas jenis awal ini.
Namun, mengapa kemudian 90 persen dari kita 'memilih' tangan kanan, padahal seharusnya hal ini semata-mata bergantung pada keberuntungan?
Hal ini mungkin berkaitan dengan cara otak kita yang besar terhubung, sehingga setiap belahan otak mengkhususkan diri pada tugas yang berbeda. Seiring berkembangnya efisiensi saraf ini dan semakin besarnya otak, preferensi tangan kanan mungkin telah tertanam dan menandai tahap kedua dalam perkembangan preferensi tangan ini.