Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Mountain Gorilla, Primata Langka Penghuni Pegunungan Afrika

5 Fakta Mountain Gorilla, Primata Langka Penghuni Pegunungan Afrika
Mountain Gorilla (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)
Intinya Sih
  • Populasi mountain gorilla hanya sekitar 1.004 ekor, menjadikannya sangat langka dan rentan akibat perburuan liar serta konflik di wilayah habitatnya.
  • Primata ini beradaptasi dengan suhu dingin lewat bulu tebal dan tubuh besar, hidup tenang di pegunungan tinggi sambil bergantung pada vegetasi hutan sebagai sumber makanan.
  • Struktur sosial mereka dipimpin silverback yang melindungi kelompok, sementara kemiripan DNA dengan manusia membuat mereka rentan terhadap penyakit dari interaksi wisatawan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mountain Gorilla (Gorilla beringei beringei) menghuni hutan terpencil berkabut tebal di wilayah Afrika Tengah. Mereka hidup di kawasan pegunungan dengan ketinggian ribuan meter, seperti Pegunungan Virunga dan Taman Nasional Bwindi, dua tempat terakhir di dunia yang menjadi rumah bagi spesies ini.

Meski memiliki tubuh besar dan tenaga yang luar biasa, mountain gorilla dikenal sebagai makhluk yang tenang. Mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan mencari makan berupa dedaunan di lereng hutan yang dingin. Sayangnya, populasi mereka yang sangat terbatas membuat setiap kelahiran di alam liar menjadi hal yang sangat berharga bagi kelangsungan spesies ini. Yuk, simak fakta-fakta menariknya supaya kamu makin kenal dengan primata hebat ini!

1. Jumlah populasi yang sangat kritis hanya sisa seribu ekor

Mountain Gorilla
Mountain Gorilla (commons.wikimedia.org/flowcomm)

Berada di ambang kepunahan membuat setiap individu dari kera besar ini sangat berarti bagi keseimbangan ekosistem. Dilansir laman WWF Guianas, meskipun trennya perlahan menunjukkan peningkatan, jumlah populasi mountain gorilla di habitat aslinya saat ini hanya sekitar 1.004 individu. Angka yang sangat kecil ini membuat mereka tetap berada dalam kondisi rentan, karena satu gangguan besar pada habitat bisa langsung mengancam kelangsungan hidupnya.

Kelangkaan ini dipicu oleh banyak hal, mulai dari perburuan liar menggunakan jerat kawat hingga adanya konflik bersenjata yang sering terjadi di wilayah perbatasan tempat mereka tinggal. Tim konservasi di lapangan harus bekerja ekstra keras setiap hari untuk mencabut ratusan jerat yang sebenarnya dipasang untuk kijang namun sering kali melukai atau membunuh bayi gorila.

2. Punya fisik khusus untuk bertahan di suhu dingin pegunungan

Mountain Gorilla
Mountain Gorilla (commons.wikimedia.org/Rod Waddington)

Hidup di dataran tinggi membuat mountain gorilla memiliki adaptasi tubuh yang berbeda dibandingkan gorila dataran rendah. Dilansir laman National Geographic, mereka memiliki bulu yang lebih panjang dan tebal untuk menahan suhu dingin serta ukuran tubuh yang lebih besar untuk menjaga panas tubuh tetap stabil di lingkungan ekstrem.

Selain itu, mereka juga memiliki pola makan vegetarian dengan mengonsumsi akar, pucuk, buah, hingga kulit kayu yang melimpah di habitatnya. Meskipun dikenal sangat kuat dan mampu menghancurkan benda di sekitarnya, primata ini cenderung bersifat tenang dan jarang menunjukkan agresi selama tidak merasa terancam.

Namun, perubahan lingkungan akibat kerusakan hutan membuat kemampuan adaptasi mereka semakin terbatas, terutama ketika harus berpindah ke wilayah yang lebih tinggi dan lebih dingin untuk bertahan hidup.

3. Struktur sosial yang dipimpin oleh sang silverback

Silverback Mountain Gorilla
Silverback Mountain Gorilla (commons.wikimedia.org/Carine06)

Dalam satu kelompok yang bisa berisi sampai 30 individu, ada aturan sosial yang sangat menarik untuk diperhatikan. Masih dari laman National Geographic, kelompok ini dipimpin oleh satu jantan dewasa dominan yang punya rambut perak di punggungnya atau sering disebut silverback. Pemimpin ini punya otoritas penuh untuk mengatur jadwal makan, waktu tidur dalam sarang daun, hingga arah pergerakan kelompok di wilayah jelajah mereka.

Jika ada jantan lain yang berani menantang, sang pemimpin tidak segan untuk menunjukkan kekuatannya lewat aksi berdiri tegak, memukul dada dengan keras, hingga mengeluarkan raungan yang sangat menakutkan. Tugas beratnya adalah memastikan keselamatan seluruh anggota, mulai dari jantan muda, para betina, hingga bayi-bayi kecil yang sedang tumbuh.

4. Masa pertumbuhan bayi yang mirip dengan manusia

Bayi Mountain Gorilla
Bayi Mountain Gorilla (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Proses reproduksi mountain gorilla berlangsung cukup lambat karena induk betina hanya melahirkan satu bayi setelah masa kehamilan sekitar sembilan bulan. Masih dari laman National Geographic, bayi gorila yang baru lahir memiliki berat sekitar 1,8 kilogram dan sepenuhnya bergantung pada induknya untuk bertahan hidup.

Seiring bertambahnya usia, mereka mulai belajar bergerak dengan menaiki punggung induknya dan tetap berada di dekatnya hingga beberapa tahun pertama kehidupannya. Anak gorila juga menunjukkan perilaku sosial yang aktif, seperti bermain, memanjat, kejar-kejaran, hingga berinteraksi dengan sesama dalam kelompoknya.

Perilaku ini sering kali terlihat mirip dengan anak manusia, terutama dalam hal rasa ingin tahu yang tinggi dan cara mereka belajar dari lingkungan sekitar melalui interaksi dan permainan.

5. Rentan terhadap penyakit karena kemiripan DNA dengan manusia

Mountain Gorilla
Mountain Gorilla (commons.wikimedia.org/Diego Delso)

Kedekatan genetik antara manusia dan gorila membuat mereka sangat rentan terhadap penyakit yang berasal dari manusia. Dilansir laman WWF UK, gorila memiliki sekitar 98 persen DNA yang sama dengan manusia, sehingga sistem tubuh mereka bisa terpengaruh oleh penyakit yang bagi manusia tergolong ringan. Akibatnya, penyakit seperti flu atau batuk biasa dapat berakibat fatal bagi satu kelompok gorila jika terjadi penularan.

Hal ini menjadi alasan mengapa aktivitas wisata seperti trekking gorila memiliki aturan yang sangat ketat, termasuk menjaga jarak dan menggunakan perlindungan tertentu. Perlindungan terhadap habitat serta pembatasan interaksi langsung dengan manusia menjadi kunci penting dalam menjaga kelangsungan hidup spesies ini di alam liar, sekaligus memastikan mereka tetap bisa bertahan di lingkungan aslinya.

Angka sekitar seribu ekor menunjukkan bahwa keberadaan mountain gorilla sebagai primata langka penghuni pegunungan Afrika masih berada dalam kondisi rentan. Mereka sangat bergantung pada kelestarian hutan pegunungan yang menjadi satu-satunya tempat hidupnya. Upaya pelestarian habitat menjadi kunci utama agar spesies ini tetap bertahan di alam liar dan tidak hilang dari lanskap pegunungan Afrika di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Related Articles

See More