Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Air Laut Bisa Tiba-tiba Berubah Menjadi Hijau?

4 min read
Kenapa Air Laut Bisa Tiba-tiba Berubah Menjadi Hijau?
ilustrasi air laut berwarna hijau (pexels.com/Lum3n)
  • Air laut dapat berubah hijau akibat ledakan fitoplankton; klorofilnya memantulkan cahaya hijau ketika populasinya meningkat hingga miliaran individu.

  • Hujan deras, limpasan nutrisi dari daratan, upwelling, suhu, cahaya matahari, dan arus dapat mempercepat pertumbuhan fitoplankton di pesisir.

  • Warna hijau tidak selalu berbahaya, tetapi dapat terkait alga beracun atau kekurangan oksigen; hindari berenang bila disertai bau, ikan mati, atau peringatan otoritas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Air laut biasanya identik dengan warna biru. Namun, dalam kondisi tertentu, air laut bisa tiba-tiba berubah menjadi hijau, bahkan menyerupai warna matcha. Fenomena ini terkadang terlihat di kawasan pesisir dan dapat berlangsung selama beberapa hari. Perubahan warna yang cukup mencolok tersebut tentu membuat banyak orang penasaran dengan penyebabnya.

Ternyata, air laut yang berubah menjadi hijau sering kali berkaitan dengan peningkatan jumlah organisme mikroskopis bernama fitoplankton. Meski ukurannya sangat kecil, organisme ini dapat memengaruhi warna perairan ketika jumlahnya meningkat drastis. Lantas, apa yang menyebabkan fitoplankton berkembang begitu cepat dan apakah perubahan warna air laut ini berbahaya?

  1. 1. Ledakan populasi fitoplankton menjadi penyebab utamanya

    Salah satu penyebab utama air laut berubah menjadi hijau adalah fenomena phytoplankton bloom atau ledakan populasi fitoplankton. Fitoplankton merupakan organisme mikroskopis yang hidup melayang di perairan dan mampu melakukan fotosintesis.

    Seperti tumbuhan di darat, sebagian besar fitoplankton memiliki klorofil yang berfungsi menyerap energi cahaya matahari. Pigmen ini menyerap cahaya merah dan biru, sehingga cahaya hijau lebih banyak dipantulkan atau dihamburkan.

    Saat jumlah fitoplankton meningkat hingga mencapai miliaran individu, warna air laut pun bisa terlihat lebih hijau. Konsentrasi klorofil di permukaan laut menjadi salah satu indikator yang digunakan ilmuwan untuk mengetahui kelimpahan fitoplankton.

  2. 2. Curah hujan dan nutrisi dapat memicu perubahan warna

    Ledakan populasi fitoplankton tidak terjadi begitu saja. Organisme ini membutuhkan cahaya matahari dan nutrisi, terutama nitrogen serta fosfor, untuk tumbuh dan berkembang biak.

    Hujan deras dapat membawa nutrisi dari daratan menuju laut melalui aliran sungai. Limpasan pupuk pertanian dan bahan organik juga dapat meningkatkan kandungan nutrisi di kawasan pesisir. Ketika pasokan nutrisi melimpah, fitoplankton berpeluang berkembang biak dengan cepat.

    Selain itu, ada fenomena upwelling, yaitu naiknya massa air dari kedalaman laut menuju permukaan. Air dari lapisan dalam biasanya membawa nutrisi yang dibutuhkan fitoplankton.

    Suhu air, intensitas cahaya matahari, dan kondisi arus turut memengaruhi pertumbuhan organisme ini. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat perubahan warna laut terkadang terjadi dalam waktu relatif singkat.

  3. 3. Tidak semua air laut berwarna hijau memiliki penyebab yang sama

    pexels-agustin-grimaldi-57404119-13161442.jpg
    ilustrasi air laut berwarna hijau (pexels.com/Agustín Grimaldi)

    Menariknya, warna hijau pada air laut tidak selalu terlihat seragam. Ada perairan yang berubah menjadi hijau terang, hijau kebiruan, hingga hijau pekat.

    Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis dan jumlah fitoplankton, keberadaan sedimen, serta bahan organik terlarut. Air laut yang mengandung banyak partikel tersuspensi juga dapat memiliki warna berbeda dibandingkan perairan yang relatif jernih.

    Dalam beberapa kasus, organisme seperti Noctiluca scintillans dapat menyebabkan perubahan warna yang mencolok ketika populasinya meningkat. Organisme ini termasuk dinoflagelata dan memiliki karakteristik berbeda dari fitoplankton fotosintetik pada umumnya.

    Karena itu, warna air saja tidak cukup untuk memastikan organisme yang menyebabkan perubahan tersebut. Peneliti biasanya membutuhkan pengamatan sampel air untuk mengetahui penyebab pastinya.

  4. 4. Apakah air laut yang berubah menjadi hijau berbahaya?

    Air laut berwarna hijau tidak selalu menandakan pencemaran atau kondisi berbahaya. Sebagian ledakan populasi fitoplankton merupakan proses alami yang berlangsung sementara.

    Namun, ada pula fenomena yang disebut harmful algal bloom (HAB), yaitu ledakan populasi alga yang dapat membahayakan lingkungan atau kesehatan. Beberapa spesies menghasilkan racun yang berisiko bagi hewan laut maupun manusia.

    Selain itu, ketika fitoplankton dalam jumlah besar mati dan terurai, proses penguraiannya dapat menghabiskan oksigen terlarut. Kondisi ini berpotensi menyebabkan ikan mati karena kekurangan oksigen.

    Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menganggap air laut berwarna hijau aman untuk berenang. Terutama jika perubahan warna disertai bau menyengat, ikan mati, atau peringatan dari otoritas setempat.

  5. 5. Perubahan warna laut juga bisa menjadi petunjuk kondisi lingkungan

    Fitoplankton memiliki peran penting dalam ekosistem laut. Organisme ini menjadi dasar rantai makanan bagi berbagai hewan laut sekaligus membantu menyerap karbon dioksida melalui fotosintesis.

    Meski demikian, perubahan kelimpahan fitoplankton juga dapat mencerminkan perubahan kondisi lingkungan. Peningkatan suhu laut, perubahan pola hujan, serta masuknya nutrisi berlebihan dari aktivitas manusia dapat memengaruhi pertumbuhannya.

    Perubahan warna laut menunjukkan adanya pergeseran kondisi ekosistem laut, meskipun tidak semuanya berarti air berubah menjadi hijau secara kasatmata. Pengamatan ini membantu ilmuwan memahami perubahan ekosistem sekaligus mendeteksi kemungkinan ledakan populasi alga.

    Jadi, air laut yang tiba-tiba berubah menjadi hijau umumnya berkaitan dengan meningkatnya jumlah fitoplankton, meskipun faktor lain juga dapat memengaruhi warnanya. Fenomena ini bisa menjadi bagian dari proses alami, tetapi tetap perlu diperhatikan karena dalam kondisi tertentu dapat menandakan gangguan kualitas perairan.

    Referensi

    NASA. Diakses pada Oktober 2026. A Sea Aswirl With Chlorophyll
    NASA. Diakses pada Oktober 2026. Climate Change Lends New Color to the Ocean
    Reader's Digest. Diakses pada Oktober 2026. It’s Not Your Imagination: The Ocean Is Getting Greener—Here’s Why
    World Economic Forum. Diakses pada Oktober 2026. The Ocean is Turning Green: What Does This Mean for The Marine Ecosystem?

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More